Gara-gara Bayi Yesus, Terjadi Pembunuhan Bayi secara Massal?

140
Visualisasi Yesus mengungsi ke Mesir karena ancaman pembunuhan. (ist)

Simply da Flores, Harmony Institute

TEMPUSDEI.ID (4/1/22)-Setelah perayaan Natal, hari ulang tahun kelahiran Yesus, di dalam tradisi Gereja Katolik ada perayaan Tiga Raja.  Kedatangan Tiga Raja dari Timur, membawa persembahan: mur, emas dan dupa.

Tiga Raja dari Timur dipandu oleh bintang. Dari Timur mana, tidak dijelaskan khusus tempatnya. Dari mana mengetahui kelahiran bayi Yesus, juga tidak diceritakan Injil. Saat itu belum ada Medsos dan “Mbah google”. Ada misteri dan menarik direnungkan.

Yang lebih menarik adalah soal kunjungan Tiga Raja tersebut kepada Raja Herodes, dan setelah bertemu bayi Yesus, pulangnya tidak lagi singgah ke Raja Herodes. Lalu, Injil menceritakan reaksi Raja Herodes, yang memerintahkan untuk membunuh semua balita laki-laki di wilayah Judea, tempat kekuasaannya. Bayi Yesus luput karena dituntun Roh Kudus hijrah ke Mesir. Atas kasus pembunuhan massal itu, mengapa terjadi? Apakah gara-gara bayi Yesus?

Berfokus pada Bayi Yesus

Misteri karya keselamatan Allah, tidak bisa tuntas dipahami pikiran kita manusia. Sangat banyak pertanyaan, dan semua bermuara pada “terjadilah menurut kehendak Allah”. Mengapa gadis dusun Nazareth, Maria, yang dipilih Allah. Maria mengandung dari Roh Kudus dan melahirkan Sang Penebus, yang harus diberi nama Yesus. Yosef taat dan melakukan perintah Allah seperti yang dipesan Malaikat. Pilihan kelahiran bayi Yesus di kandang Bethlehem. Dan semua diimani dengan penegasan, “Bagi Allah, tidak ada yang mustahi”.  Maka, kehausan rasional manusia terjawab, karena akal manusia terbatas meskipun rasa kemauan ingin tahunya tidak terbatas.

Bayi Yesus telah lahir di kandang Bethlehem dan ada Tiga Raja dari Timur yang datang dan menyembah-Nya. Mereka bawa persembahan, dipandu bintang. Dari mana asal para Raja itu, Injil cuma menyebut dari Timur. Darimana mereka tahu tentang kelahiran bayi Yesus, Injil tidak menjelaskan.

Pertanyaan penting adalah, mengapa Tiga Raja dari Timur itu mau menyembah seorang bayi, Yesus, yang lahirnya di kandang dan ibunya seorang gadis dusun? Apa yang dicari dari bayi Yesus? Apa pengaruhnya bayi Yesus bagi kekuasaan di kerajaan mereka; Melkior, Baltasar, Gaspar? Patut direnungkan bahwa tidak mungkin ketiga Raja itu datang jauh-jauh menyembah dan membawa upeti, jika tidak ada alasan mendasar dan manfaat.

Mereka sebagai Raja, tidak “gila dan bodoh” mau datang mencari seorang bayi miskin di palungan, lalu menyembah-Nya. Inilah fakta dan sekaligis misteri. Ada teladan dan motivasi iman bagiku. Jika tiga Raja saja mau menyembah, lalu apakah saya tidak mau?

Saat ini, dalam lingkungan Gereja Katolik, anak-anak diajarkan melakukan kegiatan mengenang peristiwa Tiga Raja tersebut. Mereka mengunjungi rumah keluarga dan mewartakan bayi Yesus sebagai Imanuel, Raja Penebus telah lahir, dan datang mengetuk rumah keluarga agar membuka pintu jati menyambut Yesus Sang Raja Semesta Alam. Ada yang berperan jadi bintang, ada yang menjadi malaikat, ada tiga raja dan para pengiring lainnya dengan nyanyian Natal. Bayi Yesus menjadi fokus dan sumber perayaan iman hingga sekarang, bersama pesan kesaksian iman Tiga Raja dari Timur.

Herodes dan Perintah Pembunuhan Balita

Dari segi kewenangan, ya memang Herodes adalah Raja Jahudi saat itu. Maka para prajurit pasti mentaati perintah Sang Raja. Berapa banyak bayi laki-laki terbunuh, tidak disebutkan. Tapi nyawa manusia, maka satu bayi saja pun adalah sebuah kejahatan, karena membunuh bayi yang tak berdosa.

Secara emosional, mungkin ada kejengkelan terhadap Tiga Raja dari Timur, yang setelah menyembah bayi Yesus, tidak kembali bertemu Raja Herodes untuk melaporkan. Sementara, tiga Raja itu berjalan dipandu bintang ajaib. Mereka bisa disebut penyebab emosi Raja Herodes.

Dan kepada bayi Yesus, secara nyata tidak berhubungan sama sekali dengan Raja Herodes. Injil tidak menjelaskan apa pun tentang itu. Yosef dan Maria, dari Nazareth ke Yerusalem untuk cacah jiwa, lalu malamnya tidak mendapat penginapan, dan kemudian ke kandang Bethlehem. Bayi Yesus lahir di sana. Jelas, tidak ada hubungan dengan Raja Herodes.

Tetapi karena berita tiga Raja dari Timur, bahwa telah lahir di kota Daud, seorang bayi yang adalah Raja Israel dan Imanuel, maka informasi tentang bayi Yesus diketahui Raja Herodes. Maka, gara-gara bayi Yesus menjadi mungkin sebagai penyebab emosi dan kecemasan Raja Herodes. Lalu, lahirlah keputusan dan perintah melakukan pembunuhan massal balita laki-laki di seluruh wilayah kekuasaannya.

Raja Herodes merasa cemas dan terancam kekuasaannya, hanya karena berita lahirnya seorang bayi. Begitu mahal dan berharganya tahta kekuasaan sebagai Raja, maka para balita harus dibantai dan dihilangkan hidupnya. Para orang tua dan keluarga harus menjerit histeris, menyaksikan bayinya yang tak berdosa dimangsa pedang. Darah bersimbah dan raga terpisah, tanpa tahu alasannya, tapi harus terima kematian bayinya. Sulit dibayangkan tragis mencekamnya kedukaan seluruh wilayah, keluarga alami kematian bayinya demi kepentingan seorang Raja Herodes.

Catatan Refleksi

Begitu mahalnya tahta kekuasaan, gengsi dan harta kekayaan sehingga nyawa manusia pun dikorbankan. Sepanjang sejarah peradaban manusia, sebelum Raja Herodes dan sampai sekarang, di seluruh dunia masih terjadi. Tahta kekuasaan, gengsi dan harta kekayaan masih diperebutkan dan begitu menarik bagi manusia. Maka demi itu semua, manusia lain harus dikorbankan. Bahkan dilakukan oleh mereka yang mengaku pengikut Yesus. Sambil beribadah sebagai umat Kristiani, tetapi dalam kepentingan tahta kekuasaan dan harta kekayaan, tetap berani menindas dan membantai sesama.

Di negeri ini pun terjadi, pembantaian yang dipublikasi umum, maupun yang masih tertutup. Tragedi 30 September 1965 adalah fakta sejarah yang berkaitan dengan tahta kekuasaan dan harta kekayaan. Masih sampai sekarang, bayi Yesus, nama Yesus dan para pengikut-Nya dihujat dan berbagai tindak kekerasan dilakukan oleh mereka yang merasa tidak nyaman.

Semoga ke depan, para pencinta tahta dan kekuasaan serta harta kekayaan semakin beradab dan manusiawi.

Mungkin ini yang disabdakan Yesus: “Aku datang, bukan untuk membawa damai tetapi pedang”. Manusia harus membuat pilihan dan keputusan. Mengikuti Tiga Raja dari Timur yang datang mencari dan menyembah bayi Yesus, atau menolak bayi Yesus seperti Raja Herodes demi mempertahankan tahta kekuasaan dan kekayaannya? Mau memilih damai dan hukum cinta kasih, atau gengsi dan kepuasan selera jasmani.