Puisi-puisi Agust G. Thuru tentang Pintu Kemarau dan Wajah Kota

32

DI PINTU KEMARAU

 

Pintu kemarau sudah terkuak
angin bercumbuan di sabana
tempat kaki kecil pernah pahatkan jejak
anak gembala menjaring matahari
merindu senandung di punggung kuda

Angin kemarau berembus kersang
bercumbu pada serumpun pandan pantai
tempat seraut wajah kecil berteduh
memandang derai ombak senja
bersama gemuruh cinta yang menepi

Di ujung senja angin kemarau
membelai rambut perempuan
yang menyusuri padang sabana
memanggul cinta pada alamnya
ia pantang menyerah pada nasib

Angin kemarau menyibak mayang lontar
mencari jejak lelaki penderes
senandung senja menyongsong malam
masih lekat pada seutas kenangan
kisah tanah leluhur tak terhapuskan

Pada angin musim kemarau
seutas kata bertuah leluhur titipkan
untuk menyapa roh kehidupan

sebab di mana jasadnya ditanam
di situ jiwa rindu bertandang

 

WAJAH KOTAKU

Wajah kotaku menepi di musim ini
ketika virus menjadi pedang
yang siap mentetak nadi kehidupan
Sapa percintaan beragam aksara
tak lagi terdengar akrab

Kotaku kian hari terjepit sunyi
jejak kaki hitam putih
tak lagi terpapar di jalanan
para pencari suaka keindahan
menyepi di negeri leluhurnya

Kotaku kian tertawan
ketakpastian entah sampai kapan
korona mengubur semua impian
satu persatu daun berguguran
terjebak pada nasib harus mengalah

Kotaku masih tetap setia
hanya menutup setengah daun pintu
agar tak seluas cakrawala
sebab ujung galah korona
masih tajam menusuk kehidupan

Kotaku setia memeluk
tubuh-tubuh yang berpeluh
oleh ketakberdayaan hidup
biarkan napas terus berlanjut
sampai tiba di garis batas

Denpasar, 05.05.2021

Facebook Comments

BACA JUGA:  Puisi-puisi Weinata Sairin tentang Negeri yang Menangis, Doa di Tengah Badai dan Aib Negeri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here