Sejumlah Salah Kaprah dalam Berbahasa Indonesia, Antara Lain “Mengejar Ketertinggalan”

385
Emanuel Dapa Loka

Oleh Emanuel Dapa Loka, Wartawan dan penulis biografi

 

TEMPUSDEI.ID (29 MEI 2021)

Hidup kita selalu diiringi situasi gampang-gampang susah atau susah-susah gampang. Acap kali ada yang menggampangkan berbagai hal. Sebaliknya ada juga yang sering memandang hal sepele sebagai sesuatu yang mustahil. Cukup banyak contoh tentang ini.

Hal yang sama tersua dalam komunikasi, khususnya saat berbahasa, baik lisan maupun tertulis.

Seseorang yang lahir dan bertumbuh dalam sebuah masyarakat pengguna bahasa tertentu misalnya, belum tentu menguasai bahasa itu. Kadang, setelah dia mengambil jarak dengan komunitas itu, dia baru bisa belajar bahasa itu dengan lebih baik. Selama dia “intim” dengan bahasa itu, bisa jadi dia tidak cukup kritis sehingga dia pun ikut meneruskan salah kaprah yang ada tanpa berusaha mengajukan pertanyaan kritis. Akibatnya, pada saat-saat tertentu, ia ikut serta “membenarkan yang biasa” dalam tutur maupun tertulis. Ia sulit mengambil sikap untuk membiasakan yang benar.

Mari kita cerna beberapa contoh kata atau ungkapan yang terteruskan begitu saja sebagai akibat dari kebiasaan “membenarkan yang biasa”. Ada istilah atau ungkapan tertentu, karena dipakai terus-menerus, akhirnya dianggap benar, lalu diteruskan lagi. Begitu seterusnya dan seterusnya.

Mengejar Ketertinggalan

Yang namanya “tertinggal”, pasti ada di belakang. Lalu bagaimana mengejarnya? Sesuatu yang dikejar pasti berada di depan, dan untuk bisa sejajar atau melampauinya, yang mengejarnya harus berlari lebih cepat darinya. Di sinilah diperlukan semangat dan kerja keras lebih.

Kalau hendak tertinggal, tidak usah susah-susah! Berdiam diri saja sambil membiarkan orang lain berlari. Kita pasti tertinggal. Tidak usah mengejar ketertinggalan itu, karena memang tidak bisa dikejar. Ungkapan “Menebus ketertinggalan” lebih masuk akal untuk mengganti ungkapan mengejar ketertinggalan.

Menyembuhkan Penyakit

Cermati baik-baik. Penyakit itu sendiri tidak sakit, justru ia sedang sehat sehingga mampu menyerang manusia. Akibatnya, manusia itu sakit. Penyakit itu tidak perlu disembuhkan, justru harus dibunuh agar seseorang yang sakit—karena diserang penyakit itu—sembuh.

Membersihkan Sampah

Kita sering mendengar ungkapan “Pasukan kuning Ahok sangat cepat membersihkan sampah Jakarta” atau ungkapan senada dari guru sekolah: “Ayo! Cepat bersihkan sampah-sampah itu”. Mari cermat lagi! Sampah  itu tidak perlu dibersihkan. Lain halnya jika sampah yang dikumpulkan itu hendak dijual sehingga perlu dibersihkan terlebih dahulu seperti yang biasa dilakukan para pemulung.

Yang perlu dilakukan adalah mengumpulkan sampah-sampah yang berserakan itu lalu membuang ke Bantargebang, Bekasi agar Jakarta menjadi bersih. Jadi, Jakartalah yang perlu dibersihkan dari sampah yang dibuang secara sembarangan oleh orang-orang kota yang bermental kampungan.

Memakamkan di Permakaman atau di Pemakaman

Perhatikan kata “permakaman”. Kata ini seringkali tidak atau kurang terterima. Buktinya, orang sering menggunakan kata “pemakaman” untuk maksud “permakaman”. Kata dasarnya adalah makam yang berarti kubur. Lalu muncul derivasi atau turunan kata “pemakaman” dan “permakaman”. Pemakaman berarti kegiatan memakamkan, sedangkan permakaman berarti tempat atau kompleks yang di dalamnya terdapat banyak makam. Jadi judul yang benar: Di Permakaman Khusus Belanda itu Ada Makam Si Anu”; bukan Di Pemakaman Khusus Belanda itu, Ada Makam Si Anu.

Yang agak mengherankan, Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI pada satu sisi membedakan kata permakaman dengan kata pemakaman, namun pada sisi yang lain, KBBI menyamakan arti dan kegunaan kedua kata tersebut.

Pertanyaannya, kalau arti kedua kata tersebut (permakaman dan pemakaman) sama saja, untuk apa ada dua bentukan yang berbeda. Adanya perbedaan bentuk semestinya karena mereka memiliki arti yang berbeda.

Tentu saja kalau kita cermat, masih banyak kesalahan-kesalahan kecil yang sudah terlanjur “dibenarkan” karena sudah biasa dipakai.

Apakah kita mau melanjutkan begitu saja? Kalau sudah tahu salah atau keliru, tapi masih meneruskan, ini namanya “dosa kebahasaan”. Sebelum terlalu berdosa, mari berbenah pelan-pelan, kalau bisa cepat, malah bagus. Ya, mari membiasakan yang benar.*