Puisi-puisi Weinata Sairin tentang Aib Negeri dan Doa Seorang Buronan

61
Pdt. Weinata Sairin,
pekat dosa

AIB-AIB MENODAI NEGERI

Oleh Weinata Sairin

ada orang-orang berhikmat bilang
Tuhan sedang memberikan peringatan keras
bagi umat manusia
yang Ia ciptakan

ada penyiar agama berdakwah
lewat youtube dan
media on line
hari kiamat sudah di depan mata
beragam tanda zaman telah diturunkan
agar manusia bertobat
kembali ke jalan lurus

virus yang mengganas
bencana alam
mendatangkan kelam
longsor, tanah bergerak, banjir
merendam kaum miskin
etik, moral yang meruntuhkan keberadaban
hadir menorehkan
sejarah hitam
dalam lorong-lorong kehidupan umat manusia

merebak
kejahatan seksual, KDRT, perdagangan perempuan, arisan bodong, beragam jenis penipuan
telah hadir
dan mencemarkan
negeri beragama

agama-agama nyaris kehilangan
spirit dan power-nya
lalu manusia mendirikan agama baru, menahbiskan nabi baru yang dianggap lebih heroik,
visioner dan mampu
menjawab kebutuhan umat

korupsi terjadi di mana-mana
hampir setiap saat
oleh siapa saja
para koruptor berdasi menggunakan multi strategi
mengeruk uang negara
untuk pengayaan pribadi, kepentingan lembaga dan komunitas

korupsi adalah aib-aib yang mengotori NKRI
korupsi adalah
pembusukan negeri yang penduduknya ramah-tamah dan alamnya indah menawan
korupsi adalah perlawanan dan penjungkirbalikan ajaran agama
korupsi adalah tindakan melawan hukum yang mengambil hak orang lain dan menimbulkan kemiskinan
korupsi sebagai aib bagi negeri
mesti dilawan
tanpa henti
mesti dibersihkan
dari vokabulari
setiap anak bangsa!

Jakarta, 15 Maret 2021/3.55

 

Masih ada cahaya di sana

DOA SEORANG BURONAN

Oleh Weinata Sairin

koruptor itu
melarikan diri
dari kenyataan
sesudah melahap
miliaran rupiah
dari kantornya

ia pun terbang
ke negeri seberang
lalu mengatur
skenario lanjutan
dengan piawai
sambil menikmati
kehidupan diaspora tanpa beban

setiap saat
ia video call dengan istrinya, anaknya
mendeteksi dan memantau berbagai perkembangan
hidup berlimpah uang di negeri orang
dengan berbuat curang
jauh dari hidup tenang

tatkala ia dililit sepi
nuraninya mengungkap tanya:
untuk apa semua ini mesti ditempuh
jika hidup dicekam cemas waswas
kadang ada juga rasa sesal
membelah hati kecil
ambivalensi menguasai diri
ia lalu tenggelam
dalam mimpi-mimpi yang ranum

di suatu malam
ketika gelap menyergap
ia ingat lagi masa kecil yang indah bersama kawan-kawan sebaya
teringat jelas pendidikan agama
yang telaten disampaikan ayah ibu
pendalaman agama yang diberikan sosok rohaniwan sepuh

malam itu ia diguncang memori masa lalu
dalam suasana
sunyi, khusuk, penuh devosi
ia melafaz doa:
“ya Tuhan, ini tubuhku berlumur dosa, ini diriku dililit aib dan noda,
ini mulutku penuh narasi cemar dan kemunafikan,
Tuhan kuingin mengubah hidupku, kumau bertobat, kuingin kembali ke jalan-Mu yang lurus
Tuhan, aku mengetuk di pintu-Mu
basuh tubuhku dengan rahmat-Mu!”

Jakarta, 16 Maret 2021/3.40

Weinata Sairin adalah Teolog Kristen dan penyair

Facebook Comments

BACA JUGA:  CERPEN: Kontas Merah dalam Genggaman Ina Bunga

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here