drg. Aloysius Giyai, M. Kes: Tak Ingin Tragedi Terulang pada Orang Lain

156

Oleh karena belitan kemiskinan dan keganasan penyakit kolera dan malaria, lima orang saudara kandungnya meninggal. Setelah sukses, dia tidak ingin orang lain mengalaminya.

Aneka jabatan penting di lingkungan Pemerintahan Povinsi Papua telah Aloysius Giyai duduki. Ia pernah menjadi direktur RSUD Abepura (2009-2014), Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua (2014-2020), Direktur Eksekutif Unit Percepatan Pembangunan Kesehatan Papua (UP2KP, 2013-2020), di masyarakat ia juga memegang berbagai jabatan penting. Di kalangan suku-suku masyarakat Papua dia adalah Ketua Lembaga Adat Masyarakat Pegunungan Tengah Papua LMPT  (16 Kabupaten, mencapai  1,7 juta penduduk dari total Orang Asli Papua (2004-2015). Sejak 2015 sampai sekarang, ia menyandang kedudukan sebagai Ketua Pertimbangan Tunggal LMPT.

Di mana pun dia ditempatkan, dokter lulusan Universitas Air Langga Surabaya ini selalu membawa serta elan kerja keras, disiplin dan kerelaan membantu siapa saja. Maka tidak heran ketika ia memimpin RSUD Abepura, dalam waktu singkat, ia bisa “menyulap” RS yang kumuh dan yang manajemennya berantakan itu menjadi RS yang rapi, memiliki manajemen modern. Di sana, pria kelahiran Kampung Onango, Kabupaten Deiyai, 8 September 1972 ini menerapkan pola kepemimpinan partisipatif.

Apa yang terjadi? Tidak lama kemudian, RSUD Abepura menjadi RS rujukan nasional sehingga masyarakat Papua, untuk penyakit tertentu harus berobat ke Makassar atau bahkan ke Jakarta, mereka cukup dilayani di Abepura.

Ketika ia menjadi Kepala Dinas Kesehatan, ia melakukan berbagai terobosan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat sampai ke pedalaman yang sulit dijangkau sekalipun. Dia selalu berusaha sekuat tenaga, bahkan kerap melupakan keselamatan diri. Jika mengetahui masyarakat di sebuah wilayah mengalami kesusahan, dalam cuaca buruk pun, ia terbang. “Kalau kita ikhlas, alam akan mendukung atau bersahabat dengan kita, dan Tuhan tetap akan mengawasi dengan mata-Nya yang penuh kasih. Tuhan akan selalu mengirim malaikat-Nya untuk melindungi,” katanya suatu saat di ruang kerjanya.

BACA JUGA:  Romo L. Sugiri dan Lukisan Punakawan untuk Romo Sindhunata SJ

Saat ini, dengan segala pencapaiannya, hidup Alo sudah jauh lebih baik. Namun demikian, Alo tetaplah pribadi yang sederhana dan mau bergaul dengan siapa pun. “Saya tidak boleh lupa dengan masa lalu yang penuh perjuangan. Masa itulah yang mengantar saya bisa seperti ini sekarang,” kata penulis sejumlah buku ini.

Lolos dari Jerat Maut

Aloysius Giyai ketika berbicara di Gedung Dewan Pers Jakarta.

Alo, terlahir dalam keluarga miskin dan terbelakang. Orang tuanya buta huruf dan menggantungkan hidup dari berburu. Kemiskinan akut di wilayah Deiyai, Papua, membuat lima kakaknya meninggal dunia terserang wabah kolera dan malaria.

Sebagai “manusia koteka” yang hidup di hutan, orangtua Alo, Giyaibo Raymondus Giyai dan Yeimoumau Albertha Yeimo tak bisa berbuat banyak ketika satu persatu buah hati mereka meregang nyawa. “Benar-benar berkat Tuhan sehingga saya dan kedua kakak saya Damianus Giyai dan Oktovina Giyai lolos dari kematian akibat penyakit mematikan itu,” ungkapnya.

Setelah meniti perjuangan yang tidak ringan, Alo bisa tamat sekolah dasar dan meneruskan pendidikan. Saat mengenyam pendidikan di sekolah menengah pertama, Alo masuk asrama. Kesempatan hidup di asrama, dia akui sebagai fase terpenting dan menentukan dalam peziarahan hidupnya. “Bagi saya, asrama ibarat penyelamat masa depan. Saya benar-benar bersyukur dididik di asrama asuhan rohaniwan Katolik. Mereka mengajari saya nilai-nilai kehidupan dan sikap bersyukur di tengah keterbatasan hidup. Itulah yang membuat saya tabah,” ujar Alo.

Alo melanjutkan pendidikan di SMA Negeri 1 Abepura, sebuah sekolah unggulan, tempat belajar anak-anak orang kaya di Papua. Hampir tak ada orang dari pegunungan tengah Papua yang berlatar belakang keluarga petani sederhana atau miskin seperti Alo yang bersekolah di sini. Inilah yang membanggakan Alo, bisa masuk ke sekolah tersebut.

BACA JUGA:  Jakob Oetama Raih Penghargaan "Tokoh Pers Inspiratif 2020"

Bisa tembus ke sekolah favorit bukan berarti beban kehidupan Alo sudah ringan. Ia tetap kekurangan uang. Demi sesuap nasi, Alo rela bekerja sebagai penimba tinja WC dan pembabat rumput di halaman rumah orang lain. “Hampir semua WC di kompleks Perumahan Universitas Cenderawasih Jayapura sudah saya timba tinjanya,” ucap Alo sembari tertawa.

Perjuangan hidup yang berat membuat PLT Direktur RS Jiwa Abepura—melayani 2 provinsi (2015 – 2016) ini memendam “dendam”. Dendam itu telah ia torehkan dalam dua buku tentang perjalanan hidup, karya, dan cita-citanya menangani kesehatan masyarakat Papua berjudul Memutus Mata Rantai Kematian di Tanah Papua dan Melawan Badai Kepunahan.

Setelah berdaya, apalagi memangku jabatan strategis, Ketua Jurusan Administrasi Kebijakan Kesehatan FKM Uncen (2005 – 2009) ini tidak ingin tragedi terulang pada orang lain. Ia menceburkan diri ke arena kerja keras, penuh peluh, dan tantangan. Ia turun langsung ke tengah masyarakat. “Saya tidak mungkin membiarkan masyarakat menderita, apalagi sampai meninggal dunia. Mereka tidak boleh mengalami hal yang lebih pahit dari yang saya pernah alami. Itu tekad saya!” kata Alo tegas.

EMANUEL DAPA LOKA

Facebook Comments

1 KOMENTAR

  1. Luar biasa, seandainya ada 1 dari 100 orang yg punya rasa seperti ini, sungguh jayalah Indonesia (Timur) ku. Mudah2an banyak orang membaca ini dan mau berbuat sesuatu utk sesama yg membutuhkan. Tuhan Memberkati.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here