Menyelami Paradoks Rahmat Allah

124
Pater Kimy R. Ndelo, CSsR
Buah anggur

Oleh Pater Kimy R. Ndelo, CSsR, Provinsial Kongregasi Redemptoris Provinsi Indonesia

Seorang pastor tua di sebuah Paroki, terkenal karena kesalehan dan kesuciannya. Umat sangat terkesan terutama pada sikapnya yang selalu menemukan alasan untuk bersyukur. Dalam setiap akhir khotbah selalu saja ada hal yang disyukurinya.

Suatu ketika dia terjebak banjir dan hujan deras. Dia terlambat ke gereja dan tiba dengan basah kuyup. Umat menanti dengan penasaran, rasa syukur macam apa yang akan dia ucapkan di hari sial ini.

Pada akhir khotbah dia mengatakan, “Saya mengajak semua umat yang hadir untuk bersyukur atas hari-hari kemarin yang tidak seperti hari ini”. Umat hanya bisa tersenyum dan geleng-geleng kepala.

Dalam pandangannya, “sial” hari ini tidak sebanding dengan berkat yang didapatkan pada hari-hari yang lalu. Di tengah hujan dan banjir, syukurilah hari-hari yang cerah.

Yesus mengisahkan perumpamaan tentang pekerja di kebun anggur (Mat 20,1-16a). Kisah ini lebih tepat diberi judul “Pemilik Kebun Anggur Yang Murah Hati”. Ini adalah perumpamaan paling kontroversial yang dikisahkan Yesus. Ini juga menimbulkan perdebatan panas tentang arti kemurahan hati yang sangat tidak biasa bahkan dianggap tidak adil.

Bagaimana mungkin disebut adil sebab membayar dengan upah yang sama kepada pekerja yang jumlah jam kerjanya berbeda? Bagaimana mungkin upah pekerja dari pagi sama dengan upah pekerja yang mulai pada sore hari? Perasaan kita tentang “keadilan” atau “fairness” bisa sungguh terganggu.

Dalam kasus lain yang berkaitan dengan dosa, sebetulnya hal yang sama juga terjadi. Orang yang melakukan dosa berat dan orang yang melakukan dosa ringan bisa sama-sama diampuni dan mendapatkan rasa kebebasan yang sama.

BACA JUGA:  Memperbarui Perjanjian dengan Tuhan

Kunci dari ini semua adalah cinta Allah yang tak terbatas. Ketika Allah menunjukkan cintaNya kepada manusia, bukan perbuatan manusia yang diperhitungkan melainkan kebutuhan manusia. Ketika Allah memberikan sesuatu, pasti Allah yakin bahwa orang itu membutuhkannya. Dan kebutuhan orang itu dicukupi tanpa merugikan orang lain.

“Tuhan itu adil dalam segala jalanNya dan penuh kasih setia dalam segala perbuatanNya”. (Mazmur 145,17)

Pemilik kebun anggur, yakni Allah sendiri, tahu bahwa para pekerja di kebun anggur butuh satu dinar untuk bisa memberi makan keluarganya dalam sehari. Jika kurang dari jumlah itu, akan ada anggota keluarga yang kelaparan. Allah melihat kebutuhan itu dan dengan kehendak bebas dan kasihNya Allah memberikan apa yang dibutuhkan. Sesederhana itu.

Menjadi masalah ketika pekerja pertama melihat apa yang diterima oleh pekerja kemudian. Seharusnya yang terjadi adalah pekerja yang diberi upah satu dinar sehari, menerima upahnya dan bersyukur atas apa yang diperolehnya. Adil dan benar sesuai perjanjian. Tidak kurang tidak lebih sesuai kesepakatan.

Dalam kisah perumpamaan ini, kita tidak perlu memosisikan diri sebagai pekerja pertama yang bekerja keras dari pagi sampai sore. Kita bagaikan pekerja-pekerja susulan yang sering tidak bekerja penuh waktu, tapi mendapatkah upah lebih dari yang pantas kita terima. Karena itu kita selalu bisa menemukan alasan untuk bersyukur dan berterimakasih.

(Salam hangat dari  Biara Santo Alfonsus-Konventu Redemptoris Weetebula, Sumba tanpa Wa)

Facebook Comments

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here