Kematian, Memperingati Hari Arwah, 02 November 2021

512
Kata filsuf Heidegger, begitu lahir, manusia sudah terlalu tua untuk mati. Apa maksudnya?

Oleh Sobe Rengka Melkior, alumnus STFK Ledalero-Maumere dan CRCS UGM-Yogyakarta

Untuk mereka yang telah “pergi” dan kita yang akan menyusul. “Begitu manusia lahir,” kata Heidegger, “dia sudah terlalu tua untuk mati”.

TEMPUSDEI.ID (2/11/21)-Sebegitu ngerikah kalimat itu? Tidak. Kita umumnya memandang kematian sebagai akhir kehidupan. “Akhir” bukan dalam arti kualitatif, tapi kronologis. Kita melihat kematian ada di sana, dan kehidupan ada di sini. Ketika memikirkan kematian, yang ada di pikiran kita ialah sebuah jarak, sebuah ruang, yang memisahkan kehidupan dan kematian.

Bagi Heidegger, filsuf Jerman abad ke-20 yang merenungi kematian secara serius, kematian jangan dipikirkan seperti habisnya sebatang lilin dilalap api atau matinya listrik atau habisnya daya batrei ponsel Anda. Semua benda itu tidak mati. Binatang juga begitu. Mereka hanya berakhir. Hanya manusia yang mengalami kematian. Mengapa?

Manusia adalah gambaran dari sesuatu yang tak pernah selesai. Dia adalah kebeluman terus-menerus. Hari ini, seorang laki-laki berkata manis kepada Anda dan membuatmu jatuh cinta. Pacaran lalu menikah. Setelah menikah, tabiatnya mulai berubah. Yang manis berubah jadi getir. Cinta berubah jadi murka. Setelah beberapa tahun bersama, dia bilang dia bosan dengan pernikahan. Tanpa Anda tahu atau dengan sepengetahuan Anda, dia berselingkuh dengan teman kerjanya. Dia mungkin akan meminta cerai. Setelah cerai, dia mungkin juga menikah dengan kekasih barunya itu. Atau dia mungkin kembali dan menyatakan rasa sesal mendalam. Atau dia berpindah ke perempuan lainnya. Begitu seterusnya.

Hanya Manusia

Hanya manusia yang mengalami berbagai “kemungkinan” itu. Binatang tidak. Binatang bermetamorfosis, tapi dia tak mengalami kebeluman yang terus menerus. Setelah larva menjadi kupu-kupu, kupu-kupu itu sudah final. Setelah kecebong jadi katak, katak sudah final. Tapi manusia sulit diprediksi dan diidentifikasi sebab dia senantiasa berubah.

Itu sebabnya, filsuf ini menyebut manusia bukan dengan kata “manusia” melainkan dengan istilah Jerman, Dasein. Dasein tak berjenis kelamin: dia bukan laki-laki, orang saleh, penguasa, orang kaya, birokrat. Dasein adalah “ada-di-sana”. Dasein adalah ke-di-sana-an”.

Apa artinya? Pertama, keberadaan kita di dunia adalah sebuah keterlemparan. Kita ada di sini, di dunia, tapi kita tak pernah tahu dari mana kita datang, mengapa kita harus ada, ke mana kita pergi setelah mati dan mengapa kita harus pergi. Ini bukan pertanyaan teologis. Anda tak perlu buka Kitab Suci untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini.

Agama berupaya meyakinkan kita bahwa asal dan tujuan hidup di dunia adalah Tuhan. Namun, orang saleh sekalipun, jika jujur dengan dirinya, dia akan “meragukan sementara” keyakinan itu, terutama saat mengalami krisis dalam hidup. Menurut filsuf ini, keterlemparan adalah sesuatu yang ditemukan dalam kebeningan refleksi, yaitu ketika kita menaruh dalam tanda kurung semua kesadaran religius dan kultural yang kita miliki. Sebab bukankah semua kesadaran itu merupakan produk sosialisasi sejak kecil oleh orangtua, nenek moyang, tradisi atau kotbah-khotbah para pemimpin agama?

Kedua, keterlemparan itu bukan ketergeletakan. Benda-benda dan binatang tergeletak begitu saja di dunia. Tapi manusia tidak. Dia berekistensi, yang berarti dia selalu keluar dari dirinya sendiri (eks: keluar, sistere: berdiri). Dia tak pernah identik dengan dirinya, tetapi selalu berada di luar dirinya. Artinya dia tak pernah selesai.

Hidup Lebih Otentik

Menyadari keterlemparan tidak membuat hidup tampak absurd. Bagi Heidegger, menyadari keterlemparan justru membuat hidup lebih otentik. Tidak berdasarkan apa kata orang atau kata media. Di mana letak otentiknya? Yakni ketika kita mampu membangun proyeksi akan masa depan kita sendiri dalam sebuah momen radikal yang disebut keputusan eksistensial.

Semua cerita tentang kebeluman dan kemungkinan manusia itu baru berakhir di dalam kematian. Karena itu, kematian adalah kepenuhan atau totalitas dari ada dan kehidupan manusia. Baru dalam kematian, manusia menjadi final; manusia menjadi dirinya. Itu sebabnya, biografi jangan disusun selagi seseorang hidup. Biografi yang baik sebaiknya dibuat setelah seseorang mati. Itu sebabnya, jangan memuji seseorang terlalu tinggi atau menghinanya terlalu rendah ketika dia masih hidup. Sebab selama hidup, dia adalah kebeluman terus menerus, tak dapat diprediksi dan difinalkan. Baru setelah mati, seseorang itu sudah final.

Tapi kematian adalah titik nadir ontologis, sebuah keberakhiran dari ada-di-dalam-dunia. Agama meyakinkan kita tentang keabadian. Tetapi keabadian- sesuatu yang diyakini tak lekang yang di dunia antah berantah, yang kadang dibumbui cerita-cerita erotis kemolekan tubuh para bidadari– ada di luar jangkauan Dasein. Lugasnya, surga begitu pula neraka, adalah lokasi yang tak bisa ditampung dalam keterlemparan Dasein. Namun, ada ruang di mana manusia yang telah mati, meminjam istilah F. Budi Hardiman, bukan seonggok daging yang kaku melainkan almaharum bermartabat.

Keabadian di Sini

Ruang itu adalah ingatan manusia. Ya, “keabadian” itu juga ada. Tapi bukan keabadian religius, bukan keabadian yang ada di sana, di dunia antah berantah, melainkan keabadian di sini, dalam ingatan manusia tentang seseorang yang telah mati. Keabadian dalam pengertian ada dalam dunia bersama. Menurut Heidegger, kita bukan ego yang mengambang bebas, melainkan mitDasein: ada bersama yang lain dalam dunia bersama. Ingatan, pengalaman dan kisah hidup adalah jalan menuju kontak yang tak lekang dengan “ada” dan dunia dari orang yang telah mati. Memakai bahasa Budi Hardiman, itu semacam sedimentasi memori, ingatan yang mengendap, sebagai hasil kebiasaan kontak dengan orang yang telah pergi.

Dalam hal itu, orang yang telah mati, tidak tamat, melainkan kekal: kekal dalam ingatan. Jika keabadian menyangkut kenangan dan ingatan, maka kematian menantang manusia untuk memutuskan pilihan eksistensial: diingat sebagai manusia yang baik atau manusia yang buruk. Manusia yang hidup baik selama “ada bersama yang lain” akan mengalahkan kematian dan berjejak abadi dalam ingatan orang hidup. Dia mengekalkan hidupnya, bukan dengan janji tentang surga, melainkan dengan kesadaran bahwa dia ada di dunia sebagai sebuah keterlemparan, tanpa tahu dari mana dan mau ke mana. Sebaliknya, manusia yang hidupnya buruk akan hilang seperti debu disapu angin dalam sekejap. Ini bukan endapan sabda Tuhan, melainkan pelajaran nyata dan alamiah dari kehidupan kita di dunia ini.

Tak ada jarak, bahkan setipis helai rambut, antara kehidupan dan kematian. Ketika manusia lahir, kematian lahir juga bersama kehidupan. Keduanya berjalan bersama. Kematian merentang selama kehidupan merentang. Dia bukan sesuatu yang ada di ujung kehidupan, melainkan sesuatu yang sedang berjalan bersama kehidupan itu sendiri. Itulah maksud kalimat di atas: ketika manusia lahir, dia sudah terlalu tua untuk mati.

Hadapi Kematian

Kesadaran itu membuat kematian perlu dihadapi bukan dengan rasa takut melainkan dengan rasa cemas. Rasa takut adalah pantulan emosi belaka. Sedangkan rasa cemas adalah sikap eksistensial: terkait dengan keputusan dan pilihan bertindak dalam hidup. Dalam kecemasan, kita pertama-tama sadar: setiap kematian tak dapat diwakili. Kematian kita tak dapat diwakili kematian orang lain. Kita umumnya menghibur diri dengan mengatakan: toh semua manusia akan mati. Tidak. Kita menghadapi kematian kita sendiri-sendiri. Karena itu, kematian adalah momen paling otentik dan eksistensial dalam hidup karena kita menghadapinya sendirian. Maka berdialog dengan kematian sendiri selama hidup-melalui refleksi adalah sebuah cara “mengantisipasi” kematian.

“Antisipasi” dalam bahasa Heidegger adalah “lari menjemput kematian sendiri”, Sein zum Tode– ada menuju kematian. Yang dimaksud bukan keberanian untuk mati. Bahkan para teroris yang berani mati demi sebuah ideologi sebetulnya menyembunyikan rasa takut yang ngeri. Hidup menakutkan mereka, dan surga memberanikan mereka, maka kematian mereka sebuah ilusi belaka. “Lari menjemput kematian” sebaliknya. Dia adalah sebuah momen keputusan ketika kita merawat kehidupan untuk sebuah pilihan yang akan selalu dikenang jika kematian itu menyembul. Ini bukan pelajaran iman, melainkan pelajaran moral alamiah kehidupan.*