Ketika Penyair Malu pada Semut

38
Simply da Flores

MALU PADA SEMUT

Simply da Flores
Direktur YA-HARMONI

Pada teguk-teguk kopi pahit kutelan energi,
namun tanyaku tanpa jawaban laksana pahit hitam pekat ampas kopi
Mengapa di tanah ini pemeluk agama saling hina mencaci?

Kutebar pada langit
kepulan asap kretek
segala penasaran agar dapat jawaban
Apakah ini doa rindu damba jiwa di tengah derita lara pandemi,
namun berulangkali terbang hilang terbawa angin

Sedangkan layar gadged dibanjiri berita hujat hina agama lain
Subur dan marak iri dengki dendam terjadi
juga atas nama ayat suci, atas nama Sang Maha Suci, bahkan demi membela Allah Maha Sakti

Bingung terbakar api resah hingga puntung dan kembali merenung
Mengapa pelakunya mengaku para tokoh rohani
Mengapa terjadi di tempat ibadah suci
Mengapa menghina caci maki agama lain adalah tindakan suci

Tetes kopi yang tumpah di balai bambu pondok kampung, mengundang guru alam datang diam mengajari tanpa kata
Semut-semut berarak rapi,
datang dan pergi mengambil
manis dari tumpahan kopi
Setiap bertemu mereka saling berciuman dan pergi lagi mengabdi

Aku malu pada semut
Mereka bicara tanpa suara
Mereka berkomunikasi tanpa teriak dan mencaci maki
Belum pernah kulihat sesama semut berkelahi memperebutkan rezeki, sambil teriak ayat suci atau mencaci maki sesama

Mereka ada di mana-mana bahkan di dalam tanah dan di pucuk pohon tinggi
Dari bangkai di hutan sampai meja makan mewah istana
Dari gubuk reyot sampai istana megah orang kaya dan raja
Mereka saling menghormati dan harmonis sangat suci rohani
Malu aku pada semut*