Euforia Masyarakat NTT: Terima Kasih, Bapa Presiden, Air Su Tambah Dekat

444
Jokowi dan rakyatnya di Maumere, Flores

Oleh  Joanes Joko, Tinggal di Jakarta

TEMPUSDEI.ID (25 Februari 2021)

Joanes Joko, ketika suatu saat berkunjung ke NTT

Satu dekade lalu sebuah perusahaan air minum  kemasan meluncurkan serial  iklan  yang menggambarkan kesulitan mengakses air bersih  di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) – lengkap dengan  sederet  aktifitas sosial melayani kebutuhan air warga setempat. Saking gencarnya iklan tersebut,  telinga kita, para pemirsa televisi,  tak  asing  mendengar suara seorang bocah berkata : “Sekarang sumber air su dekat…”

Saya  beruntung karena  beberapa kali ke NTT pada musim kemarau. Di  balik  eksotisme alam NTT, saya  bisa mendengar secara langsung bagaimana upaya  keras  masyarakat bertahan hidup di musim kering. Ini bukan hanya soal memperoleh aliran air untuk mengolah lahan pertanian, tapi juga perjuangan hari demi  hari   mendapatkan air untuk kebutuhan basis hidup sehari-hari.

Lebih dari beberapa dekade Provinsi NTT merasa seolah “dianak-tirikan” oleh pemerintah pusat dibandingkan saudaranya,Timor Timur – kini Republik  Demokratik  Timor Leste—yang mendapat perhatian serius  terus-menerus,  dipicu tekanan politik global pada waktu itu.

Pembangunan infrastruktur  di NTT  hanya sedikit di masa itu. Problem utama kekeringan lahan  di  wilayah  ini tak  mendapatkan solusi permanen.

Namun dalam kondisi tersebut orang NTT tetap setia dan menyebut diri sebagai bagian integral yang membanggakan dari bangsa dan tanah air  Indonesia. Masyarakat NTT sejauh yang  saya  temukan adalah  orang-orang yang memiliki karakter kuat, ulet, egaliter,  terus-terang,  pekerja keras, dan selalu menerima saya  di mana-mana dengan kehangatan yang meluap.

Tempaan alam  yang keras,  tidak membuat mereka mudah   kehilangan harapan—termasuk berharap  pada datangnya  kelimpahan air  yang dapat mengubah  hidup mereka menjadi lebih baik. Harapan  itu juga terpancar  dalam  anekdot-anekdot. Umpama,  NTT adalah kepanjangan “Nanti Tuhan Tolong”. Kendati bernada satir, lelucon  ini mencerminkan  harapan mereka pada uluran tangan Tuhan dalam kondisi sesulit apa  pun.

BACA JUGA:  Puisi dalam Pandangan Sastrawan Gerson Poyk: Kenangan dari Obrolan Siang di Kala Hujan

Pemimpin datang dan pergi. Kini,  di masa  Presiden Jokowi,  harapan itu  berbuah  kebanggaan: NTT  akhirnya memiliki  pos lintas-batas negara yang megah dan membanggakan.  Ini  cerita seorang sahabat saya di sebuah  kota di Pulau Timor:  dulu orang jika ke pos lintas batas, orang lebih memilih berfoto di pos milik Timor Leste. Sekarang justru terbalik. Orang Timor Leste  lebih memilih berfoto di pos milik Indonesia.

Hari ini “sumber air” itu benar-benar su dekat. Sumber air itu bukan sekadar tentang infrastruktur fisik melainkan tentang sumber harapan dan mimpi untuk bisa ke luar dari kemiskinan.  Kondisi alam yang  sulit mendapatkan air sebagai sumber kehidupan telah mengakibatkan kemiskinan tersebut.

Memahami  kerasnya kesulitan alam, serta harapan panjang pada perbaikan kehidupan, rasanya kita  bisa mengerti euforia, kegembiraan yang meluap-luap, saat menyambut pemimpinnya pada  pekan  lalu. Pemimpin itu, bernama Presiden  Joko Widodo atau  Jokowi,  yang tiba bersama wujud nyata harapan panjang akan air melalui peresmian bendungan Napun Gete di Kabupaten Sikka.

Hingga kini, pemerintahan Presiden Jokowi telah menyiapkan  sembilan bendungan bagi tanah NTT—baik yang  telah selesai,  mau pun yang tengah digarap dan  akan dibangun.  Dengan bendungan ini, ratusan ribu hektar tanah di NTT tidak akan lagi mengalami kekeringan di musim kemarau.

Pemimpin yang sama, telah berkali-kali datang ke wilayah kepulauan  ini untuk memastikan aliran air yang dinanti segera terlaksana,  untuk  menunjukkan keberpihakan pada mereka yang selama ini merasa terabaikan.

Maka kita menyaksikan ledakan euforia selamat datang, kita melihat mereka  melupakan sejenak  bahaya pandemi  Covid-19.  Mereka  berani menerabas  penjagaan para Paspampres yang garang, kuat, dan ketat. Dalam hati mereka, barangkali  kekuatan  Paspampres tak ada apa-apanya  dibanding keteguhan  dorongan hati  mereka untuk sekadar menyampaikan rasa terima kasih pada pemimpin yang mereka kasihi seraya mengatakan, “Selamat datang, Bapa Presiden. Terima kasih, air su tambah dekat”.

BACA JUGA:  Kerja Rajin, Belajar dari Camar Aneh nan Bijaksana

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here