Wed. Jun 10th, 2026

Katarina Rambu Babang Gaungkan Keberagaman Indonesia di Forum Internasional

Katrine Rambu Babang: Indonesia negara besar.

Ketika berbicara dalam Seminar on Ethnic Policy and Practice in Belt and Road Countries yang diselenggarakan oleh International Business Officials Training Institute (IBOTI), Ministry of Commerce of the People’s Republic of China di Beijing, Katarina Rambu Babang membawa pesan tentang kekuatan keberagaman Indonesia.

Perempuan asal Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang kini bekerja di Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia itu tampil sebagai pembicara mewakili para peserta.

Di hadapan para pejabat dan peserta dari berbagai negara, antara lain Indonesia, Ekuador, Malaysia, Sudan Selatan, Nigeria, Laos, dan Gambia, Rambu memperkenalkan Indonesia sebagai bangsa besar yang dibangun di atas fondasi keberagaman.

Bagi Rambu sendiri, keberagaman bukanlah tantangan yang memecah, melainkan kekuatan yang menyatukan dan membesarkan Indonesia selama puluhan tahun.

“Indonesia adalah salah satu negara kepulauan yang terdiri dari 17 ribu pulau, 700 bahasa dan 1.300 suku dengan jumlah penduduk 287 juta jiwa serta luas wilayah 1.800.000 kilometer persegi. Namun kami disatukan oleh satu prinsip dasar yakni Pancasila sebagai nilai dasar yang menyatukan kami dalam berbangsa dan bernegara,” ujar Rambu saat mengawali pidatonya.

Pernyataan itu menjadi gambaran kuat tentang bagaimana Indonesia mengelola kemajemukan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Di tengah berbagai latar belakang etnis, bahasa, agama, dan budaya, Indonesia tetap berdiri sebagai satu kesatuan yang kokoh.

Rambu juga menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya seminar yang mempertemukan para peserta dari berbagai negara tersebut.

“Puji syukur kepada Tuhan sehingga kita dapat hadir dan berkumpul pada kegiatan hari ini, Seminar on Ethnic Policy and Practice in Belt and Road Countries,” katanya.

Kesempatan Berharga

Mewakili peserta internasional, ia juga menyampaikan apresiasi kepada penyelenggara atas desain program yang dinilainya komprehensif karena menggabungkan pembelajaran teori dan praktik lapangan secara langsung.

Menurut Rambu, seminar tersebut memberikan kesempatan berharga bagi para peserta untuk memahami lebih dalam berbagai pendekatan yang dilakukan Tiongkok dalam mengelola keberagaman etnis dan membangun persatuan nasional.

Negara-negara peserta yang merupakan bagian dari jejaring Jalur Sutra Baru (Belt and Road Initiative) memiliki kepentingan untuk mempelajari berbagai pengalaman pembangunan yang dapat menjadi referensi bagi negara masing-masing.

Salah satu tema utama yang diangkat adalah kebijakan etnis dan pembangunan praktis di negara-negara yang terhubung dalam kerja sama Jalur Sutra, termasuk teori pemerintahan etnis Tiongkok, praktik kelembagaan, hingga pengalaman membangun rasa kebersamaan yang kuat di tengah masyarakat yang beragam.

Kekuatan Utama

Rambu menilai kombinasi kuliah teoretis, kunjungan lapangan, dan pertukaran pengalaman antarnegara menjadi kekuatan utama program tersebut.

“Program ini secara sistematis menyajikan filosofi pemerintahan Tiongkok, jalur modernisasi, teori kerja etnis, pembangunan hukum untuk kesatuan etnis, pemerintahan etnis di tingkat komunitas, pembinaan talenta, serta pengembangan terpadu antara revitalisasi pedesaan dan pelestarian budaya etnis,” ujarnya.

Bagi Indonesia yang dikenal sebagai negara multietnis dengan ratusan kelompok suku bangsa, isu pemerintahan etnis di tingkat komunitas menjadi salah satu aspek yang menarik untuk dipelajari lebih lanjut.

“Pemerintahan etnis di komunitas tentu menarik bagi kami untuk mengetahui lebih lanjut mengingat Indonesia adalah negara dengan multietnis atau banyak suku,” kata Rambu.

Program pelatihan tersebut juga memperkenalkan peserta pada berbagai aspek budaya tradisional Tiongkok, termasuk pemahaman mengenai sejumlah inisiatif global yang digagas pemerintah Tiongkok seperti Global Development Initiative serta konsep pembangunan komunitas dengan masa depan bersama bagi umat manusia. Seluruh materi itu diperkuat melalui kunjungan langsung ke sejumlah lokasi di Beijing dan Wuhan.

Sebagai wanita Sumba—pulau yang sejak berabad-abad lalu dikenal sebagai Pulau Sandelwood karena kekayaan kayu cendananya—Rambu melihat forum internasional tersebut sebagai ruang penting untuk saling belajar dan membangun pemahaman lintas budaya.

“Semoga kegiatan ini akan menambah pengetahuan dan informasi bagi kami peserta, mengenal nilai-nilai yang dijalankan masyarakat Tiongkok dalam menjalankan kebijakan pemerintah,” tuturnya.

Lebih jauh, ia berharap seminar tersebut tidak hanya memperkaya wawasan para peserta, tetapi juga mempererat hubungan antarnegara yang tergabung dalam jejaring Jalur Sutra.

Menurutnya, kolaborasi yang semakin erat akan memberikan dampak positif bagi pembangunan ekonomi, sosial, budaya, maupun politik di masa depan. (tD/Lapier)

Related Post