Mukjizat di Katedral Makassar! Cosmas, Koster Selamat walau Jaraknya Hanya Satu Meter dari Bom

1987
Cosmas Balalembang, Koster merangkap Security sesaat setelah ledakan. (ist)

TEMPUSDEI.ID (30 MARET 2021)

Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas dan Dirjen Bimas Katolik Yohanes Bayu Samodro mengunjungi Koster Cosmas di Rumah Sakit. (ist)

Terik matahari sudah terasa panas pada pagi menjelang siang itu. Jam menunjukkan pukul 10.35 waktu Indonesia bagian tengah. Umat Katolik yang mengikuti Misa kedua pada perayaan Minggu Palma (28 Maret 2021) di Gereja Katedral Makassar sudah mengangsur-angsur pulang. Sementara umat yang akan mengikuti Misa ketiga sudah mulai datang.

Tidak ada yang istimewa atau yang mengundang banyak perhatian di pelataran Katedral saat itu. Tapi entah mengapa, Cosmas Balalembang yang tugas utamanya sebagai koster, setelah membereskan tugasnya di sakristi bergegas ke pintu gerbang masuk kompleks gereja.

Saat itulah dia melihat dua orang berboncengan dengan motor beberapa kali mondar-mandir di depan gereja. Dia sudah menaruh curiga dengan gerak-gerik mereka. Maka ketika keduanya hendak masuk ke halaman gereja, dia tidak izinkan dan menahan mereka mati-matian.

Ketika menahan, jarak kedua pengendara itu dengan Cosmas hanya satu meter. Sementara beberapa orang lain berada dalam jarak yang lebih jauh sekitar 3-5 meter. Hanya dalam hitungan beberapa detik kemudian, terjadilah ledakan dahsyat yang berasal dari kedua pengendara tersebut.

Seketika itu kedua pelaku diterjang bom. Tubuh laki-laki bernama Lukman terlempar agar jauh bersama motor yang mereka kendarai, sedangkan badan perempuan yang kemudian diketahui adalah istrinya yang baru dinikahinya enam bulan lalu, terpental jauh. Tubuh kedua pelaku hancur.

“Sesaat sebelum pingsan, Cosmas sempat melihat bom itu menghancurkan tubuh pelaku. Setelah itu Cosmas tidak ingat apa-apa lagi,” jelas Yohanes Bayu Samodro, Dirjen Bimas Katolik yang mengunjungi para korban di rumah sakit kepada tempusdei.id.

Daya ledak bom tersebut tergolong high explosive. Sebelas orang mengalami luka-luka, termasuk Cosmas Balalembang dengan luka di beberapa bagian tubuhnya. “Saya lihat pas dia mau masuk. Saya tahan lalu meledak,” ucap Cosmas dalam sebuah video yang beredar luas.

Pastor paroki Katedral Makassar Pastor Wilhelmus Tulak dan Uskup Agung Makassar Mgr. John Liku Ada’ sangat mengapresiasi keberanian Cosmas. “Kalau tidak ada Cosmas, bagaimana sudah jadinya umat,” ungkap Uskup dengan suara sedikit bergetar dan mata berkaca-kaca saat bertemu Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas yang berkunjung ke Katedral pada 29 Maret 2021.

Ormas Kompak

Seperti dikatakan Bayu Samodro, sutuasi di sana sudah kondusif. “Hanya memang karena baru dua hari, kejadian itu masih meninggalkan perasaan traumatik dan ketegangan di wajah para imam dan umat dan Bapak Uskup. Tapi sudah kondusif,” ujar Bayu.

Yang menggembirakan menurut Bayu, Ormas-ormas Katolik di sana seperti PMKRI, FMKI, ISKA, Pemuda Katolik, WKRI, Vox Point solid dan berdatangan untuk memberikan peneguhan kepada para pastor dan Uskup. Mereka juga mengeluarkan pernyataan-penyataan yang meneduhkan dan menguatkan.

Tentang para korban, Bayu menjelaskan, tidak semua yang dirawat itu adalah umat Katolik. Ada juga korban dari masyarakat yang hanya lewat di depan gereja. Umat Katolik sendiri 6 orang dari 11 orang yang dirawat.

Luka Koster Cosmas, sudah mongering, masih lemah, namun bisa berbicara lancar. “Dia yang ada persis di titik ledakan. Mukjizatnya di situ. Kalau lihat posisinya, mestinya dia sudah meledak juga, tapi justru yang agak parah yang agak jauh, dalam radius 3 meter yang kena luka bakar. Jenis bom ini, lontaran apinya jauh. Yang dekat justru tidak tersambar api. Makanya Cosmas hanya terkena serpihan bom, tidak terkena bara apinya,” jelas Bayu lagi.

Atas kejadian tersebut, Bayu mengajak Umat Katolik untuk tidak khawatir dan menyerahkan penanganan kasus kepada aparat kemanan setempat.

Dia juga berharap agar semua pimpinan agama bisa mengendalikan khotbah atau dakwah-dakwahnya.

Lebih jauh kata Bayu, yang terkena dampak bukan hanya umat Katolik, tapi umat Islam lainnya yang merasa ternodai oleh aliran semacam ini. “Semua sedang cooling down untuk tidak terpancing situasi agar tidak saling menyalahkan dan memberi argumen yang bisa kontraproduktif,” pungkas mantan Sekretaris Dewan Paroki Santo Laurentius Alam Sutera, Tangerang ini. (EDL/tD)