Pastor Leo Joosten OFM Cap, Cinta Hidup dan Cinta Matinya Tertambat di Tanah Batak

874
Pastor Leo dengan latar belakang Gereja Santo Fransiskus Brastagi. (Foto: ist)

Pastor Leo dan Ibu Lisa Tirto Utomo (pencinta dan pelestari budaya).

TEMPUSDEI.ID (1 Maret 2021)

Sebuah berita duka berembus dari Tanah Batak. Pastor Leo Joosten OFM Cap, imam yang sangat mencintai tanah, umat dan budaya Batak itu dipanggil Tuhan pada Minggu, 28 Februari 2021 di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan, Sumatera Utara.

Boleh dikatakan, tinggal kulit putihnya yang membedakan dirinya dengan orang-orang Batak. Betapa tidak dikatakan begitu? Sudah 50 tahun dia hidup dan berkarya, hidup bersama masyarakat Batak. Dia pun telah mendapat marga Batak, yakni Marga Ginting.

Ketika tiba di Indonesia pada 19 Januari 1971, Pastor Leo baru berusia 29 tahun. Saat itu, dia tidak punya banyak informasi tentang Indonesia. Yang dia pernah tahu hanyalah bahwa daerah misi tujuannya adalah negeri yang sangat indah, dan di jantung daerah misinya, terdapat sebuah mutiara indah bernama Danau Toba.

Pastor Leo adalah anak ke-8 dari 11 bersaudara dari pasangan Henricus Wilhelmus Joosten dan Henrica Maria Sanders.

Pada 19 Januari 2021, dia genap 50 tahun melayani di Indonesia dan dia pun telah menjadi WNI. Sebenarnya, menurut rencana akan sebuah Misa meriah untuk merayakan Pesta Emas Imamatnya, namun tertunda karena pandemi korona. Direncanakan diadakan tahun 2021, namun  Pastor Leo telah pergi untuk selama-lamanya.

Pastor Leo mengawali tugas perutusannya sebagai misionaris di Paroki Pakkat, sebuah paroki terpencil (ketika itu) di Keuskupan Agung Medan. Di paroki ini Pastor Leo sukses menjadi seorang misionaris selama 12 tahun, termasuk menggembangkan Paroki Parlilitan yang lebih terpencil lagi. Dia masuk dan menyelami seluruh aspek kehidupan umat dengan pendekatan yang simpatik, ramah, dan humoristis. Dalam berkarya Leo memegang satu prinsip yang membuatnya dicintai umat, yakni melayani dengan sepenuh hati.

BACA JUGA:  Umbu Landu Paranggi, Pergimu Dalam Balutan Misteri

Menyusuri Jejak

Pastor Leo tekun membaca dan belajar

Mengenang Pastor Leo adalah menyusuri jejak-jejak pelayanannya yang terbentang dari Pakkat, Parlilitan, Pangururan, Kabanjahe, Brastagi,  sampai Nusantara. Selain membangun atau merehab gereja, ia juga membangun karya-karya bersejarah.

Dia mendirikan CU Pardomuan (dan CU Saroha) di Paroki Pakkat, kini Kabupaten Hubbang Hasundutan, Sumatera Utara,  pada tahun 1974. Menurut data terakhir, CU Pardomuan sudah beromset lebih dari 170 milyar rupiah. Berkat CU ini kehidupan ekonomi umat berkembang secara menggembirakan.

Pastor Leo juga mencintai budaya dan kearifan lokal. Di Pangururan misalnya, ia mendirikan “Gereja Inkulturasi Batak Toba”, di bawah gedung gereja itu terdapat “Museum Pusaka Batak Toba”.

Gereja dan museum tersebut menjadi kebanggaan bukan saja bagi umat Paroki Pangururan, tetapi juga menjadi salah satu destinasi wisata penting di Pulau Samosir.

Gereja Santo Fransiskus Assisi Brastagi, Tanah Karo adalah karyanya yang lain. Tidak jauh dari gereja ini, dia juga membangun sebuah Museum Pusaka Karo. Museum ini merupakan museum kedua terbesar di Sumatera Utara dan menyimpan 900 koleksi budaya.

Di tingkat nasional, pada 22 Agustus 2015, Pastor Leo meraih Penghargaan Sastra Rancage Nasional di Perpustakaan Ajip Rosidi, Bandung. Penghargaan ini untuk pertama kali diberikan kepada orang luar Jawa dan Bali, sesudah lembaga ini berdiri 27 tahun. Penghargaan ini diberikan kepada orang yang dianggap berjasa bagi pelestarian budaya lokal dan sastra.

Pastor Leo juga telah menulis 23 buah buku budaya antara lain Kamus Batak Toba – Indonesia, Kamus Karo – Indonesia, dan Ensiklopedi Karo.

Pastor Leo masih memiliki banyak karya monumental lagi yang patut dikenang dengan penuh takzim. Kini Pastor Leo telah tiada. Tanah Batak akan memeluknya erat-erat karena akan dimakamkan di sana. Ini berarti, cinta hidup dan cinta matinya benar-benar tertambat di Tanah Batak.

BACA JUGA:  James Koleangan: Buah Kesuksesanku juga adalah Hak Allah dan Sesama

Semoga seluruh hidup dan karyanya menjadi dupa yang harum di Istana Cinta Tuhan, saat ia melihat langsung wajah Penciptanya. (tD menyadur dari hidup)

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here