Refleksi Simply da Flores: Menemukan Makna “Via Dolorosa”

149
Simply da Flores

TEMPUSDEI.ID (7 JULI 2021)

MENEMUKAN MAKNA VIA DOLOROSA

Satria Via Dolorosa
memikul derita duka nestapa
merana menyusuri jalan salib
menjemput kematian
Tubuh-Nya dihujani pukulan cemooh,
hoaks, caci maki
terdiam pasrah dalam kesetiaan
miskin kata pembelaan diri
Ia lakukan Amanah Ilahi
Sang Maha Suci
jalani derita penuh hina
antara Alfa dan Omega
kehidupan manusia di dunia

Satria Via Dolorosa
berjalan tertatih memikul beban dosa
pada raga luka berdarah karena siksa
segala persekongkolan,
ketidakadilan penguasa,
ketakutan rakyat jelata,
karena ancaman para algojo dan mafia
Ia melihat harapan akan kesembuhan
dari sakit miskin papa duka lara nestapa
Ia mendengar jeritan ketakutan
dari jiwa kebingungan di seluruh dunia
Ia saksikan yang terpapar dan mati
“Jangan tangisi aku,
tetapi tangisilah dirimu
dan anak-anak kalian yang terpapar ”

Satria Via Dolorosa
jatuh tergeletak
bersama ribuan korban pandemi,
dalam pasrah tak berdaya
Ia berjuang bangun lagi
menghampiri para medis
yang diharapkan menolong
tetapi mereka juga terpapar dan mati
Terngiang pertanyaan Pilatus yang licik
“Apakah engkau Putra Allah
dan Sang Juru Selamat?”
Ia menjawab datar penuh sahaja
“Engkau telah mengatakannya!”

Satria Via Dolorosa
berlari mengiringi mobil jenasah
menuju penguburan jutaan
korban pandemi
Ia ikut dibakar dalam tumpukan mayat
yang diperlakukan seperti sampah karena takut
tetapi mata-Nya yang berdarah
masih mampu melihat manipulasi data,
korupsi dana pandemi,
mafia bisnis alkes dan para penyebar hoaks
atas nama agama dan allah-nya

Dari atas tiang gantungan
Dia masih panjatkan doa,
“Ya Bapa, ampunilah mereka,
sebab mereka tidak tahu
apa yang mereka perbuat ”

Satria Via Dolorosa
hembuskan nafas di puncak palang hinaan
dan kejahatan para penguasa
serta semua pengikut mereka

BACA JUGA:  Puisi-puisi Simply da Flores untuk Umbu Landu Paranggi dan Daniel Dhakidae

Ibu yang diam tak takut wabah,
pangku jenasah putra penuh luka dan darah
Sementara jenasah korban pandemi
diasingkan dari keluarga
dan sanak kerabat,
karena ketakutan akan kematian
dan sejuta alasan pembenaran
Ia yang diagungkan saat membuat mukjizat
akhirnya mati penuh tragis
menapaki Jerusalem sampai Golgota
sebagai penjahat laknat
“Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu,
kuserahkan nyawaku”

Satria Via Dolorosa
Ia tinggalkan doa sakti
sebagai senjata suci
menghadapi bencana dan mara bahaya,
termasuk saat pandemi
merenggut jutaan nyawa
“Ya Bapa, kalau boleh,
biarkanlah piala penderitaan ini,
pandemi ganas ini,
berlalu dari pada kehidupan kami.
Tetapi bukan menurut kehendak kami,
melainkan menurut kehendak-Mu Maha Suci…”

Lalu diam sang ibu
yang memeluk jenasah itu di kaki salib,
membalut kain kafan
dan menguburkannya
Hanya berbekal mantra ajaib penuh misteri,
“Aku ini hamba-Mu ya Allah,
terjadilah padaku menurut kehendakMu”

Satria Via Dolorosa
wariskan janji suci dan amanah sakral
kepada semua yang mau percaya
dan mengandalkan diri-Nya
sebagai Juru Selamat dalam seluruh suka
terutama saat duka derita hidup
“Aku menyertai kamu
sampai akhir zaman”

Satria Via Dolorosa
Dia itu Kalimat Allah
Sang Sabda Allah
Dia Isa Putra Maryam
Dia Yesus Kristus,
Putera Maryam dari Nazareth
yang wafat di Golgota
Lalu bangkit dari kematian
dan kembali ke Surga Abadi
sebagai Sang Juru Selamat semua insan

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here