Puisi-puisi Abdul Ghofar dari Yogyakarta

277
Abdul Ghofar

DI BAWAH ATAP NEGERI JARAHAN

genderang perang terlanjur ditabuh
bahtera pun telah lirih terkayuh
si gadis kecil berkerah merah
terkoyak rapuh bermandikan darah

terlalu sarat kelok yang ditempuh
lembah curam menganga siap merengkuh
menatap cakrawala penuh hampa
merindu deru secercah asa

saat hukum berkasta kelabu
mengapa jua dirgantara membisu?
di bawah atap negeri jarahan
si gadis meratap mengubur impian

Yogyakarta, 25-07-2021

LANGIT TANPA SEPOTONG SENJA

aku yang tak bisa menyapa
atau sengaja langit menyumpal telinga
gerombolan singa datang membabi-buta
memporak-porandakan tiang-tiang kata
hingga berjatuhan tanpa pernah menjadi frasa

aku yang tak sanggup mendengarkan
atau sengaja bumi membungkam lisan
kawanan macan meruak hingga pelosok jalan
memaksa ternak sembunyi kelaparan
kedinginan tanpa sehelai pengharapan

aku yang tak dapat melihat
ataukah senja, memang tiada terlihat
di saat langit tiba-tiba pekat
kemana manusia bermartabat?

Pati, 19-09-2021

DI BALIK CORETAN PENA

di balik coretan pena
ada air mata yang bercampur tinta
suburkan duri pada tepian kata
robekkan jemari abadikan luka

jangan saja dikira aku senang
sejujurnya telah lama tenangku hilang
di ranjang pelik aku terlelap
mendekap hening sunyi senyap

namun ingin sekali kau kubisiki
bahwasanya tiada bara sesejuk ini
dan bila detik tak kunjung pergi
ku kan tetap menulis lagi

Pati, 09-10-2021

SAJAK REMBULAN

dari balik kuas, kanvas, serta keheningan
kulukiskan wajahmu lewat sajak
bertemakan rembulan

kususuri hamparan samudra kata itu
sebelum akhirnya tenggelam
tergulung ombak biru matamu
untung saja raga ini tak berongga
sehingga tiada setetes buih
kuasa menggempur karang-karang dada

kala akhirnya sampailah aku
pada rimbun rindang rambutmu
tanpa bisikan pohon-pohon itu
pastinya jurang yang garang
telah utuh merengkuh jiwa

kutinggalkan kuas, kanvas, serta keheningan
bersama sepotong sajak
yang tiada akan pernah sempurna

Rembang, 16-10-2021

NOTA KOSONG

coba kau hitung lagi
berapa senja kau beli
berapa pelangi kau koleksi
serta berapa mentari
telah kau kantongi

sudah hilangkah ingatanmu
tentang benang kusut
yang kau sulam menjadi baju
lalu kemudian kau memakainya
kala menghadiri euforia pesta

sudah hilangkah makna lukisan
gunung, sungai, lembah, serta lautan
yang tiada habisnya kau dendangkan
dan kau sebut sebagai
kelopak mutiara peradaban

sudah hilangkah semua itu
sudah hilangkah aku

Pati, 17-10-2021

Abdul Ghofar, Mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta