Puisi-puisi Weinata Sairin tentang Derita di ICCU dan Korupsi

42
Weinata Sairin

DI RUANG ICCU

Di ruang ICCU
sobatku terkapar kelu dan beku
kemarin malam
Ia dilarikan
ambulance
langsung dari ruang pengap
berjeruji besi

Belum sebulan
ia hidupi hidup redup
tanpa harap
sesudah hukumannya diketuk di pengadilan
empat tahun
ditambah denda
seratus juta

Sobatku orang jujur dan soleh
ia hidup di tengah
figur koruptor berdasi

Ia terjerat proyek
pembangunan jalan
dan tak bisa mengelak

Ia membunuh
karakter keluarganya
Anaknya dosen PTN
Istrinya wakil bupati
Pupus sudah hari depan keluarga

Libido korupsi
mengintervensi
hidup nir noda dan bersih
Syahwat korupsi
menghancurkan nama baik
meruntuhkan kredibilitas
yang dibangun puluhan tahun

Di ruang ICCU
sohibku terkapar
menggelepar
lesu dan kelu.
Jakarta, 20 Maret 2021/5.00

KHOTBAH TENTANG KORUPSI

Hari minggu
selalu menjadi hari istimewa bagi
warga gereja
Hari beraroma surgawi
Hari bergenre transendental
Hari tatkala sipiritualitas disirami
ayat-ayat kitab suci

Umat datang ke gedung gereja
dengan hati putih bersih
apa pun warna pakaian mereka
mereka siapkan hati yang bersih
bebas dari pikiran deviatif

Dan seorang pendeta muda berkhotbah dengan suara lantang:
“Gereja harus sungguh-sungguh
melawan korupsi
ia tak boleh melindungi para koruptor
ia harus berani menolak persembahan
yang berasal dari hasil korupsi
Korupsi
adalah aib dan dosa terbesar manusia modern!”

Tatkala ibadah usai
umat nampak puas mendengar khotbah yang cerdas bernas berkualitas
minggu yang lalu
adik bungsu pendeta
ditangkap KPK!
Jakarta, 27 Maret 2021/16.35

Weinata Sairin adalah Teolog dan penyair

Facebook Comments

BACA JUGA:  Puisi-puisi Sultan Musa dari Samarinda

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here