Puisi Pendeta Weinata Sairin tentang Pagi Putih Ramadan dan Agama yang Berlimpah Cinta Kasih

35
Pendeta Weinata Sairin

PAGI PUTIH BULAN RAMADAN

Oleh Weinata Sairin

Ada pagi putih bersih
jatuh menikam bumi yang luka bernoda

Aroma surgawi
tiba-tiba saja
terendus mulus
menghadirkan rasa nikmat
aman dan nyaman

Ada pagi putih suci
turun dari langit putih kemilau
dari masjid tak jauh dari rumahku
ayat-ayat suci Al-Quran dilantunkan
menyadarkan umat
bahwa hidupnya dililit kefanaan
kefanaan definitif, absolut dan adequat

Di bulan ramadan
umat terpanggil menunaikan ibadah puasa
melatih emosi
melatih pengendalian diri
melatih hidup suci
melatih berjalan
di jalan lurus
melatih sikap menolak tamak
melatih diri membiasakan berbagi dan empati
melatih diri mewujudkan praktik keagamaan yang kafah
membiasakan diri
melaksanakan tobat nasuha

Di pagi putih bulan Ramadan
ada rasa syukur
menggeliat dalam ruang-ruang kehidupanku
sohibku, teman-temanku
makin saleh, beriman dan bertakwa
kurindu mereka mau lakukan itu
di sepanjang kehidupan
dan tidak sekadar
menjadi agenda
bulan Ramadan.

Jakarta, 22 April 2021/5.05

AGAMA BERLIMPAH CINTA KASIH

Manusia itu makhluk paling mulia di dunia
ia mampu berpikir
ia memiliki nawaitu
ia piawai berbahasa
ia pandai berakting
ia pandai berdiplomasi
ia ahli buron dan hilang dari peredaran

Manusia itu makhluk
paling mulia di dunia
Allah menciptakannya secara unik,
spesifik dan istimewa
beda signifikan dengan
mencipta makhluk biasa
dalam kitab suci
manusia disebut
kalifatullah, imago dei,
dan sebutan-sebutan lain
pertanda keagungannya

Manusia ternyata adalah sosok ambisius
ia berhasrat ingin jadi tokoh ini itu
pernah dalam kepingan sejarah
ada tertoreh
titik nadir hasrat manusia :
ia ingin jadi yang ilahi
ia ingin berubah status dari makhluk menjadi
Khalik
ini hasrat yang menghancurkan korps manusia
terlepas hasrat itu
logis dan akademis

Obsesi dan halusinasi manusia yang liar
Membabi-buta dan
bertentangan diametral dengan kefanaannya
mesti diakhiri
tak bisa diabaikan

Agama menuntun manusia untuk meniti jalan hidup
seiring dengan hakikat kediriannya

Agama adalah semacam juklak ilahi agar hidup manusia berada pada jalan lurus
koridor sempit yang telah ditetapkan Sang Khalik semesta alam

Agama memiliki roh vertikal trandental dan sakral
ajaran agama wajib diejawantahkan
dalam dunia nyata
dalam pikiran, perkataan dan perbuatan
ajaran agama tak boleh disimpan
dalam memori kolektif umat
ajaran agama mewarnai nawaitu
menjadi darah daging dan roh para penganutnya

Semua agama mengajarkan cinta kasih yang bersumber dari Yang Ilahi
agama wajib diwujudnyatakan
di tengah ruang-ruang sejarah
agama tak boleh dinista, dinodai, dilecehkan,dicederai, dibenci, dihancurkan
agama-agama mesti dipupuk, dirawat, diapresiasi
diberi ruang untuk hidup dan membuah
agar manusia bisa hidup dan membuah!

Jakarta, 23 April 2021/3.35

Facebook Comments

BACA JUGA:  Puisi Ulang Tahun Tahbisan Uskup Vinsen Sensi Potokota dari Agust G. Thuru

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here