Sun. Jun 7th, 2026

Kolonel Gerardus Maliti Pimpin Ikalsabda Jabodetabek: Seorang Pemimpin Harus Gelisah

CIBUBUR — Gedung GBI Patoembak, Cibubur, Sabtu (6/6), dipenuhi sekitar 400 warga asal Sumba Barat Daya (SBD) yang tinggal di Jabodetabek. Mereka hadir dalam pelantikan Kolonel Gerardus Maliti, S.Sos., M.Si., sebagai Ketua Ikatan Keluarga Asal Sumba Barat Daya (Ikalsabda) periode 2026–2030.

Kol. Gerardus Maliti dan Sekum IKBS Celestino Reda

Prosesi adat yang mengawali acara, ditandai dengan kedatangan DPP Insan Keluarga Besar Sumba (IKBS) membawa seekor babi sebagai simbol penghormatan dan persaudaraan. Sore harinya, Ketua Umum IKBS Hermanus Malo Dona resmi melantik Gerardus beserta jajaran pengurus baru.

Dalam pidatonya, Gerardus menegaskan bahwa kesediaannya memimpin Ikalsabda lahir dari panggilan jiwa. Menurutnya, kepemimpinan bukan soal jabatan, melainkan kegelisahan.

“Seorang pemimpin harus gelisah melihat rakyatnya kelaparan, hidup dalam kemiskinan, anak-anak putus sekolah, dan ketertinggalan. Tetapi kegelisahan saja tidak cukup. Kegelisahan harus berubah menjadi gerakan,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa seluruh kapasitas, jaringan, pengetahuan, dan jabatan yang dimiliki seorang pemimpin harus digunakan untuk mengangkat martabat masyarakat. Karena itu, Ikalsabda tidak boleh sekadar menjadi tempat berkumpul, melainkan harus menjadi wadah persatuan, kaderisasi, dan pengabdian bagi kemajuan Sumba Barat Daya.

Gerardus juga mengingatkan pentingnya menjaga kebersamaan dengan IKBS. “Kita boleh berasal dari SBD, tetapi kita adalah orang Sumba. Dunia tidak melihat empat kabupaten, melainkan satu nama besar: Sumba,” katanya.

Di bagian akhir sambutannya, Gerardus mengajak masyarakat memaknai kembali gelar Umbu dan Rato bukan sebagai simbol kebangsawanan, melainkan tanggung jawab untuk melayani.

“Darah bukan privilese. Darah adalah catatan utang, tanggung jawab, dan panggilan untuk melayani,” ujarnya.

Menurutnya, Umbu atau Rato masa kini adalah siapa saja yang bersedia berdiri paling depan saat masalah datang dan paling belakang saat keuntungan dibagikan. Mereka yang memperjuangkan pendidikan, mengorbankan diri untuk keluarga, bekerja bagi kesejahteraan rakyat, dan mengangkat martabat sesama, adalah Umbu dalam makna yang sesungguhnya.

Pesan yang mengemuka dari pelantikan itu sederhana namun kuat: kepemimpinan bukan tentang kedudukan, melainkan kegelisahan yang diwujudkan menjadi tindakan. (tD)

Related Post