Majalah BASIS, Basis Peradaban: Budaya dan Filsafat

186
Majalah BASIS terbaru, edisi 7-8/2021. (Dokumen Redaksi BASIS)

“Kado Kecil” untuk HUT-70  Majalah Basis

Oleh Simply da Flores, Direktur Harmoni Institut  dan alumnus STF Driyarkara

TEMPUSDEI.ID (15 JULI 2021)

Simply da Flores

Usia Majalah Basis mencapai 70 tahun, ketika bangsa dan dunia sedang dilanda Pandemi Covid-19. Jutaan manusia terkapar, ratusan ribu meninggal, dan wabah mematikan itu masih terus mengganas.

Umur ke-70 Basis juga terjadi pada atmosfer pesatnya teknologi informasi digital milenial, yang menjadi gugatan atas sosok Basis sebagai media cetak. Basis ikut mengarungi gelombang peradaban zaman, sebagai bagian integral bangsa dan negara Indonesia tercinta ini.

Majalah Basis telah ada sebelum saya lahir, dan saya kenal ketika di bangku SMA, membaca bundelannya di perpustakaan, juga saat mengenyam pendidikan di STF Driyarkara tahun 1986-1990. Sempat juga berjumpa dengan  Pemrednya, Rm. Sindhunata SJ. Setelahnya masih sempat bertemu dan membaca Basis, namun sejak tahun 2010 sudah tidak bertemu lagi karena saya “beredar” di kampung – kampung.

Untuk ulang tahun ke-70 tahun Basis, saya tergerak hati mempersembahkan sebuah “kado kecil” berupa kenangan dan ekspresi kebanggaan saya, karena pernah mengenal dan belajar dari Majalah Basis, meskipun dalam kurun waktu yang sangat terbatas.

Memaknai Kehadiran Majalah Basis

Kehadiran Basis tidak terpisahkan dengan karya dan spiritualitas Serikat Jesus di Indonesia. Sejarah karya misi Serikat Jesus di Indonesia, khususnya di tanah Jawa, dengan berpusat di Jawa Tengah, berfokus di bidang pendidikan sumber daya manusia dan informasi – komunikasi. Karya misi Serikat Jesus itu sudah terjadi jauh sebelum Indonesia merdeka, hingga sekarang.

Beberapa lembaga pendidikan yang dikelola Jesuit misalnya Persekolah Van Lith, SMA de Britto, Seminari Mertoyudan, Universitas Sanata Dharma, Kolese Kanisius dan STF Driyarkara – alma materku. Lembaga penerbitan dan informasi komunikasi misalnya; Penerbit Kanisius dan Cipta Loka Caraka, Sanggar Pratiwi, Basis, Utusan, Rohani.

Membicarakan Basis, spontan mengingatkan saya kepada para Pastor Jesuit, yang menjadi dosenku dan teman-teman kuliah selama di STF Driyarkara, serta pengalaman hidup 30-an tahun di Pulau Jawa.

BACA JUGA:  Pinjaman Online Ilegal Lukai Keadilan Publik

Meskipun baru sedikit pengalaman bertemu dan mengenal Basis, tetapi media ini memiliki daya tarik yang unik karena sarat makna. Menurut saya, Basis adalah salah satu wujud karya Jesuit dalam perjalanan peradaban bangsa di Nusantara, khususnya dalam sejarah kelahiran dan perkembangan NKRI hingga saat ini. Serikat Jesus melalui Basis, telah memberikan karya nyata dalam membangun kepribadian bangsa dan karakter identitas NKRI.

Majalah Basis memberi kontribusi pemikiran dan spirit tentang hakikat eksistensi manusia dengan totalitas dimensi dirinya; dalam relasi hakiki dengan sesama dan alam lingkungan serta Sang Wujud Mutlak. Manusia dengan budi daya dan akal pikiran, yang membedakan dirinya dengan semua ciptaan lain di alam semesta ini. Inilah basis peradaban manusia dan suatu bangsa, yakni berkepribadian dalam budaya dengan pemikiran yang kritis, jernih dan humanistik.

Basis mengkaji dan menyajikan hal dasar yang menjadi esensi kodrati manusia di tengah realitasnya.

Tentang Budaya dan Filsafat

Selama mengenal dan membaca Basis, saya melihat ada dua tema utama, yakni Budaya dan Filsafat. Sebagai majalah kebudayaan, fokus Basis menyajikan kajian mendalam tentang budaya dan filsafat. Kajian budaya yang menyingkap esensi budi dan daya kreasi manusia untuk menyatakan dirinya, sangkan paran-nya, prinsip nilai dan orientasinya. Tentang mengapa, untuk apa, siapa dirinya dan sesama, ke mana arah dan bagaimana setiap pribadi dan bangsa harus “mengada dan menjadi”  sebagai manusia normal dan bermartabat.

Filsafat yang dikaji dan disajikan oleh Majalah  Basis adalah berbagai aliran pemikiran kritis yang berkembang dalam sejarah manusia lintas zaman, lalu relevansinya bagi kehidupan zaman ini dan visi pemikiran untuk kehidupan ke depan. Bukan saja filsafat kuno Yunani, filsafat barat abad pertengahan – modern dan post modern, tetapi juga filsafat timur dan filsafat Nusantara, termasuk filsafat Pancasila – identitas bangsa NKRI.

BACA JUGA:  Jurnalis Turunlah Ke Jalan! Habiskan Sol Sepatumu!

Dengan kajian dan sajian tema Budaya dan Filsafat demikian, langsung maupun tidak langsung, Basis berperan nyata dalam mencerdaskan bangsa dan menjaga identitas NKRI. Kita adalah Indonesia, yang dibangun di atas kebhinekaan dengan ideologi Pancasila, sekaligus bagian integral warga dunia yang saling membutuhkan dan saling melengkapi. Karena itu, kita bangsa Indonesia harus ikut serta aktif membangun peradaban manusia, perdamaian dunia dan keadilan sosial, serta nilai hakiki humanistik universal, di tengah alam semesta.

Kedua pimpinan redaksi Majalah Basis, Rm. Dick Hartoko SJ dan Rm. Sindhunata, SJ adalah sosok pribadi yang tekun menjaga kualitas kajian dan sajian Majalah Basis bagi segenap pembaca hingga saat ini berumur 70 tahun.

Sekali lagi, Majalah Basis adalah salah satu karya nyata yang konsisten dari Serikat Jesus untuk bangsa dan NKRI pada medium yang sangat mendasar: yakni kepribadian dan identitas Indonesia sebagai bangsa dan negara.

Hemat saya, Majalah Basis, konsisten dengan namanya Basis, menjadi satu dapur kajian dan sajian tentang  bidang yang paling mendasar dan hakiki dari manusia dan bangsa. Manusia yang berbudaya karena berakal budi. Manusia yang memiliki keutuhan totalitas multi dimensi, dalam relasi mutlaknya dengan sesama, alam lingkungan dan Sang Maha Mutlak – sumber segala realitas.

Majalah Basis  sudah dan kiranya terus berjuang memberikan yang terbaik tentang prinsip dan nilai eksistensial manusia, agar bermakna dan bermartabat.

Hemat saya, di tengah derasnya globalisme dan arus teknologi digital milenial, dengan semua dampak negatifnya, Majalah Basis semakin dibutuhkan kehadirannya. Basis diandalkan untuk memberi pencerahan bagi kecenderungan hedonistik, apatisme, individualisme, kapitalistik dan absurditas manusia zaman milenial.

Basis mengemban peran mencerdaskan manusia, membangun manusia pembangun peradaban dan berperan profetis. Basis mengingatkan manusia dan bangsa – negara agar tidak lupa pada hakikat eksistensialnya sebagai makhluk berbudaya karena berakal budi dan multi dimensi. Manusia sebagai Imago Dei – citra Allah, makhluk jasmani sekaligus rohani.

BACA JUGA:  Ketika Korona Menjadi Panglima Revolusi Senyap

Dirgahayu Majalah Basis.Terimakasih atas karya bhakti yang berkualitas untuk humanisme universal serta kepribadidian dan identitas Indonesia sebagai bangsa dan negara.

Non multa sed multum, pro Patria, Salus Populi, et Bonum Commune. Ad Maiorem Dei Gloriam.*

 

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here