Orang Katolik Harus Mampu Hadirkan Wajah Gereja yang Berpihak

102
Serial ketiga KKM Pemuda Katolik Komda DKI Jakarta

TEMPUSDEI.ID (25 MARET 2021)

Azas Tigor, Yustinus dan Inosentius

Berbicara tentang “Kaderisasi dan Transformasi Awam” dalam seri ketiga Kursus Kepemimpinan Menengah (KKM) Pemuda Katolik Komda DKI Jakarta pada 20 Maret 2021, Azas Tigor Nainggolan (Aktivis FAKTA/Forum Warga Kota Jakarta) mengatakan, setiap orang Katolik harus mampu menghadirkan wajah Gereja yang berpihak pada korban ketidakadilan dan rakyat kecil.

Tigor memandang, dalam keberpihakan itu, adalah tepat jika Pemuda Katolik menggunakan pendekatan advokasi untuk memecahkan persoalan yang berkembang dalam masyarakat.

Ia menjabarkan terjadinya dominasi modal dan negara atau kekuasaan yang timpang atau tidak seimbang yang kerapkali merugikan rakyat kecil. Untuk itu tegas Azas, dibutuhkan pendekatan advokasi.

Advokasi jelasnya, adalah kegiatan sistematis dan terorganisir untuk memengaruhi dan mendesak terjadinya perubahan cara pandang, perilaku, sikap dan kebijakan pada publik serta kekuasaan secara bertahap maju.  Advokasi dapat dilakukan secara litigasi (jalur hukum) maupun non litigasi.

Ia menunjuk masalah lingkungan hidup, kemacetan transportasi, kemiskinan sebagai contoh isu advokasi publik di Jakarta yang dapat ditangani.

Tigor juga mengapresiasi upaya Pemuda Katolik Jakarta yang sedang bergiat melakukan perubahan untuk menjadikan organisasi ini sebagai sarana mengadvokasi bagi masyarakat.

Tema Serial III KKM Pemuda Katolik DKI Jakarta tersebut adalah “Change Management Organisasi dan Perencanaan Strategi atau Action Plan”. Selain Tigor, panitia juga  menghadirkan Staf Khusus Menkeu RI Yustinus Pratowo  dan Innosentius Samsul (Kepala Badan Keahlian DPR RI).

Pada kesempatan ini, Yustinus Prastowo  mengajak peserta KKM melihat kondisi terkini berikut berbagai tantangan dalam perubahan dunia yang akan berpengaruh besar dalam perubahan internal organisasi.

Menurut pendiri ForGES (Forum Gaudium et Spes) ini, ada tantangan kaderisasi yang harus disikapi di saat intoleransi dan radikalisme menguat di Indonesia. Ia mengajak untuk tidak sekadar melakukan evaluasi, tetapi melakukan refleksi untuk memahami kaderisasi yang cenderung mandeg.

BACA JUGA:  Pemaksaan Siswi Non Muslim di SMKN 2 Padang Menggunakan Jilbab, Bikin Malu dan Disesalkan

Dalam konteks perubahan organisasi, Yustinus mengajak Pemuda Katolik untuk turut bergerak di ruang publik. Untuk itu jelasnya, kader harus memiliki pertama, pengetahuan teknis yang memadai. Kedua, daya pertimbangan yang mencukupi. Ketiga, kemampuan analisis yang baik dan keempat, komitmen secara tepat dan konsisten.

“Banyak medan keterlibatan yang dapat dilakukan oleh para kader Pemuda Katolik baik dalam aspek sektoral, profesi, jaringan, dan model,” ungkap kolumnis di berbagai media ini.

Sementara itu, berbicara tentang mengelola perubahan dalam organisasi, Inosentius Samsul membagikan pengalamannya dalam mengelola Badan Keahlian DPR RI yang dipimpinnya. Badan Keahlian DPR RI ini memiliki urgensi dalam penguatan mekanisme check and balances antara Eksekutif dan Legislatif melalui penyediaan data dan informasi yang bagi pelaksanaan tugas dewan yang dilakukan oleh para ahli.

Untuk itu jelasnya, dibutuhkan kerangka proyek perubahan yang dimulai dari bagaimana melihat kondisi saat ini secara utuh yang di antaranya mengidentifikasi kendala-kendala yang terjadi dan strategi pemecahannya, kemudian menyusun strategi atau inovasi sebagaimana arah perubahan ke depan yang hendak dicapai.

Inosentius menegaskan bahwa perubahan itu membutuhkan dukungan banyak pihak. Ia berharap Pemuda Katolik dapat melakukan perubahan dalam organisasi dengan tahapan yang kurang lebih serupa.

Beny Wijayanto, Sekretaris Pemuda Katolik Komda DKI Jakarta

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here