Milikilah Mentalitas Penemu, Jangan Hanya Bisa Melarang Ini dan Itu

86
Motivator Anthony Dio Martin

Oleh Anthony Dio Martin, Motivator dan penulis buku-buku motivasional best seller

Mungkin Anda pernah melihat suatu jenis penutup telinga yang disebut ‘earmuff’. Biasanya, jenis penutup telinga ini dipakai di saat-saat musim salju dengan bahan yang empuk. Telinga pun aman. Nah, bagaimanakah earmuff pertama ditemukan? Earmuff, pertama kali ditemukan oleh seorang anak berusia 13 tahun bernama Chester Greenwood di bulan Desember yang dingin di tahun 1873. Saat itu, Chester yang punya hobi ice-skating di luar, merasa bahwa kupingnya kedinginan. Maka, untuk membuatnya bisa bertahan, ia meminta bantuan neneknya melakukan sesuatu. Sang nenek membuat lengkungan kawat yang kedua  ujungnya diberi kapas untuk melindungi telinga Ches.

Awalnya ia ketawain habis-habisan oleh teman-temannya. Tapi, saat teman-temannya mulai melihat dia justru bisa bertahan ice-skating lebih lama di luar, mulailah teman-temannya memintanya untuk membuatkan. Di usia yang ke-17, Chester mematenkan penemuannya, dan hingga 60 tahun kemudian, Chester Greenwood dikenal sebagai pembuat earmuff.

Plester luka yang “ditemukan” secara tidak sengaja.

Atau, Anda mungkin masih ingat dengan berbagai iklan tentang plester untuk luka. Masih ingat kan dengan iklan tentang anak yang bersepeda, terjatuh dan terluka. Lantas, oleh orang tuanya diberikan plester penutup lukanya. Nah, bagaimanakah penemuan plester luka ini terjadi? Ternyata, plester luka itu pertama kali diinpirasikan oleh seorang koki wanita yang tidak berpengalaman bernama Earl Dickson. Karena kurang terampil, ia seringkali memotong jarinya sendiri saat potong sayur. Akhirnya, suaminya Dickson, yang saat itu bekerja di Johnson and Johnson, membuatkan semacam penempel yang dikasih pembalut yang akan segera bisa dipakai saat istrinya terluka. Ternyata, upaya menolong istrinya ini menjadi cikal bakal penemuan plester luka yang luar biasa.

Begitupun, seorang pembuat permen coklat bernama Clarence Crane. Ia selalu menemukan coklatnya selalu lumer di saat-saat hari yang panas. Pernah suatu kali, saat sedang mengirim coklat, semua coklatnya lumer di alat angkutan sehingga pelanggannya marah-marah. Hal paling buruk terjadi di tahun 1913, ketika para pelanggannya menghentikan pesanan permen coklatnya sampai masalah lumernya coklat bisa teratasi. Akhirnya, untuk mengatasi masalah ini, Clarence mulai memeras otak memikirkan apa yang harus diperbuat untuk menyelamatkan bisnisnya. Akhirnya, Clarence mulai bereksperimen dengan permen yang bisa dibuat lebih keras. Masalahpun muncul, karena yang tersedia saat itu adalah mesin-mesin pembuat obat-obatan. Akhirnya, dengan cerdik, Clarence membuatkan permen yang lebih keras, yang kecil tetapi plus lubang putih di tengahnya (akibat cetakan mesin obatnya). Akhirnya, inilah cikal bakal permen terkenal. Di luar negeri, permen ini disebut sebagai life savers.

Inspirasi dari Peristiwa Remeh

BACA JUGA:  Budaya Informasi di Era Pasca Kebenaran

Pembaca, berbagai contoh penemuan di atas, semuanya berawal dari pengalaman sehari-hari. Berbeda dengan para ahli dan penemu yang berkutat di laboratotium atau lokasi riset yang memang dikhususnya untuk mendesain penemuan, rata-rata mereka menemukannya dalam perisitiwa sehari-hari. Mereka justru mendapatkan idenya dari pengalaman, dari peristiwa serta masalah yang mereka hadapi sehari-hari. Tetapi, justru itulah yang menarik, oleh karena ditemukan dari kehidupan sehari-hari. Alat-alat yang mereka temukan pun seperti earmuff, plester luka maupun permen life savers di atas, menjadi barang yang praktis dan dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari serta praktis.

Termasuk di antaranya pula contoh penemuan praktis yang terkenal, yakni penemuan penting yang berasal dari seorang pelukis gagal, yang kemudian menjadi seorang sekretaris. Semuanya, dimulai dari persoalan yang sepele. Setiap kali salah mengetik, ia selalu merasa kesulitan. Akhirnya, mulailah ia menggunakan kemampuan mengecatnya untuk menutup kesalahan pengetikan di mesin tiknya. Tidak disangka-sangka bahwa idenya ini kemudian menjadi inspirasi untuk membuat cairan pemutih yang banyak dipakai untuk mengoreksi tulisan. Dialah Bette Graham. Dan di tahun 1980, perusahaan pembuat cairan putih untuk koreksi kesalahan itu akhirnya terjual lebih dari 47 juta dollar. Sebuah angka yang fantastis, untuk sebuah penemuan yang sangat kebetulan.

 

Melatih Mata Inspirasi

Masalahnya, dengan mencermati pengalaman para penemu ‘kebetulan’ di atas, bisakah kita pun memiliki pengalaman seperti itu. Menurut Thomas Alva Edison, yang seumur hidupnya pernah mematenkan lebih dari 1.093 jenis paten, pada dasarnya hampir setiap orang punya kesempatan untuk sukses sepertinya. Salah satu problemnya, adalah bagaimana setiap melihat peristiwa sehari-hari dan menganalisis pengalamannya.

Kebanyakan dari kita saat melihat permasalahan dan problem yang kita hadapi, biasanya adalah mengeluh, menyalahkan ataupun mengkritik. Akibatnya, yang seringkali terjadi, masalah-masalah dari kehidupan kita, justru melemahkan dan tidak menginspirasi. Kita pun lebih banyak menyalahkan situasi dan melihat persoalan sebagai sebuah kemalangan, bukan sebagai keberuntungan. Saat kita melihat itu sebagai ketidakberuntungan, maka diri kita pun merasa tidak berdaya dengan masalah yang kita hadapi (helpless). Dan lebih parahnya lagi, diri kita pun tidak tertarik sama sekali untuk melakukan sesuatu untuk memperbaiki situasi (effortless). Akhirnya, peristiwa ataupun masalah yang kita hadapi pun menjadi sesuatu yang tidak memberdayakan, malah cenderung mencelakakan.

BACA JUGA:  Rahasia Produktif atau Menghasilkan Lebih Banyak

Jangan Menyerah Dulu

Pelajaran penting yang bisa kita dapatkan dari beberapa penemuan di atas adalah ketidaksudian mereka untuk menyerah dengan situasi. Andaikata nenek Chester Greenwood menasihatinya untuk mengurangi niatnya lebih lama ber-ice skating, sementara Dickson menasihati istrinya untuk berhenti jadi koki, mungkin berbagai penemuan tersebut tidak akan pernah terjadi.

Belajar dari berbagai pengalaman tersebut, salah satu mental penting untuk memiliki “mental penemu” adalah melihat masalah, lantas dengan gigih berupaya memikirkan berbagai cara untuk mengatasi masalah tersebut. Dan ternyata, dari berbagai alternatif yang dipilih tersebut, beberapa di antaranya berubah menjadi penemuan yang berharga. Dengan demikian, pengalaman penemuan ini memberikan kepada kita pembelajaran agar jangan berpikir untuk mengganti masalah tetapi gantilah solusinya. Berbagai problem dan masalah akan tetap terjadi dalam kehidupan kita, tetapi bagaimanakah kita berupaya mencari solusinya. Itulah yang akhirnya berdampak munculnya alternatif solusi yang lebih baik. Bahkan beberapa di antaranya, tak jarang berujung pada penemuan-penemuan yang tak terduga.

Latar Belakang Beda Justru Berguna

Ternyata, banyak penemu yang berlatar belakang berbeda dengan apa yang ditemukannya. Sama seperti cairan putih pengoreksi kesalahan yang ditemukan oleh seorang sekretaris berlatar belakang seniman. Begitu pun pisau lipat serbaguna yang ditemukan oleh seorang pemancing ataupun sistem telepon langsung yang justru ditemukan oleh seorang penjual peti mati! Berbagai kejadian ini memberi inspirasi bahwa semakin berbeda latar belakang seseorang semakin besar peluang untuk menemukan ide-ide kreatif untuk memecahkan sebuah masalah.

Masalah terbesar dengan orang-orang yang terjebak dan ruitinitas dan pekerjaannya sehari-hari dengan ‘nrimo’ dengan apa yang menjadi problem kesehariannya adalah ketumpulan mereka dalam berpikir. Saat ditanya bagaimana mereka akan memecahkan problemnya, mereka biasanya akan memberikan respon,”Memang udah begini masalahnya. Dan inilah yang harus kamu terima!”.

Akibatnya merekapun tidak melihat adanya masalah yang harus dipecahkan. Bayangkanlah kejadiannya mirip seperti kejadian Bette Graham yang mungkin telah dinasihati berkali-kali, “Sebagai sekretaris kamu harus mengetik hati-hati, karena kalau salah maka kamu mesti mengulanginya lagi dari awal”. Bayangkanlah kalau Graham Bette kemudian menerima kondisi ini sebagai kenyataan yang harus diterima setiap sekretaris, maka dunia tidak akan pernah diuntungkan oleh penemuannya. Tetapi, justru karena latar belakangnya sebagai pelukis, memberikannya keuntungan. Akhirnya, kebiasaan mencampur cat dipakainya sebagai sebuah ide untuk mengoreksi tulisan yang salah.

BACA JUGA:  Kisah Konyol di Lantai 20 dan 80, dan Hubungannya dengan Unfinished Business

So, pertama, jangan lagi melihat masalah sebagai sesuatu yang celaka. Kedua, perbesar mata Anda untuk melihat alternatif dan ketiga, justru gunakan ilmu dan pengetahuan yang lain dalam melihat permasalahan yang Anda alami sekarang. Selamat menemukan hal-hal baru.

 

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here