Bung Karno dan Arti Penting Perjumpaannya dengan Mang Aen

286

Oleh Alfred B. Jogo Ena

Mendalami Spiritualitas Perjumpaan di Hari Kematian Bung Karno, 21 Juni

Ketika masih kuliah di ITB tahun 1921, Bung Karno berjumpa dan berdialog dengan seorang petani yang biasa disapa Mang Aen, kemudian terkenal dengan nama Marhaen. Pertemuan itu menjadi inspirasi pergerakan dan perjuangan Bung Karno untuk selalu hadir bersama wong cilik, orang kecil yang memiliki sebidang lahan dan alat produksi, tetapi hasilnya tidak bisa meningkatkan kesejahteraan mereka.

Lalu ketika dibebaskan dari penjara Sukamiskin tahun 1931, BK menulis Maklumat dari Bung Karno kepada Kaum Marhaen Indonesia. Tulisan di paragraf pertama begitu menggugah (tulisannya saya kutip lurus dari buku Di Bawah Bendera Revolusi, hal 167 dan 170).

“Tatkala saja baru keluar dari pendjara Sukamiskin, maka saja menjanggupi kepada kaum Marhaen Indonesia akan berusaha sekuat-kuatnja untuk mendatangkan persatuan antara Partai Indonesia dan Pendidikan Nasional Indonesia. Saja mempunjai tjita-tjita jang demikian itu karena kejakinan, bahwa di dalam zaman sekarang ini, dimana malaise makin haibat, dimana kesengasaraan Marhaen makin meluas dan mendalam, dimana musuh makin mengamuk dan meradjalela, dimana udara makin penuh dengan getarannja kedjadian-kedjadian jang telah datang dan jang akan datang, jang paling perlu untuk keselamatan Marhaen ialah persatuannja barisan Marhaen, agar tidak hanjur tergilas oleh roda zaman jang baginja pada waktu itu ada begitu kedjam – lebih kedjam lagi daripada jang sudah-sudah…..Marilah kita memeras tenaga mendjalankan suruhan riwajat, – suruhan riwajat jang hanja kaum Marhaen sendiri bisa melaksanakannja, jakni mendatangkan suatu masjarakat jang adil dan sempurna! Adil dan sempurna buat negeri Indonesia! Adil dan sempurna buat bangsa Indonesia! Adil dan sempurna buat Marhaen Indonesia.”

Tulisan BK ini kalau diucapkan langsung olehnya akan terdengar sangat menggetarkan, apalagi disertai dengan intonasi dan gayanya yang meledak-ledak. Betapa sudah sejak tahun 1920-an hingga tahun 1930, pertemuannya dengan Mang Aen sudah begitu merasuk cara berpikir dan cara berjuang BK. Bahwa selain berjuang untuk meraih kemerdekaan melalui penggalangan persatuan dan kesatuan agar perjuangan lebih berdayaguna, BK sudah sangat prihatin dengan nasib para petani baik penggarap maupun yang hanya memiliki sedikit lahan seperti Marhaen.

BK begitu memerhatikan orang-orang kecil yang berada jauh dari jangkauan kekuasaan. Bagaimana pun keprihatinan BK dalam maklumatnya kepada Marhaen Indonesia tetaplah aktual hingga kini, bahkan ketika teknologi pertanian begitu massif digunakan, nasib rakyat kecil, nasib Kaum Marhaen tetaplah termarjinalkan dan kalah dalam persaingan global. Siapa yang akan memikirkan nasib mereka kalau bukan para pemimpinnya sendiri, seperti yang sudah dicontohkan oleh BK.

Kaum Marhaen – ilustrasi

Spiritualitas Perjumpaan BK

Perjumpaan BK dengan Mang Aen (Marhaen) di pinggiran kota Bandung ternyata bukan sekadar perjumpaan yang basa-basi tanpa arti. Tetapi sebuah perjumpaan yang menginspirasi dan menggerakkan BK untuk berpikir dan bertindak mewakili orang-orang seperti Marhaen. Bahkan inspirasi itu dijadikan sebuah ideologi perjuangan bernama Marhaenisme. Spiritualitas perjumpaan ini justru dibangun oleh BK dari pinggiran (pinggiran kota Bandung), dari orang-orang pinggiran yang kemudian dikenal dengan nama “wong cilik”. Orang kecil yang tidak ada kemampuan untuk bersuara sendiri, yang hanya menanti uluran suara dari kaum terpelajar dan terdidik, juga dari mereka yang menyatakan diri sebagai rakyat wong cilik.

Dalam rangka “menanamkan” spiritualitas perjumpaan BK di atas, saya menerbitkan Kumpulan Cerpen berjudul BUNG KARNO DALAM TIGA PARAGRAF Dari Pembuangan Di Ende dan Bengkulu Hingga Akhir Hayatnya.

Dalam buku ini saya menggambarkan segala pergulatan batin Bung Karno mulai dari Ende hingga hari-hari terakhir hidupnya. Masuk ke dalam pergulatan batin Bung Karno. Pergulatan batin BK ini selalu diawali oleh perjumpaan dengan siapa saja. Buku ini juga diterbitkan sebagai salah satu cara mencintai dan masuk ke dalam alam pemikiran Bung Karno.

Dalam buku ini akan banyak dijumpai pesan kesedihan dan kegalauan Sang Bung yang dengan rela membiarkan dirinya direndahkan oleh “anak-anak” bangsanya sendiri. Ibarat kata habis manis sepah dibuang. Itulah politik yang kadang kejam. Tapi bukan sisi politik kekuasaan yang hendak ditonjolkan dalam buku ini melainkan keteladanan seorang Bapa Bangsa, Proklamator, Presiden Pertama RI, pencetus ide Pancasila yang rela merendahkan dirinya agar bangsa ini tidak terkoyak oleh perang saudara. Ini yang mestinya selalu digarisbawahi dengan tinta emas oleh mereka yang menyatakan diri sebagai anak ideologis Bung Karno. Seorang tokoh dunia yang sedang berada di puncak kekuasaan, tetapi tidak mau menggunakan kekuasaan itu untuk menyakiti rakyatnya sendiri. Semangat patriotisme yang demikian luhur ini perlu selalu digaungkan kepada generasi muda (kader-kader Marhaen) agar cita-cita NKRI yang Bung dambakan akan tetap lestari.

JAS MERAH – Jangan sekali-kali melupakan sejarah, merupakan salah satu ajaran Bung Karno yang patut diingat oleh segenap anak bangsa. Dengan terus menghidupi semangat dan ajaran BK, maka Spiritualitas Perjumpaan yang sudah dirintis oleh BK jauh sebelum Indonesia merdeka ini, akan semakin aktual dalam keseharian rakyat Indonesia menghadapi dan menghidupi kebhinekaan yang ada. Karena perjumpaan itu sendiri pada hakikatnya adalah ejawantah dari kebhinnekaan di tanah air tercinta kita ini.
Semoga momen kenangan pada hari kematian BK ini menggerakkan mereka yang berada dalam pusaran kekuasaan, partai-partai politik yang mengaju pewaris ajaran BK, para wakil rakyat yang mengklaim diri sebagai penyambung lidah wong cilik, semakin mengaktualkan spiritualitas perjumpaan ini keseluruhan pelayanan mereka bagi para Marhaen yang semakin hari semakin tergencet oleh kapitalisme global yang “haus darah” dan rakus.

Semoga gema maklumat BK terhadap Kaum Marhaen tidak menguap begitu saja dari pemikiran orang-orang yang mengaku anak ideologis BK. Semoga euforia menjadi anak-anak ideologis bukan hanya lips service yang bisa menguap kapan saja bersama angin yang berlalu, tetapi sungguh menjadi perjuangan untuk mewujudkan segenap bangsa yang adil dan makmur atau adil dan sempurna seperti kata BK.

Semoga 51 tahun meninggalnya BK justru semakin meningkatkan militansi perjuangan anak-anak ideologis BK untuk semakin mengakualkan Spiritualitas Perjumpaan dalam Kebhinekaan bangsa Indonesia.