Puisi-puisi Weinata Sairin tentang Makam Sepi dan Ketertegunan

29
Sebuah permakaman (ilustrasi)
Burung pun kesepian

MAKAM ITU SEPI

makam itu sepi
rumput liar dan lalang menutupi
banyak makam
nama-nama yang terpahat di batu nisan
tak lagi bisa terbaca dengan jelas

makam itu sepi
di hari raya seperti ini
tak banyak orang yang berziarah
bunga-bunga layu kering berserakan
tiada terurus
di sepanjang makam

hampir satu jam
baru kudapatkan
makam adikku
batu nisannya redup dan hitam
dimakan usia
lima tahun yang lalu ia mengakhiri hidupnya di balik jeruji besi
korupsi ratusan juta
dalam proyek pengadaan jalan tol membelenggunya di ruang lapas yang pengap

ia kecewa berat
bosnya yang meraup uang paling banyak dalam korupsi bersama
bisa terbebas dari tuntutan hukum
bahkan tetap nyaman bekerja
tiada tersentuh
proses peradilan

makam itu sepi
kicau burung sesekali memecah sunyi
sambil melangkah
pulang kubergumam:
“kapan hukum ditegakkan di negeri ini tanpa tebang pilih?
kapan hukum benar-benar dilaksanakan di negara hukum?”

makam itu sepi
ku melangkah pulang mengoyak sepi
makam penuh dengan mereka yang telah mati
hukum tak boleh mati
hukum harus terus hidup membela kebenaran sejati!

Jakarta,18 Maret 2021/15.00

KUTERTEGUN DI DEPAN GEREJA

di depan gedung gereja
dengan lambang salib tinggi menjulang
kutertegun
di hari minggu pagi

di depan gedung gereja
bercat putih
banyak orang
bermasker putih
antree memasuki
gedung gereja

selepas dari lapas
kumerasa risih
beribadah di gedung gereja
hatiku menjerit kuat
ku tak mampu lagi
mendengar lagu-lagu surgawi
ku tak kuat lagi mendengar ayat-ayat kitab suci
dibacakan lantang oleh seorang penatua
yang baru saja dipilih
kuterharu tatkala
kaum lansia gereja
melantunkan pujian sakral
dengan persis partitur

kakiku berat melangkah memasuki ibadah minggu
kubayangkan cemooh umat
kubayangkan khotbah yang menohok
kubayangkan
bayangan-bayangan masa lalu
yang membayangi
masa depanku

BACA JUGA:  Puisi-puisi Pendeta Weinata Sairin tentang Hujan, Korupsi dan Korona

di depan gedung gereja
dengan salib menjulang ke angkasa
kutertegun
lalu dengan hati pedih perih penuh luka menganga
kuberjalan pulang
segumpal duka
mengendap di dada.

Jakarta, 21 Maret 2021/5.55

Weinata Sairin adalah teolog dan penyair

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here