Puisi-puisi Filsiane Mithan tentang Ibu dan Ayah

148
Filsiane Mithan

TEMPUSDEI.ID (13 APRIL 2021)

Terima kasih, Ayah dan Ibu

IBU

Banyak waktu yang kau luangkan untuk kami
Banyak waktu yang kami buang bukan untukmu
Uban sembunyikan isi kepala yang kau pikir untuk kami
Usia kami seakan lebih penting dan melupakanmu

Kami begitu mencintai mimpi-mimpi dunia
Kau bersujud mencintai kami dengan nyata
Kau menentang dunia yang membenci kami
Kami menyukai dunia yang justru menjatuhkan kami

Kadang kami lupa bersyukur terlahir dari rahimmu,
tapi kau begitu bahagia bisa memiliki kami,
katamu “anugerah terindah”…
Kau membaca isi hati kami,
tapi kami begitu acuh tak acuh pada kerutan-kerutan tua pipimu yang lelah

Ibu, kami punya emas dan berlian untukmu,
tapi kami lupa membelikanmu sendal jepit.
Benarkah semesta menempatkan Surga di telapak kakimu?
Ibu, biarkan kami membasuh kakimu saja dan menggendongmu,
agar Surga kami tetap bersih.
Beritahulah pada semesta selalu merestui perjalanan hidup kami,
agar kami tidak terlena sepatu kaca Cinderela
tapi lebih bersyukur memiliki sendal jepit.

Terimakasih ibu di seluruh dunia

Maumere, 2021

AYAH

Pagi dan senja sangat cepat berlalu,
kau sudah tak muda lagi, sudah layu…
Ketika rasanya baru kemarin aku jadi bocah,
malah kini makin lincah, kau makin renta…

Ayah, sudah setengah abad kini,
tiang rumah kita sudah mulai dimakan rayap,
atapnya sudah karatan dan berlubang
Aku takut melihatmu makin uzur,
aku belum bisa membuat tangga untuk perbaiki atap,
aku malu menatap cakrawala,
bahkan saat malam gelap pun aku sembunyi dari bintang-bintang…

Ayah, hari demi hari memangkas usiamu
Koran-koran yang dulu kau baca sudah kusam jamuran
Kursi goyang di teras, kakinya sudah lapuk termakan zaman,
aku belum bisa membeli yang baru.
Ayah, lenganku tak bisa memikul beban berat
bahkan untuk mengusap keringatku sendiri aku masih begitu lemah
Aku masih terus belajar agar menjadi kuat,
setidaknya bisa jadi pangkuanmu saat tongkat kayu itu patah…

BACA JUGA:  Karena Penyamun itu Keparat, KPK!

“Orang tua tidak butuh harta kita, mereka butuh cinta di usia senja”
Untuk lelaki terhebat yang kita sebut “ayah”.

Maumere, 11 April 2021

Filsiane Mithan, lahir pada 30 Juni 1992 di Ende Flores. Lulusan FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Flores Ende. Hobby membaca novel dan menulis puisi.

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here