Bangun Gereja untuk “Umat Natal Paskah” alias Napas?

70
Gereja St. Yohanes Pembaptis, Stasi Kiufatu, Kupang ini sudah bersalin rupa menjadi bangunan permanen. Umat rajin ke gereja. (ist)

Oleh Albert Greg Tan, Pendiri jalakasih.com

Natal tahun ini tidak seperti Natal biasanya yang ramai dan riuh. Biasanya semua sudah berlomba-lomba mempersiapkan perayaan Natal, memasang tenda, mendekor ruangan dengan pernak-pernik Natal, tak ketinggalan kandang Natal.

Menjelang Misa Malam Natal, semua harus datang 2-3 jam lebih awal karena umat membludak. Semua ingin duduk di dalam, sampai tak sadar lagi bahwa ini rumah Tuhan, umat berlarian sikut kanan kiri, dorong mendorong.

Tidak heran bahwa umat begitu banyak, wajar saja misalnya misa di hari Minggu yang biasanya 6-7x dipadatkan hanya 2-3 kali misa saja. Belum lagi umat-umat Napas alias Natal dan Paskah juga turut meramaikan Gereja. Biasanya mereka lebih antusias karena udah rindu mau Misa (eh benarkah?).

Ramai Natal di kota, juga ramai Natal di daerah. Para perantau biasanya pulang ke kampung halaman untuk mengunjungi keluarga yang selama ini ditinggalkan. Gereja di kampung pun ikut penuh sesak sampai umat tak tertampung lagi.

BACA JUGA: https://www.tempusdei.id/2020/11/3057/wow-anak-muda-ini-sudah-bangun-137-buah-gereja-di-seluruh-indonesia.php

Seusai Natal, apakah gereja tetap penuh setiap minggu?

“Pastor, tolong bangun gereja kami. Udah gak muat lagi pastor, terutama Natal Paskah dan kalau ada Pesta,” ujar ketua panitia pembangunan sebuah gereja kepada pastor parokinya.

Pastor pun mengiyakan dan mondar-mandir mencari donatur. Sampai ada imam yang susah menelan makanan, tidak bisa tidur, demam, tak bergairah lagi karena dibebani pikiran karena harus dana beberapa miliar. Proposal pun disebar ke mana pun bisa disebar. Seringkali proposal itu diuraikan begitu panjang x lebar dan sampai pada kesimpulan “gereja tidak muat lagi jadi harus bangun lebih besar”.

Seringkali kami bertanya, “Pastor, betulkah jumlah umat sebanyak ini?” Jawabannya pun beragam: “Oh sudah termasuk yang merantau.” (Kok ikut dihitung? Padahal gak ada orangnya).

“Ya memang banyak, tapi saat-saat tertentu. Dibangun besar karena ini gereja pusat rayon atau wilayah, kalau umat aslinya sedikit”

“Lalu sebenarnya berapa yang datang tiap minggu Pastor?” tanya kami lagi lebih lanjut. Mulai sulit menjawab karena kontras dan suaranya agak pelan atau balas WA-nya lama.

“Yah mungkin cuma 20-30% saja yang datang tiap minggu, selebihnya datang kalau Natal Paskah, saat ada pesta-pesta, dll.”

Kami jadi gagal paham. Apakah perlu kita membangun besar-besaran untuk mereka yang datang 2 kali setahun? Atau datang hanya saat merasa perlu saja, misalnya ada yang menikah, ada yang meninggal. Selebihnya, “ya nanti deh Tuhan, saat ini belum butuh nih.”

Proyek fisik memang tidak akan pernah habis, tapi sudah saatnya kita semakin bijak, apakah betul-betul perlu dibangun, juga sebagai donatur apakah betul-betul perlu dibantu? Bangunlah untuk mereka yang betul-betul membutuhkan Tuhan dengan hadir menyambutNya setiap minggu.

Jangan sampai gereja hanya tinggal ruang kosong tak berpenghuni yang cantik dan megah tapi tak bernyawa. Atau jangan sampai hanya jadi proyek bancakan supaya selalu ada dana mengalir masuk. Bahaya!

Selamat mempersiapkan Natal!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here