Puisi-puisi Loberto Boli Koda Leyn

267
Loberto Boli Koda Leyn

Puisi-puisi Loberto Boli Koda Leyn

ADONARA

Adonara adalah tirai sakral
Bersahutan wajah ama dalam semak
Tebaskan benalu tak bertuan
Amarah tertimbun dahulu
Tidak merajut sendiri dalam lorong bodong

Adonara adalah ayah perang
Dahulu sajak berjatuhan sembari menuang
Tatapan tersisir rapi dalam klewang
Singkirkan dopi ketika mata berbicara damai
Akhir langkah berjinjit dengan lonceng

Adonara adalah simphony ina
Menyisir sembari bertabah dalam jiwa tertanam mahar
Ina hanya tertegun dalam debar tua menawar cinta
Sosok gading berselimut tak kala bunyi jumlah tuangkan
Ina berakhir dalam tumbukan dan tenun

Adonara adalah tajuk gemerincing
berpuisi malam sembari teringat setiap nama
Langkap berirama dengan kenube tua ayah yang tersiram luka lama
Ina besahutan dengan cantik kwatek beraroma jagung
Ama juga berjibaku dengan lonceng kaki dan dalam lapisan nowi’n

Batam’21

TANGIS SANGKAR

Melepas rintih dalam semak tawa
Alamat jiwa menguasai diri
Sangkar waktu terus menari
Semua jiwa terus menolak pergi.
Waktu kian menipis,
Hanya dua jiwa mencari jalan
Langka mengguyur langit
Rindu tersekat berlapis haru
Tanya waktu sewaktu doa
Tangis terkuras
Mata memberi pesan.
Mimpi dan doa berjalan
Seketika dua jiwa akan kuat
Langkah tersangkut bersama
Kuat dan bertakwa terlihat.

Batam’21

TEMBOK PAPAN

Pagi berselimut seragam merah puith
Terbangun dalam teduh mata ibu
Sepatu berteman dengan kerikil jalan
Pohon menutup panas langkah dua petarung
Dari mana roda dan mesin berteman,
Dua ribu mengikat pada angkutan kala itu.

Tahun itu mencari jalan hidup
Sebisa kotak mie berteman nyawa
Ketika gelap lari dalam gubuk papan
Lampu kota memuntahkan cahaya
Tetapi sang petarung tidak tergoda.

Waktu bersahutan menuju laut
Pangeran kecil tumbuh dalam hura
Sudah tercium harapan.
Bau tanah menyukur kantong,
Mengubah papan menjadi batu

Batam’21

TAKDIR KUNCI

Terlihat pada kerutan wajah
Memerah adalah pertanda marah.
Hanya sebatas marah yang terkurung.
Tidak terikat tapi terkunci.

Berhari-hari hanya menjadi asing.
Terkunci dalam ruang bertuan
bukan kemauan menjadi salah
takdir juga tidak bersalah.

Teror yang ada saat ingin menjadi baru.
Ucap salam saat terbuka besi lengan.
Mata menjadi memerah karna perjuangan.
Menjadi enggan bertatap sesama,
Hanya karna cerita belakang.

Batam’21

BARISAN TULANG

Masih menepi dalam barisan
Tertekan karena rasa ngilu
Setiap sudut kota murung
Teriakan itu bercampur aduk
Dalam penglihatan tertuang sumpah
Makian dari sudut kota mencari aroma
Barisan itu memburam
Dalam semat tertuang sajak
Pada nyawa merintih
Tertiup aroma asing
Mata dan langkah bertemu
Barisan tulang menyapa.

Batam’21

Loberto Boli Koda Leyn,
Mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta