CINTA TUHAN KEKAL ABADI SELAMANYA

341

Oleh Pater Remmy Sila, CSsR, Superior Samoa – Provinsi Redemptoris Oceania

TEMPUSDEI.ID (20/12/20)

hari ini adalah hari Minggu Adven IV dan terakhir. Hari ini kita diajak untuk merenungkan kisah kasih Tuhan yang  abadi dan kekal bagi manusia yang diungkapkan dalam perjanjian dengan Daud hamba-Nya. Apa yang merupakan rahasia Perjanjian Lama yang berabad-abad lamanya tersembunyi  akan segera terungkap dalam Maria, tabut Perjanjian Baru Tuhan.

Dalam bacaan pertama (2 Samuel 7:1-5, 8-12, 14-16), dikisahkan kepada kita bahwa sebagai bentuk penghormatan kepada Tuhan yang telah memanggil dan mengurapi dia sebagai raja dan mendampinginya dengan kasih-Nya yang tak terhingga, Daud ingin membangun sebuah rumah yang layak untuk Tuhan. Namun Tuhan tidak mengizinkannya karena Tuhan ingin senantiasa tinggal bersama umat-Nya dalam kemah-kemah mereka.

Sebaliknya Tuhan membuat sebuah perjanjian cinta dengan Daud tentang masa depan kerajaannya yang akan memerintah untuk selama-lamanya. “Apabila umurmu sudah genap dan engkau telah mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangmu, maka Aku akan membangkitkan keturunanmu yang kemudian, anak kandungmu, dan Aku akan mengokohkan kerajaannya…. Aku akan menjadi Bapanya, dan ia akan menjadi anak-Ku… Kasih setia-Ku tidak akan hilang dari padanya, seperti yang Kuhilangkan dari pada Saul, yang telah Kujauhkan dari dari hadapanmu. Keluarga dan kerajaanmu akan kokoh untuk selama-lamanya di hadapan-Ku, takhtamu akan kokoh untuk selama-lamanya.“ (2 Sam 7: 12-15).

Berdasarkan inilah, maka baik Penjinjil Lukas maupun Matius mencoba menelusuri dan menuliskan silsilah Yesus Kristus (Mat 1:1-17; Luk 3: 2338). Tujuannya adalah untuk membuktikan bahwa Yesus benar-benar merupakan keturunan  Daud sebagaimana diwartakan oleh para nabi dalam Perjanjian Lama. Apa yang masih tersembunyi dalam Perjanjian Lama, terungkap dan menjadi nyata dalam Perjanjian Baru.

Sedangkan dalam bacaan kedua dari Roma 16: 25-27, Santo Paulus memuliakan Tuhan karena kuasa-Nya menguatkan umat-Nya berdasarkan Kabar Gembira (Injil) yang ia wartakan. Dalam suratnya ini, Santo Paulus juga menegaskan kepada kita bahwa Yesus Kristus adalah pernyataan rahasia, yang didiamkan  berabad-abad lamanya. “Bagi Dia, satu-satunya Allah yang penuh hikmat, oleh Yesus Kristus: segala kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.” (Rm 16: 27)

Bagi kita sedang persiapan kita untuk merayakan Natal, merayakan ulang tahun kelahiran Yesus, kita diajak senantiasa memuliakan Tuhan untuk apa yang, sudah, sedang dan akan Dia lakukan bagi hidup kita dan bagi dunia kita.

Sementara Injil hari ini dari Lukas 1: 26-38, menyajikan kepada kita dua tokoh penting dalam “drama kelahiranYesus.” Pertama, adalah malaikat Gabriel, utusan Tuhan yang menampakkan diri kepada seorang perawan yang bernama Maria dengan sebuah pesan istimewa. Pesannya adalah tentang pemenuhan janji Allah. Pesan juga tentang penyingkapan rahasia yang tersembunyi dalam Perjanjian Lama yang terpenuhi dalam Perjanjian Baru. Yesus Kristus, Putera Allah yang menjelma menjadi manusia adalah misteri yang dimaksudkan.

Kedua, adalah Maria. Peran Maria dalam sejarah keselamatan menonjol dengan jelas dalam perikop Injil hari ini. Meskipun masih bingung karena belum terlalu mengerti apa arti yang sesungguhnya dari kata-kata malaikat, tetapi Maria menerima pesan tersebut dengan rendah hati sebagai seorang hamba. “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan, biarlah itu terjadi padaku sesuai dengan perkataanmu.” (Luk 1: 38). Dengan kata-kata yang penuh kerendahan hati ini, Maria menerima perannya dalam sejarah keselamatan. Jawaban “Ya” Maria kepada Tuhan melalui malaikat Gabriel adalah ungkapan imannya dan menjadi persembahan dirinya secara total untuk kehendak Tuhan sendiri demi  keselamatan umat manusia.

Melalui jawaban “Ya”nya kepada kehendak Tuhan, Maria mengajarkan kita tentang  kerendahan hati, kemurahan hati, keberanian karena iman dan cinta pada kemanusiaan. Maria mengajak sekaligus mengajarkan kita agar senantiasa rendah hati dan percaya sepenuhnya pada janji Tuhan untuk senantiasa menaungi kita dengan Roh Kudus-Nya. Tuhan tidak membutuhkan kehebatan kita untuk berpartisipasi dalam karya keselamatan umat-Nya, tetapi Ia membutuhkan kesediaan dan kerendahan hati kita. Dengan semangat kerendahan hati, kita akan selalu terbuka untuk menerima bimbingan dan tuntunan-Nya melalui Roh Kudus dan siap siap untuk melaksanakan apa pun yang menjadi kehendak Tuhan.

Oleh karena itu, seperti Maria, marilah kita pun selalu berkata  dengan rendah hati: “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan, biarlah itu terjadi padaku sesuai dengan perkataanmu.” (Luk 1: 38). Dengan semangat yang sama kita pun bisa berkata seperti Maria dalam “Magnificat”nya, “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya.” (Luk 1: 46-48a)

Selamat hari Minggu Adven IV. Tuhan memberkati.