Yahya Waloni Minta Maaf kepada Umat Kristiani, Apa Kata Tokoh Gereja?

1255
Ketika berita penangkapan Yahya Waloni marak di media termasuk liputan6.
Romo Siswantoko, Romo Benny dan Pdt. Pati Ginting.

JAKARTA, TEMPUSDEI.ID (30 SEPTEMBER 2021)

Usai menjalani sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada 27 September 2021, tersangka kasus penistaan agama Kristen, Yahya Waloni mengaku khilaf atas materi-materi dakwahnya, dan meminta maaf kepada masyarakat Indonesia, khususnya kepada umat Kristen. Yahya menjelaskan bahwa dakwah-dakwahnya sebagaimana yang viral di Medsos melampaui batas etika dan moral.

Waloni juga menegaskan bahwa kasusnya hanyalah “masalah kecil, sebab hanya soal etika dan moral”. Dan sebagai warga negara, dia akan mengikuti proses hukum dengan sabar dan memohon rahmat hidayah Allah agar tabah menjalani semua akibat perbuatannya.

Atas permintaan maaafnya tersebut, PGI dalam pernyataan persnya mengatakan bersedia memberi maaf.  “Ya, jika memang minta maaf, kita maafkan,” kata Humas PGI Philip Situmorang dalam keterangannya, Selasa (28/9).
Philip berharap penyesalan yang terlontar dari Yahya itu dapat menjadi pelajaran khususnya untuk Yahya dan untuk masyarakat Indonesia pada umumnya.

Pada kesempatan yang sama, Philip juga mengimbau agar masyarakat atau tokoh agama tidak melontarkan pernyataan-pernyataan bernada menjelekkan agama dan kepercayaan mana pun yang berkembang di Indonesia saat ini.

Hal senada disampaikan oleh Romo Benny Susetyo. Kata Staf Khusus BPIP ini, “Permintaan maaf harus kita terima karena  Yesus Kristus mengajarkan pengampunan terhadap sesama. Dengan permintaan maaf, sebenarnya dengan tahu dan  mau, sadar mengakui caranya tidak sesuai dengan nilai Pancasila.”

Meski begitu lanjut Benny, pemberi maaf tidak bisa mengintervensi proses hukum yang sedang berlangsung. “Kita tidak bisa intervensi hukum. Itu urusan dari pihak yang punya kewenangan,  yakni aparat hukum,” jelasnya.

Ketika ditanya, apakah pemberian maaf ini tidak terburu-buru, Benny mengatakan, “Sikap seorang Kristen, membuka pintu terhadap semua orang yang minta maaf. Ini ajaran pengampunan.”

Sementara itu, Romo PC Siswantoko, Sekretaris Jenderal Komisi Kerasulan Awam (Kerawam) KWI mengatakan, permintaan maaf dari Yahya Waloni harus dihormati sebagai sebuah kehendak baik, dan harus dimaafkan. “Permintaan maaf ini juga bentuk pengakuan dari dirinya salah,” ujar Romo Sis.

Meski begitu, lanjutnya, dari sisi hukum, karena persoalan ini sudah ditangani oleh penegak hukum, dalam hal ini Polri, maka biarlah tetap berjalan. “Dengan tetap berjalannya proses hukum  ini, kita sedang menjunjung tinggi identitas bangsa Indonesia sebagai negara hukum. Dan juga untuk menjadi pembelajaran bagi masyarakat, khususnya para tokoh agama agar hati-hati dan saling menghargai, di tengah berbagai perbedaan ini,” jelasnya.

Tambahnya lagi, “Kita percayakan kepada penegak hukum, sebab hanya dengan itu, masalah Yahya Waloni menjadi jelas dan selesai.”

Hal yang berbeda diungkapkan oleh Pendeta Patty Ginting. Menurut Patty, harus jelas dulu untuk apa Yahya Waloni meminta maaf. “Kalau hanya karena takut dihukum, ya gak bisa dimaafkan,” tegas Pati. (tD/EDL)

1 COMMENT