Jangan Sembuhkan Virus Korona

318
Emanuel Dapa Loka

Emanuel Dapa Loka, Wartawan tempusdei.id

TEMPUSDEI.ID (31 AGUSTUS 2021)

Coronavirus Desease 19 (Covid-19) benar-benar tengah mengancam dan mengimpit dunia. Ia menebar bayang-bayang maut di mana-mana.

Hingga Kamis (26/8/2021), berdasarkan data Worldometers, ada 214.669.534 kasus Covid-19 di dunia. Angka ini menunjukkan bahwa kasus infeksi virus corona di berbagai negara masih terus bertambah. Dari jumlah itu, sebanyak 4.474.991 orang meninggal dunia, dan 192.015.401 orang sembuh.

Ah…! Saya tidak mau meneruskan data mengerikan ini, sebab berpotensi menurunkan imun tubuh dan melemahkan iman. Situasi ini membuat hidup tidak aman dan nyaman, bukan?

Dalam menghadapi virus ini, para ahli telah berjibaku siang dan malam melakukan penelitian untuk menemukan obat pembasmi virus ini. Semoga obat tersebut lekas ditemukan. Cukup sudah air mata yang tumpah, dan duka yang menggulung-gulung di mana-mana.

Lantas bagaimana dengan pernyataan pada judul tersebut? Bukankah ini merupakan “kelancangan” di tengah perang melawan Covid-19? Bukankah dikatakan di mana-mana; dalam pidato, khotbah bahkan doa-doa “Sembuhkanlah penyakitnya”? Persis di sini masalahnya! Setidaknya, ada dua fungsi obat yang diberikan dokter kepada setiap pasien. Pertama untuk memperkuat daya tahan tubuhnya dan yang kedua untuk membunuh penyakit atau bibit penyakit dalam tubuhnya.

Penyakit itu justru dibuat lemah, sakit dan pada akhirnya mati sehingga sang pasien sembuh, pulih dan bisa beraktifitas dengan baik seperti sedia kala.

Lalu, bagaimana ungkapan yang benar? Yang perlu disembuhkan adalah si pasien sebab dia tengah menderita sakit akibat virus korona. Jangan malah penyakit atau virus yang disembuhkan. Maka katakanlah “Semoga dia lekas sembuh (dari virus korona)”. Memang kalimatnya menjadi sedikit lebih panjang, tapi maksud yang hendak disampaikan menjadi jelas dan terang benderang.

“Kekeliruan” tersebut mirip dengan ungkapan “Membersihkan Sampah Rumah Sakit”. Sampah itu tidak perlu dibersihkan. Angkat saja dengan hati-hati agar tidak tercecer, lalu buang ke tempat sampah atau musnahkan. Yang perlu dibersihkan adalah rumah sakit; dibersihkan dari sampah. Jadi, yang benar adalah “Membersihkan Rumah Sakit dari Sampah”.

Bisa saja ada yang berkata “Ah! Yang penting dimengerti”. Pertanyaannya, bagaimana bisa dimengerti kalau konsep atau logikanya tidak normal? Lalu muncul pernyataan “Nyatanya, kalau dikatakan ‘Membersihkan sampah’, tukang sampah langsung mengerti yang harus dia lakukan. Mungkin betul! Itu karena sudah terbiasa, dan kebiasaan ini sangat bersifat lokalistik, tidak umum atau universal.

Kita memang sudah terlalu lama membenarkan banyak hal yang biasa “meski itu salah” dan enggan membiasakan  yang benar karena sudah telanjur. Ini tugas bersama untuk membenahi.

Semoga virus korona yang sedang mengancam nyawa manusia seantero dunia ini lekas-lekas lenyap! Jangan sampai justru “disembuhkan” setelah dilemahkan oleh berbagai obat dan ramuan. Salam sehat!