MENEMUKAN MODEL KEKUASAAN POLITIK YESUS

210
Paus Fransiskus membasuh kaki narapidana, sebuah simbol pelayanan.

Simply da Flores, Harmony Intitute

TEMPUSDEI.ID (14/1/22)-Politik itu dari kata polis – bahasa Yunani, artinya kota. Kota ini adalah wilayah yang memiliki penduduk dan penguasanya.

Dalam dunia sekarang, politik sangat berhubungan dengan kekuasaan jabatan dalam sebuah  wilayah negara dan antar negara. Para politikus berkiprah untuk memperebutkan kursi jabatan – kekuasaan, dengan berbagai cara dan strategi.

Dalam konteks politik yang demikian, lahir berbagai model kekuasaan politik. Ada model otoriter militeristik, model hirarkhis kerajaan, model demokratisasi terpimpin, model demokrasi barat dan ada model “campur sari” dinamis.

Terlepas dari Yesus adalah tokoh sentral Iman Kristiani, sosok Yesus, menurut saya adalah seorang Pemimpin Politik dunia. Historis Yesus  di Yerusalem wilayah Kekaisaran Yudea. Namun, kekuasaan politik-Nya lintas wilayah di seluruh dunia sampai sekarang. Karena itu, saya coba mencatat beberapa hal yang berkaitan dengan model Kekuasaan Politik Yesus.

 Pertama, Kekuasaan Politik Karismatik Natural. Seperti diberitakan Injil, Yesus adalah sosok pemimpin politik yang dijanjikan Allah dari keturunan Daud, bagi bangsa Israel. Yesus dinantikan untuk membawa keadilan dan kesejahteraan, seperti zaman Raja Daud dan Salomon.

Ketika Yesus lahir, lahir juga kontroversi bagi bangsa Israel. Mengapa bukan dari Istana, tetapi dari dusun Nazareth dan seorang gadis sahaja?

Dan, yang paling menarik dalam konteks politik adalah kunjungan Tiga Raja dari Timur serta reaksi Raja Herodes.

Mengapa Tiga Raja dari Timur datang menyembah bayi Yesus dan membawa semacam upeti? Pertanyaan politisnya, siapakah Yesus dan apa pengaruh-Nya bagi kekuasaan ketiga Raja itu. Apa yang Tiga Raja itu dapat dari bayi Yesus untuk kepentingan kekuasaan mereka?

Lalu soal reaksi Raja Herodes. Karena tidak dikunjungi lagi oleh Tiga Raja setelah bertemu bayi Yesus – Sang Raja Israel, maka  Raja Herodes perintahkan pembantaian balita laki-laki di seluruh wilayah kekuasaannya.

Mengapa seorang Raja Herodes begitu cemas dengan seorang bayi Yesus, yang dikatakan Tiga Raja sebagai “telah lahir seorang Raja” di kota Daud. Secara faktual, apakah yang menjadi ancaman kekuasaan terhadap Raja Herodes dari seorang bayi miskin, yang lahir di kandang, bayi Yesus.

Kedua, masa kecil Yesus, tidak banyak diceritakan Injil. Namun, peristiwa pada umur 12 tahun di Bait Allah, Yesus berdiskusi dengan para ahli taurat. Sosok pribadi Yesus yang genius dan tahu tentang sejarah bangsa Israsel dan hal spiritual. Ada pendidikan alamiah dan karismatik dalam pribadi Yesus. Lalu, “hilang” cerita tentang Yesus selama 18 tahun, entah ke mana.

Ketiga, persiapan berkarya dan deklarasi Politik. Yesus berkarya sejak umur 30 tahun dan hanya 3 tahun karya-Nya, dengan akhir yang tragis. Dihukum dan salibkan oleh para lawan politik-Nya.

Untuk memulai karya, Yesus mempersiapkan diri dengan berpuasa. Ada sebuah model pembekalan diri pribadi dalam berbagai aspek selama 40 hari. Ada pecobaan dan godaan Iblis, ada ujian soal visi misi model kekuasaan politik yang akan dijalankan Yesus.

Deklarasi di Sungai Yordan oleh Yohanes, kepada berbagai pihak yang mendengarkan khotbahnya. Bahwa Yesus adalah Putra Surga, yang mempunyai kuasa lebih tinggi atas semua hal di bumi dan di surga. Yohanes  adalah pribadi yang disegani sebagai tokoh oposisi pemerintah, yang membongkar kebejatan Raja Herodes, seperti kasus selingkuh dengan istri Herodias. Yohanes mengakui ketokohan Yesus, padahal Yesus belum berkarya.

Lalu deklarasi pribadi Yesus di Bait Allah saat ibadah, dan Yesus membaca gulungan Alkitab. “Pada saat bagian Alkitab ini dibacakan, maka isinya digenapi”. Deklarasi diri sebagai Raja Israel yang dijanjikan Allah. Maka, dendam lama terungkap. Dendam para penguasa dan ahli Taurat itulah yang kemudian memuncak pada kepala Yohanes Pembaptis dipenggal dan Yesus dihukum mati di salib.

Keempat,  karya politik Yesus. Untuk menciptakan keadilan dan kesejahteraan bagi kehidupan manusia, Yesus mewartakan Kerajaan Allah. Penegasan mutlaknya kehidupan manusia untuk menuruti Kehendak Allah.

Hukum Kerajaan Allah, yaitu Cinta Kasih. Manusia harus taat mutlak pada hukum cinta kasih, agar mendapat pembebasan dari berbagai belenggu dan ketidak-adilan, baru bisa sejahtera rohani jasmani, di dunia dan akhirat. Inilah prinsip, visi dan misi Kekuasaan Politik Yesus.

Atas dasar kebenaran itulah, Yesus mengkritik keras para penguasa dan ahli taurat, atas berbagai fakta kekuasaan yang tidak benar. Yesus juga berkarya dengan posisi keberpihakan pada mereka yang lemah dan menderita. Orang sakit, mereka yang disingkirkan, yang miskin serta yang diperlakukan tidak adil oleh para penguasa serta kroninya; para tokoh agama dan kaum farisi.

Ada dua pernyataan kritik Yesus yang terkenal, yakni “Kalian seperti kubur, di luarnya putih dan di dalam penuh tulang belulang”. Dan, “Berikan kepada Allah, apa yang menjadi hak Allah. Berikan kepada kaisar, apa yang menjadi hak kaisar”.

Kritik tersebut berdasarkan hukum cinta kasih dalam Kerajaan Allah yang diwartakan Yesus.

Dalam konteks Indonesia, menurut saya, Yesus menegaskan tentang penghayatan dan pelaksanaan isi Pancasila, serta penggalan teks lagu Indonesia Raya: “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya…”. Prinsip kekuasaan politik adalah memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan publik secara utuh, yakni jiwa dan raganya, berdasarkan Ketuhanan yang Maha Esa. Jadi, bukan slogan dan verbalisme.

Model politik Yesus, yang menyatakan kebenaran hakiki dan berpihak kepada rakyat yang menderita, justru menjadi ancaman bagi kekuasaan Kaisar dan gubernur Pilatus, serta kemapanan para tokoh agama dan kaum farisi. Kaum Farisi adalah  kelompok oportunis penjilat kekuasaan dan tokoh agama, lalu menindas rakyat.

Kelima, introspeksi dan evaluasi diri dengan doa. Dalam karya Polokitik-Nya, Yesus selalu mengandalkan kekuatan spiritual, hubungan khusus dengan Sang Pencipta. Maka, injil menceritakan bahwa setelah berkarya siang hari, pada malam hari Yesus mencari tempat sepi untuk berdoa, dan beristrahat dengan para rasul-Nya. Ada pertemuan tim kerja untuk introspeksi dan evaluasi, lalu mengisi kekuatan kerja politik dengan Doa. Jadi, bukan strategi untuk korupsi, mempertahankan kekuasaan dan menjatuhkan lawan politik.

Keenam, soal materi dan harta kekayaan. Sebagai tokoh politik, Yesus tidak berjuang merebut takhta kekuasaan dan  mengumpulkan harta kekayaan. Yang dilakukan adalah memperjuangkan keadilan dan kebenaran hakiki bagi semua orang, agar cara hidup harus sesuai dengan kehendak Allah, demi mendapatkan kesejahteraan rohani jasmani; baik di dunia maupun akhirat.

Penegasan prinsip politik Yesus ini, antara lain dituliskan Injil, yang terkenal dengan Kotbah di Bukit. Ajaran tentang keutuhan jiwa raga manusia dalam kehidupan. Itulah yang harus diteladankan dan diperjuangkan dalam kekuasaan Politik.

Yesus tidak punya harta kekayaan, istana, kemegahan material kekuasaan dan tahta. Kata Yesus sendiri, “Burung mempunyai sarang, serigala mempunyai liang, tetapi Anak Manusia, tidak mempunyai tempat untuk meletakkan alas kepala”.

Teladan Yesus sebagai tokoh politik dunia, bukannya tidak memerlukan sarana kehidupan, tetapi model kekuasaan politik yang melayani publik serta memperjuangkan keadilan dan kebenaran hakiki. Karena itulah yang menjamin kesejahteraan kehidupan jiwa raga, di dunia hingga akhirat. Bukan kekuasaan politik untuk merebut harta kekayaan, menghalalkan segala cara untuk kesenangan pribadi dan kelompok, atau kekuasaan politik verbalistik yang menindas rakyat.

 Ketujuh konsekuensi tragis dan tegaknya kebenaran. Injil menuliskan kisah tragis Yesus dihukum mati di salib, melalui sebuah persekongkolan para farisi, ahli taurat, tokoh agama dan penguasa politik. Kemapanan kekuasaan politik yang menindas rakyat akhirnya memilih cara tragis menghabiskan karya politik kekuasaan versi Yesus. Konsekuensi yang berat yakni korban jiwa raga demo menegakkan prinsip, visi dan misi politik kekuasaan yang adil dan benar.

Kebenaran pasti cemerlang dan terus bersinar, tetapi para pejuangnya dalam politik kekuasaan sering menjadi korban, termasuk Yesus.

Itulah beberapa hal yang bisa dicatat sebagai model politik kekuasaan versi Yesus. Sebuah prinsip, visi dan misi politik untuk menegakkan keadilan dan kebenaran, bagi semua manusia dalam totalitasnya, rohani jasmani, baik di dunia dan akhirat.

Menurut saya, untuk kita di Indonesia, kita sudah mempunyai model ideal dengan prinsip, visi dan misi bernegara di NKRI. Pancasila, UUD 45, lambang negara dan semboyan bhinneka tunggal Ika, bendera negara dan lagu kebangsaan, teks proklamasi serta kekayaan kearifan lokal adat budaya di seluruh tanah air Indonesia. Problemnya adalah belum dipahami, dihayati dan dilakukan secara serius, konsisten dan maksimal.