Ramai-ramai Membunuh Media Online

469
Emanuel Dapa loka
Media tetap berkarya di tengah pandemi. (EDL)

Oleh Emanuel Dapa Loka, wartawan tempusdei.id dan penulis biografi

TEMPUSDEI.ID (24 JUNI 2021)

Zaman ini sudah sedemikian berubah. Gelombangnya dahsyat dan tak terhindarkan. Karena itu, tidak ada pilihan lain, manusia yang hidup di dalamnya harus siap dan ikut berselancar dengan lincah. Tentu saja manusia tersebut harus menyiapkan diri dan masuk ke tengah-tengah arena. Tidak bisa lagi hanya menjadi penonton. Mengambil posisi sebagai penonton saja, berarti membiarkan diri sebagai orang kalah. Nah!

Dalam bermedia pun begitu. Senjakala media cetak benar-benar telah datang. Buktinya? Banyak media cetak dan perusahaan percetakan bertumbangan karena tidak kuat berhadapan dengan disrupsi yang datang. Media pun bermetamorfosa untuk “menyesuaikan diri” dengan zaman.

Dengan perubahan yang sudah sedemikian, para pengelola media memutar otak agar tetap hidup dan bisa memberi pengaruh kepada masyarakat seperti diamanatkan dalam “fungsi jurnalisme” untuk mendidik, menghibur, memberi informasi dan melakukan kontrol sosial.

Kemunculan media online yang bejibun membuktikan keinginan untuk tetap hidup dan memberi pengaruh itu. Namun, tidak mudah mengelola dan menghidupkan media online—tentu seperti halnya kesulitan mengelola media cetak pada zamannya.

Seperti media cetak, media online pun membutuhkan biaya dan kepiawaian atau keterampilan mumpuni. Di media cetak, biaya terserap untuk mencetak, membayar pegawai dan berbagai komponen lain. Di media online, biaya untu bandwidth, biaya operasional, pemeliharaan dan lain-lain. Banyak pos pengeluaran di media cetak yang bisa ditekan di media online, namun bersamaan dengan itu muncul juga komponen baru yang tidak terhindarkan.

Hal yang pasti dari kedua platform yang berbeda ini, iklan dengan aneka variannya tetaplah menjadi darah kehidupan. Semakin banyak iklan pada sebuah media, maka semakin besarlah pendapatan media itu. Selanjutnya, bisa mengembangkan perusahaan, menyejahterakan karyawan, termasuk wartawannya dan seterusnya. Ini hukum yang wajar.

Bagaimana kalau tidak ada pemasang iklan? Ini masalah besar!

Peralihan dari media cetak ke media online membawa goncangan tersendiri. Dalam waktu yang cukup lama, publik masih belum “ngganggap” kehadiran media online. Di satu sisi publik belum sepenuhnya yakin dengan efek media online, namun di sisi lain, publik yang sama sudah mulai “enggan” beriklan di media cetak.

Namun setelah sekian waktu berjalan, publik semakin tune in dengan media online karena cepat dan mudah diakses. Trust tumbuh, sambil distrust juga tersemaikan di mana-mana.

Salah satu yang menyebabkan publik menyukai media online karena kontennya beredar dari gadget yang satu ke gadget yang lain dalam sepersekian ukuran waktu. Meski trust sudah tumbuh, media online, terutama media-media kecil tetap belum mudah mendapatkan iklan. Banyak orang lebih memilih beriklan di Medsos karena “gratis”. Kalaupun ada yang beriklan di media online (kecil), tarifnya masih cincai. Pemasang masih bersikap coba-coba.

Mereka yang bekerja di media online adalah manusia biasa juga yang memerlukan biaya hidup. Andai tidak ada wartawan yang tetap bekerja melayani publik dengan berbagai informasi di tengah makin sulitnya menjangkau media cetak, masyarakat juga yang merasakan akibatnya.

Di sini terjadi simbiosis mutualisme antara masyarakat dan pengelola media. Ya, di satu sisi media menyajikan karya-karya jurnalistik yang mencerahkan dan mencerdaskan. Di sisi lain, publik membantu media untuk tetap hidup. Caranya bagaimana?

Saat ini, di tengah tidak mudahnya media online mendapatkan iklan, Mbah Google memberi celah kepada media untuk memeroleh penghasilan melalui Google Ads. Melalui teknik tertentu media membangun hubungan dengan Google lalu Google memasang iklan di media itu. Semakin banyak publik membuka dan membaca konten yang disajikan media tersebut—sehingga melihat iklan di media itu, maka semakin besarlah pendapatan media itu.

Pada titik inilah media harus berjuang memberikan informasi-informasi yang diperlukan dan memenuhi kebutuhan publik untuk kehidupan mereka. Penyajiannya harus mengindahkan kaidah-kaidah yang ada. Jika demikian, maka benar-benar terjadi prinsip saling menguntungkan.

Sayangnya, banyak media menyajikan konten yang tidak dikerjakan dengan baik sehingga tidak dipedulikan publik. Sementara di sisi publik, seringkali dijumpai “kecurangan”. Jika menemukan konten yang menarik dan penting, ada yang men-download atau “meng-copy paste” atau “meng-capture” lalu mengedarkannya begitu saja. Dengan demikian, publik tidak perlu membuka atau menglik link yang disiapkan oleh media yang bersangkutan. Ini tentu merupakan kerugian besar bagi media tersebut.

Cara semacam ini sepadan dengan membeli koran atau buku lalu memoto kopi, kemudian membagi-bagikan kepada orang lain, tanpa orang-orang lain itu membeli koran atau buku tersebut.

Dan kalau hal ini dilakukan secara terus-menerus, orang semacam ini sedang membunuh media sambil menutup kanal informasi untuk dirinya. Hampir semua menjadi korban. Yang seringkali menjadi sasaran adalah Dahlan Iskan yang memang piawai meracik tulisan-tulisan renyah dan nikmat. Tulisannya di portal disway.id dikopi begitu saja, lalu di-posting ke mana-mana.

Sekali lagi, kalau hal ini dilakukan oleh semakin banyak orang, maka publik sedang ramai-ramai membunuh media online. Semestinya, kalau menemukan sajian yang menarik dan penting diketahui orang lain, bagikan saja link konten itu, jangan copy paste atau meng-capture. Karya yang diperlakukan semena-mena itu dikerjakan dengan susah payah. Mari saling merawat agar kehidupan ini seimbang.*