Revolusi atau Mati, Belajar pada Elang Rajawali

254
Simply da Flores

Oleh Simply da Flores, Alumnus STF Driyarkara Jakarta

TEMPUSDEI.ID (30 JUNI 2021)

Dari grup whatsapp alumni kampus, saya mendapat sebuah video tentang burung elang rajawali yang gagah perkasa.

Yang menarik bagi saya adalah cerita tentang fakta tragis dalam daur hidup burung tangguh perkasa ini.

Elang Rajawali ini bisa hidup lebih dari 60 tahun. Pada masa umur 40 tahun, ada saat sulit dan menyakitkan. Elang Rajawali harus membuat pilihan. Kalau mau hidup, maka harus melewati sekitar 150 hari yang sulit, menyakitkan dan penuh perjuangan.

Pasalnya, Elang Rajawali diharuskan  mengganti paruh yang sudah bengkok dan tidak berfungsi mencari nafkah. Caranya adalah harus memukulkan paruh pada benda-benda keras, agar patah dan terlepas, sehingga bisa tumbuh paruh yang baru. Selain itu, kuku cakar yang sudah kepanjangan dan tua, harus dilepaskan. Caranya harus disangkutkan ke kulit kayu, batu, hamparan beku salju, atau dimana pun, agar kuku yang tua terlepas.

Bagian lain yang harus dilepas adalah buluh yang sudah tua di sayap dan badan, dan harus dicabut sendiri, meskipun menyakitkan. Sang raja langit berjuang melewati kesakitan derita demi kehidupannya dapat berlanjut.

Proses melepaskan tiga bagian penting itulah caranya agar bisa tumbuh paruh, cakar dan bulu yang baru. Inilah fakta menyakitkan, jika masih mau hidup sekitar 30 tahun lagi.

Jika tidak melewati tahap yang menyakitkan itu, tidak mau terlahir kembali, maka harus siap mati. Bulu yang usang, paruh dan kuku lama yang kepanjangan serta bengkok melengkung adalah bagian tubuh yang tidak berfungsi, tetapi sangat menjadi penghalang untuk bertahan hidup.

Membuat Pilihan: Hidup atau Mati

Elang Rajawali pada usia keempat puluh, secara alamiah, harus membuat pilihan. Pasrah, tidak mau berubah, takut melewati rasa sakit 150 hari, berarti siap mati. Peluang hidup 30 tahun terlewat, jika takut melalui kesakitan dan perubahan selama 150 hari.

Perubahan, pembaruan, memperbaiki hal yang tidak berfungsi dalam diri sendiri adalah fakta yang menyakitkan untuk dilewati. Namun, harus dipilih dan dilalui demi peluang kehidupan yang lebih baik. Pilihan berubah membutuhkan perjuangan dan pengorbanan.

Kegagalan fatal, kehilangan peluang meraih keberhasilan,  atau fakta kematian adalah konsekuensi pilihan berdiam diri, menyerah, karena takut pada perubahan.  Pilihan pada ketidaksiapan melewati perjuangan yang memang menyakitkan rasa dan raga adalah mati.

Bagi manusia, hanya kekuatan hati dan jiwa serta cinta pada kehidupan karena kecerdasan berpikir, yang menjadi andalan menghadapi kesakitan dan kematian. Inilah bagian dari “revolusi mental” atau “revolusi diri” dalam menghadapi tantangan zaman. Kemauan memilih dan tekad memutuskan untuk mengubah diri secara radikal demi sebuah peluang meraih keadaan hidup yang lebih baik, dalam dinamika kehidupan.

Belajar dari Elang Rajawali

Abad Milenial, ledakan teknologi informasi adalah fakta yang tidak bisa ditolak. Kemajuan di bidang teknologi informasi pun hasil revolusi manusia untuk mempermudah kehidupan. Hukum teknologi berlaku, maka manusia harus beradaptasi pada mekanisme teknologi, termasuk teknologi informasi digital.

Jika mau dapatkan manfaatnya secara maksimal, manusia perlu melewati pengalaman kesakitan untuk mengubah diri dan beradaptasi dengan dunia teknologi digital. Jika tidak siap dan tidak mau berubah, maka manfaat teknologi informasi digital tidak diperoleh.

Karena digitalisasi sudah menguasai hampir seluruh aspek kehidupan, dan terus berkembang dahsyat, maka yang tidak mau berubah pasti ketinggalan zaman, bahkan akan tersisih dan mati pada gilirannya. Kemajuan teknologi hasil karya manusia; berwajah ganda yakni berkat sekaligus bencana.

Digitalisasi, juga pandemi Covid-19 menuntut manusia untuk mengubah diri dalam berbagai aspek agar mampu bertahan hidup.

Belajar dari pengalaman Elang Rajawali di atas, maka pilihannya hanya dua, yakni mau berubah dan melewati kesakitan, atau diam menyerah dan mati. Jika Elang Rajawali yang hanya naluri alamiah memilih revolusi diri, maka manusia dengan nalar dan nurani jiwa pasti lebih mencintai hidup. Pilihan normalnya adalah menghadapi tantangan, berani berubah dan mengadaptasi diri. Manusia normal akan realistis, mau mengubah diri dan revolusi mental dengan kreatif.

Tuntutan zaman now, jika manusia yang masih mencintai hidupnya, maka akan berani  transformasi diri, melakukan inovasi serta membangun networking untuk kolaborasi multi talent dengan sesama di mana pun.

Elang Rajawali dan pengalaman naturalnya, semoga menjadi inspirasi dan motivasi bagi kita di tengah kemelut dan kepedihan dampak pandemi Covid-19 serta derasnya gelombang tantangan zaman teknologi digital zaman now.