Mendengarkan Yesus, Anak Allah yang Terkasih

198
Pater Remmy Sila, CSsR

Oleh Pater Remmy Sila, CSsR, Superior Misi Samoa, Provinsi Redemptoris Oceania

TEMPUSDEI.ID (28 FEBRUARI 2021)

Hari ini kita memasuki Minggu kedua perjalanan kita bersama Yesus dalam Masa Prapaskah. Hari ini Yesus sekali lagi diperkenalkan kepada kita dalam peristiwa perubahan wajah dan penampakkan secara sekilas kemuliaan-Nya sebagai Anak Allah. Dalam peristiwa ini, hanya satu hal yang Tuhan minta dari kita, yaitu, “Dengarkanlah Dia!” Jika kita mendengarkan Yesus, kita akan sukses dalam perjalanan iman kita bersama-Nya pada masa penuh rahmat ini dan dalam ziarah iman kita selanjutnya sampai tiba di rumah Bapa.

Dalam bacaan pertama dari Kitab Kejadian 22: 1-2, 9-13, 15-18, diwartakan kepada kita bagaimana Allah menguji iman Abraham dengan memintanya untuk mempersembahkan Ishak anak satu-satunya kepada Allah sebagai korban sembelihan. Dan Abraham mengikuti perintah Tuhan tersebut karena imannya yang besar kepada Tuhan. Tuhan meminta Abraham untuk melakukan sesuatu yang berabad-abad kemudian dilakukan oleh Allah sendiri. Perintah kepada Abraham untuk mempersembahkan putera satu-satunya hendak menggambarkan bagaimana kelak Tuhan akan mempersembahkan putera tunggal-Nya untuk keselamatan kita. Tuhan akhir mencegah pengorbanan Ishak karena melihat iman Abraham yang yang begitu kuat.

Apa yang bisa menjadi pelajaran bagi kita umat beriman di zaman ini dari iman Abraham yang luar biasa ini. Pertama, untuk memiliki iman yang kuat, kita harus senantiasa mendengarkan Sabda Tuhan dan menaati perintah Tuhan. Kedua, percaya sepenuhnya kepada Tuhan. Ketiga, senantiasa bermurah hati untuk memenuhi permintaan dari Tuhan karena Ia Tuhan selalu bermurah hati kepada kita. Masa Prapaskah yang sedang kita jalani ini adalah suatu kesempatan bagi kita untuk berhenti sejenak, merenung dalam keheningan dan bertanya kepada Tuhan, “Tuhan, apa yang Engkau kehendaki daripadaku untuk aku lakukan demi kemuliaan nama-Mu dan demi keselamatanku sendiri dan sesamaku?” Jawaban Tuhan sangatlah sederhana yaitu  kita harus senantiasa mendengarkan Dia dan melakukan apa yang diminta-Nya dari kita sebagaimana dilakukan oleh Abraham, bapa semua orang beriman.

BACA JUGA:  Siapakah Aku?

Bacaan kedua dari Roma 8: 31-34 juga sangat menggembirakan kita karena penuh dengan harapan, khususnya selama masa Prapaskah ini. Santo Paulus meyakinkan kita bahwa: “Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita.” Keyakinan ini didasarkan pada kenyataan bahwa Tuhan tidak menyanyangkan Anak-Nya sendiri, tetapi menyerahkan-Nya bagi kita semua. Seperti Abraham, Tuhan tidak egois tetapi sangat murah hati. Sebaliknya. Dia dengan rela menyerahkan Putera-Nya demi keselamatan kita. “Karena begitu besar kasih Allah bagi dunia ini, sehingga Ia telah menganugerahkan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh 3: 16).

Hal ini membuktikan bahwa Tuhan siap melakukan apapun yang baik untuk menyelamatkan kita. Maka yang perlu kita lakukan adalah terus mendengarkan Yesus, Anak Allah yang terkasih dengan penuh perhatian. Tuhan senantiasa siap untuk memastikan bahwa kita sampai ke tujuan kita yang sebenarnya karena Yesus senantiasa menyertai kita dalam peziarahan iman kita.

Transfigurasi

Sedangkan Injil hari ini dari Markus 9: 2-10, mewartakan kepada kita peristiwa transfigurasi (perubahan) wajah Yesus di atas sebuah gunung yang tinggi. Peristiwa ini terjadi ketika Yesus sedang dalam perjalanan menuju Yerusalem untuk menghadapi penderitaan dan kematian-Nya. Dalam peristiwa ini menampakkan sekilas kemuliaan-Nya kepada tiga murid-Nya untuk memberikan harapan dan kekuatan iman kepada mereka sebelum mereka menyaksikan peristiwa tragis yang akan dihadapi Yesus. Sekali lagi, transfigurasi hanyalah cerminan sekilas tentang anugerah dan kemuliaan Tuhan.  Peristiwa perubahan wajah Yesus ini mengungkapkan kemuliaan masa depan-Nya. Namun untuk mencapai kemuliaan ini, Yesus harus terlebih dahulu menderita dan disalibkan. Dan ini adalah jalan yang  harus kita tempuh juga untuk mengambil bagian dalam kemuliaan Yesus yang besar dalam kerajaan-Nya.Tanpa kesediaan untuk melewati jalan salib, jalan penuh penuh penderitaan, hinaan dan siksaan, kita tidak akan ikut ambil bagian dalam kemuliaan Kristus di akhir ziarah hidup kita.

BACA JUGA:  Tuhan Tidak Seperti Boss Besar di Kantor

Sebagaimana bacaan kedua, bacaan Injil hari ini merupakan pesan pengharapan. Melalui bacaan Injil hari ini, Tuhan menyatakan kepada kita kemuliaan yang akan menjadi milik kita kelak melalui dan bersama Yesus. Tuhan sekali lagi memperkenalkan Yesus, Putera-Nya yang terkasih dengan berkata: “Inilah Anak yang Kukasihi…” Dan Dia hanya menuntut satu hal dari kita: “Dengarkanlah Dia!”

Mendengarkan Yesus di sini berarti bersedia untuk mengubah hidup  secara total yang menyangkut cara berpikir, cara bertutur dan cara bertindak kita.  Kita harus bersedia hidup menurut Sabda Tuhan yang kita dengarkan atau baca setiap hari. Mendengarkan Yesus juga berarti menaati kehendak Bapa-Nya dan memperhatikan dan menaati apa yang diajarkan Gereja secara resmi  kepada kita.

Melalui Orang Miskin

Dewasa ini, Yesus berbicara kepada kita melalui orang-orang miskin dan terpinggirkan atau sering sengaja dipinggirkan, melalui orang-oarng kecil dan tak berdaya, melalui orang-orang sakit, melalui orang-orangtua yang terabaikan, melalui anak-anak terlantar dan melalui jutaan orang yang menjadi korban covid-19 di seluruh dunia. Yesus juga berbicara kepada kita melalui tetangga kita yang kesepian yang membutuhkan perhatian. Yesus berbicara kepada kita melalui keluarga dan komunitas yang berada dalam kesulitan. Yesus juga berbicara kepada kita melalui lingkungan hidup yang semakin rusak oleh ulah manusia dan mengancam kelangsungan hidup manusia dan segala makluk hidup yang lain.

Oleh karena itu, dalam masa Prapaskah ini, marilah kita mendengarkan Yesus dengan membangun sikap tobat yang benar dan bersedia untuk membaharui hidup kita secara total baik secara pribadi maupun secara bersama sebagai pengikut Yesus dan dalam kerjasama dengan semua orang yang berkehendak baik dari latar belakang apa pun demi kebaikan kita bersama sebagai umat manusia. Jika kita melakukan ini dengan baik, maka “kita boleh berjalan di hadapan Tuhan, di negeri orang-orang  hidup.” (Mzm 116: 9). Amin.

BACA JUGA:  Hidup Ini Singkat, Jangan Masa Bodoh!

Tuhan memberkati.

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here