Wow! Anak Muda ini Sudah Bangun 137 Buah Gereja di Seluruh Indonesia

17435
Tampak Gereja St. Maria Bunda Pertolongan Abadi, Stasi Podol-Manggarai, Flores (sebelum dan sesudah)

TEMPUSDEI.ID (27/11/20) – Hingga tulisan ini diturunkan, pemuda lajang bernama Albertus Gregorius Tan ini sudah berhasil membangun 137 buah gedung gereja permanen di seluruh Indonesia. Benar! Gedung-gedung gereja tersebut tersebar di seluruh negeri ini; mulai dari ujung barat sampai ujung timur Indonesia. Ketika dilontari pertanyaan “Apa kepuasan yang Anda rasakan dengan keberhasilan tersebut,”   Greg,  demikian karyawan sebuah bank swasta ini mengatakan, “Lebih tepatnya rasa syukur, karena bisa memberi manfaat dan membahagiakan sesama. Merasa hidup ini tidak sia-sia saja diberikan Tuhan. Rasa syukur karena Tuhan selalu baik kepada saya lewat kehadiran dan perhatian banyak orang dalam hidup saya.“ Greg tidak berlebihan menanggapi tanggapan begitu banyak orang berisi decak kagum padanya. Dia tetaplah anak muda yang rendah hati.

 

Gereja St. Katarina Bologna, Stasi Kariahan Usang-Medan (Sebelum dan sesudah)

Atas karya yang tidak biasa tersebut, pertanyaan yang bisa muncul secara beruntun adalah: siapa dia, apa pekerjaannya, dari mana dia mendapatkan uang yang pasti tidak sedikit itu? Atau, pertanyaan “iseng” lainnya, “Apakah dia punya pohon uang?”

Yang pasti, Greg bukanlah pengusaha. Dia “hanyalah” seorang anak muda yang bekerja sebagai karyawan bank. Lalu dari mana uang yang sangat banyak untuk membangun 137 buah gereja itu? Ya, dari mereka yang punya uang. Bagaimana itu terjadi dan apa alasan para pemilik uang itu memberikan uang mereka kepadanya? Satu kata kunci untuk merangkum dan menjawab, yakni trust atau kepercayaan. Mereka percaya kepada Greg bahwa uang yang mereka berikan pasti dipakai untuk membangun gereja. Bagaimana itu terjadi?

Berawal dari Sorkam

Berawal dari Sorkam pada belasan tahun lalu. Saat itu,  Greg menghadiri tahbisan seorang imam di Medan. Setelah tahbisan tersebut, dia menyertai sang imam baru ke stasi Sorkam, di Tapanuli Tengah, daerah pantai barat Sumatera. Untuk sampai ke stasi ini, biasanya Pastor membutuhkan waktu berjam-jam karena jauh dan jalannya rusak. Umat di tempat ini terbilang miskin sehingga kapel mereka sangat sederhana, terbuat dari bahan bangunan yang diambil dari alam sekitar. “Dalam hati saya menangis melihat kondisi yang sangat tidak biasa ini. Saya rasa Tuhan membukakan mata saya untuk melihat kenyataan umat di tempat lain,” ujar anak kedua dari dua bersaudara asal Kemayoran, Jakarta ini.

Gereja St. Alfonsus, Stasi Binjohara Napa (sebelum dan sesudah)

Dari “pengalaman Sorkam” yang mencengangkan tersebut, Greg mulai berpikir untuk berbuat sesuatu bagi kapel di Sorkam dan gereja-gereja lain. Dia pun memosting foto-foto dari Sorkam dan foto-foto dari daerah lain yang merekam kondisi ril umat setempat di dinding face book-nya. Ternyata, banyak temannya yang menaruh simpati dan menanyakan cara membantu.

Greg pun membaca dan menilai kesungguhan teman-temannya untuk membantu. Setiap orang yang menyatakan rasa simpatinya ia kontak secara pribadi, memberi penjelasan yang jauh lebih lengkap dari sekadar informasi di FB. Kemudian, antara Greg dan teman-teman tersebut terjalin persahabatan melebihi pertemanan yang terbangun melalui FB. Dan ternyata, niat mereka untuk membantu sangat besar.

BACA JUGA:  Edward Chen: Kisah di Balik Lagu “Hatiku Percaya”

Keinginan untuk membantu dan benar-benar membantu secara bergelombang dari datang dari banyak orang. Makin hari makin banyak orang yang mau membantu. Sekali lagi, trust  adalah alasan utama orang-orang tersebut memberikan uang mereka dalam jumlah banyak.

Melihat sikap antusias para donatur, Greg menentukan sejumlah syarat gereja yang layak dibantu. Syarat itu antara lain: SDM di gereja itu harus siap melakukan sesuatu jika mendapat bantuan, umat setempat tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk membangun sendiri, dan tidak ada sejarah penyalahgunaan keuangan oleh pastor parokinya. Setelah memastikan syarat-syarat tersebut terpenuhi, dia turun untuk melakukan survei dan verifikasi. “Kalau memenuhi syarat baru saya meminta teman-teman saya untuk membantu. Dan biasanya mereka tidak keberatan mengeluarkan uang dalam jumlah banyak untuk membantu. Kalau saya kendor karena kesibukan, mereka malah bertanya ‘kok stop’? Ayo dong…. Kalau stop, nanti ke mana saya memberikan uang saya,” ungkap Greg mengulangi kata-kata teman-temannya tersebut.

Dalam pelayannya ini, Greg berusaha menjaga dengan baik kepercayaan yang diberikan para donatur dengan memberikan laporan secara benar dan bertanggungjawab. “Modal utama saya adalah trust, maka saya harus menjaga betul. Sekali tidak dipercaya, sulit untuk meyakinkan kembali. Dan saya yakin Tuhan menempatkan saya di sini, maka saya harus melakukan yang terbaik,” jelasnya.

Gereja St. Fransiskus Assisi, Stasi Punyigangga – Praiwitu, Nggongi, Sumba Timur

Greg ingin menjadi orang muda yang bisa dipercaya. Dia juga ingin membangkitkan atau merawat kepercayaan kepada orang muda. “Selama ini umat sudah teracuni dengan pola pikir bahwa saat ini banyak sekali orang yang menipu. Saya sadar dan yakin bahwa Tuhan punya rencana melalui saya. Saya harus konsisten melakukan dan memberi hasil. Kalau sudah memberi hasil, akan lebih mudah dipercaya. Orang akan tergerak kalau kita bawa hasil,” tambahnya lagi. Untuk itu, Greg selalu menyapa setiap donaturnya dan meyakinkan mereka bahwa donasi yang mereka berikan akan dan telah digunakan sesuai peruntukannya. Dia juga memperkenalkan diri sedetail-detailnya kepada para donatur atau calon donaturnya. “Pengenalan yang baik dan tidak menipu akan menciptakan trust,” jelas pria jebolan FISIP UI ini.

Greg juga memberikan laporan yang sangat detail seputar penggunaan uang para donatur. Dan agar mengetahui bahwa sumbangan benar-benar dipakai, dua week end dalam sebulan, Greg pasti berada di daerah untuk memastikan sumbangan para donator dipergunakan dengan baik. Tentu saja untuk ini, Greg harus benar-benar membagi waktu dengan baik.  “Terus terang, pekerjaan ini tidak biasa dan dikelola oleh orang muda. Tapi justru karena tidak biasa ini, mereka percaya. Intinya, kita harus terbuka pada mereka,” ujarnya.

BACA JUGA:  “Otak-otak Jumbo”, Blessing In Disguise di Balik Pandemi Korona

Greg bertekad, sebagai orang muda dia harus jadi patron. “Tidak banyak orang muda seperti saya. Bukan berarti saya sombong. Saya tahu susahnya menggerakkan orang muda. Mereka akan bergerak kalau ada contoh yang nyata. Saya mau jadi anak muda yang bersinar, agar anak muda tidak kehilangan harapan bahwa masih ada anak muda yang mau berkarya nyata. Dan saya yakin inilah jalan evangelisasi saya,” jelasnya bersemangat.

Berikut sebagian dari perbincangan langsung dengan Greg:

Semakin mantap dengan Yayasan Vinea Dei

Bagaimana melakukan  pekerjaan ini di tengah kesibukan kerja sendiri?

Sejujurnya amat sulit dan melelahkan, namun selalu berusaha untuk membagi waktu dengan baik, bahkan berusaha untuk tetap maksimal baik di pekerjaan dan pelayanan. Kalau melihat hasilnya, rasanya kelelahan itu terbayar.

Apa kendala dalam melakukan pekerjaan ini?

Yang pertama tentu waktu, harus pandai mengelola waktu. Selanjutnya tentu komunikasi. Semakin besar organisasi semakin banyak kepala, semakin banyak perbedaan pendapat. Bagaimana belajar manajemen konflik. Lalu yang terakhir adalah mencari partner kerjasama yang seirama dan sesuai diharapkan itu sangat sulit.

Apa yang Dikau lakukan untuk tetap menjaga trust?

Tentu melakukan pengembangan terus menerus baik dari sistem, cara kerja, cara berkomunikasi supaya lebih profesional. Meski yayasan ini sifatnya pelayanan dan volunteering, tapi kami berusaha untuk melayani secara profesional, tentu donatur juga akan semakin percaya kepada yayasan. Contohnya cara berdonasi, kemudahan mendapatkan informasi, dan laporan keuangan yang audited.

Apa syarat dan prosedur yang harus dilewati sebuah gereja agar mèndapat bantuan saat ini?

Kondisi gereja masih darurat atau belum punya gereja atau belum permanen, lokasinya di pedalaman atau pelosok, bukan di kota. Gereja juga memenuhi semua kelengkapan berkas, terutama dari sisi legalitas supaya tidak menimbulkan masalah di kemudian hari. Setelah proposal lengkap diterima maka akan dilakukan verifikasi dan survei ke lokasi, setelah disetujui baru masuk proses fundraising.

Lalu apa yang diharapkan dari gereja yang mendapat bantuan?

Saat ini kami lebih banyak menangani pembangunan yang belum selesai atau tertunda, jadi swadaya dan kerjasama umat sudah nampak hasilnya, tinggal kami selesaikan. Biasanya umat kami imbau untuk mulai membangun dulu sesuai kemampuan mereka karena gereja ini akan mereka gunakan setiap minggu, jadi partisipasi umat wajib diberikan sebagai tanda cinta dan memiliki terhadap gereja mereka sendiri.

Sejauh ini bagaimana partisipasi gereja-gereja yang sudah dibantu?

Sampai hari ini gereja yang sudah kami bantu tidak pernah kami minta untuk partisipasi kembali karena menyangkut hukum dan aturan yang berlaku di Keuskupan tersebut. Pada dasarnya apa yang sudah kami berikan sifatnya tulus dan ikhlas. Jadi jika umat yang sudah dibantu juga ingin membantu umat di tempat lain di kemudian hari, sifatnya sukarela dan itu sebenarnya yang kami harapkan, umat yang sudah terbantu memberikan bantuan untuk sesamanya yang membutuhkan. Mengingat situasi kehidupan umat yang kami bantu juga sulit, rencananya ke depan kami ingin membuat program pemberdayaan bagi umat yang sudah pernah dibantu gerejanya sehingga program pendampingan itu bisa berkelanjutan dan umat bisa mandiri secara ekonomi sehingga punya kemampuan untuk memberi kepada sesama.

BACA JUGA:  Greg Tan: Selalu Merasa Dicintai, Kenangan Kecil untuk Uskup Anicetus Sinaga

Mengapa muncul Vinea Dei? apa sasarannya?

Vinea Dei saat itu dibentuk karena kegiatan yang semakin besar dan meluas, maka dirasa perlu untuk melegalkan secara hukum. Lebih daripada itu, kami yakin dan percaya bahwa sejak semula gerakan ini lahir, Tuhanlah yang membuat segala sesuatunya menjadi mungkin dan terjadi, maka Vinea Dei ada karena kebaikan dan belas kasih Tuhan, agar berkat Tuhan semakin dirasakan oleh lebih banyak lagi orang. Di waktu mendatang, Vinea Dei diharapkan dapat menjadi platform di mana semua orang yang berkehendak baik dapat urunan atau  patungan untuk mendukung semua program dan kegiatan yang dimiliki Gereja Katolik, khususnya yang ada di wilayah-wilayah misi tersulit di Indonesia.

Apa dan bagaimana caranya agar anak mendapat bantuan saat ini?

Anak-anak yang kami bantu bukan anak yang berprestasi, tapi punya motivasi dan keinginan yang kuat untuk sekolah sampai jenjang perguruan tinggi. Mereka biasanya tinggal di wilayah pedalaman, khususnya di paroki-paroki yang sudah bekerjasama dengan Vinea Dei. Kami memberikan pendampingan kepada mereka dengan menempatkan mereka di asrama Katolik atau pastoran. Hanya saja saat ini donasi untuk pendidikan belum begitu lancar sehingga anak-anak yang kami bantu masih sangat terbatas jumlahnya.

Sekarang berapa banyak anggota tim dan dari mana saja….

Saat ini ada 38 anggota Vinea Dei dari berbagai daerah di Indonesia, selain Jabodetabek ada yang berasal dari Surabaya, Medan, Pematang Siantar, Pontianak, Makassar, Pangkalan Bun, Kupang, Manggarai, Atambua, dan Sumba. Mereka semua melayani dari tempat masing-masing sesuai dengan bakat dan potensi yang mereka miliki.

Jika para Pembaca TEMPUSDEI.ID ingin mendukung karya Greg dan kawan-kawan, silakan salurkan melalui: RENENING BANK MANDIRI 1230007536594 atas nama Yayasan Vinea Dei dan REKENING BCA 2761636393 atas nama Yayasan Vinea Dei.

Kunjungi juga jalakasih.com untuk mendapatkan banyak informasi terkini.

EMANUEL DAPA LOKA

Facebook Comments

10 KOMENTAR

  1. Saya Sangat Bangga Dan Menetes Air Mata Terharu Sekali ,Seorang Anak Muda Membantu Masyarakat Di Pelosok Yang Sangat Sulit Dengan Keadaan Setempat,Bisa Membangun Rumah Ibadah.Semoga Tuhan Selalu Menjaga Kesegatan Dan Melindungi Anak Muda Gregorius,Dan Tuhan Memberikan Berkat Yang Berlimpah Dengan Cintakasih-Nya Kepada Setiap Orang Yang Memmbutuhkan ,God Bless You🙏💟😇🎉

  2. Mat siang pa sy juga minta untuk pa bantu bangunkan gereja di desa golo Linus kecamatan elar selatan kabupaten Manggarai timur atas berkenannya bapak terima kasih TYM AMIN

  3. Shalom….nama saya Ganda Sihombing. Saya sekarang pelyanan di pelosok desa di pulau Rupat Riau. Gereja dan pastori tempat saya melayani sangat membutuhkan biaya untuk merenovasi gereja dan pastori agar bisa menjadi permanen. Saya memohon semoga bung Greg tergerak hatinya untuk bisa membantu pelayanan kami disana. Trima kasih. Tuhan Yesus memberkati.

  4. Berharap Kemurahan Tuhan Lewat tangan2 Hambamu. Saya mohon bantuan pembangunan Greja Kami di Desa Watumite, Nangapanda, Ende Flores NTT

  5. Saya terharu, salut dan bangga pd pemuda Gregorius bersama teman2nya yg rela memberi tenaganya utk membangun rumah Tuhan di seluruh pelosok Indonesia. Tuhan menggunakan pemuda Gregorius dan teman2nyà mengembangkan misi membangun kerajaan Allah. Semoga semangatmu tetap membara dan Tuhan Yesus membarkati dg segala berkat surgawi dan duniawi utk meneruskan misi kerasulan awam membangun kerajaan Allah. Amin.

  6. Luar biasa, suatu karya Tuhan yang nyata lewat tangan seorang anak muda bernama Greg dan bersama teamnya ( para donatur dan team dalam Yayasan). Semoga masih banyak Greg2 yang lain yang menyusul jejak anak muda hebat ini dan semoga suatu hari saya pun bisa berkarya seperti ini juga.

  7. saya salut dengan kerja keras dan niat suci saudarakita Greg. Semoga saudara Greg senantiasa dituntun oleh Roh Kudus dalam setiap aktifitasnya. Amen

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here