Nama Almarhum Pater Hermann Berasal dari Orang Kudus Jerman Beato Herman Joseph (6)

159
Pater Herman dan Pater Karl-Heinz

Bunda Maria membungkuk untuk menerima buah apel dari tangan Herman Joseph kecil. Dia sangat akrab dengan Bunda maria dan kanak-kanak Yesus.

Pater Herman lahir sebagai anak kembar di Trier, Jerman, pada 21 Maret 1938 bersama saudara kembarnya Pater Karl-Heinz May, CSsR. Orang tua mereka memilih Herman Joseph, seorang nama beato dari Jerman sebagai nama baptis sang adik. Sosok Herman Joseph adalah seorang yang telah dihormati oleh umat di Cologne sebagai orang kudus, walau belum digelari kudus. Baru tahun 1958 digelari beato

Tentu saja kedua orang tuanya memberi nama Hermann Yosef dengan harapan sang anak memiliki sifat dan keutamaan hidup seperti Herman Joseph tamo-nya (istilah Sumba untuk orang yang namanya sama). Saat itu, cerita tentang kesucian hidup Beato Herman Josph terbilang popular di antara masyarakat Cologne.

Kata sebuah adagium klasiknama menunjukkan orangnya” atau nomen est omen atau nama adalah tanda. Artinya, dalam sebuah nama termuat makna terdalam yang bisa menjelaskan siapa orang yang memakai nama tersebut. Atau, diharapkan, roh yang terkandung dalam nama itu akan meresap ke dalam diri sang anak. Karena itu, tidak ada orang tua yang secara sembarangan memberi nama kepada anaknya. Hal ini pun diyakini oleh kedua orang tua Pater Herman ketika memberinya nama Hermann Yosef.

Beato Herman Joseph

Beato Herman Joseph

Mari mengenal Beato Herman Joseph yang menjadi tamo Pater Hermann. Seperti dirilis oleh katakombe.org, sejak kecil Beato Herman Joseph memiliki hubungan yang sangat khusus dan menaruh cinta pada Bunda Maria dan Kanak-kanak Yesus. Setiap hari ia selalu menyempatkan dirinya untuk bercakap-cakap dengan Bunda Maria dan Yesus di dalam Gereja.

BACA JUGA:  Mayjend TNI dr. Albertus Budi Sulistyo, Kapuskesad dan Dokter Kepresidenan dari Bekasi

Suatu saat sebelum pergi ke sekolah, ia menyempatkan diri untuk singgah dan berdoa kepada Bunda Maria dan kanak-kanak Yesus di dalam Gereja. Kepada Bunda Maria dan kanak-kanak Yesus, ia mempersembahkan sebuah apel yang diberikan oleh ayahnya sebagai bekal ke sekolah. Ia mengulurkan apel itu kepada kanak-kanak Yesus. Tetapi ia tidak cukup tinggi untuk bisa mencapai tangan Yesus. Ia ingin memanjat, namun diurungkannya karena merasa tidak sopan. Lalu dengan ajaib tiba-tiba saja Bunda Maria tersenyum lalu membungkuk menerima pemberian Herman. Herman tertawa ceria. Sesudah itu ia berpamitan keluar dari gereja karena takut terlambat ke sekolah.

Herman menganggap Bunda Maria dan Kanak-kanak Yesus sebagai teman akrabnya. Setiap kali ia selalu singgah di gereja untuk membisikkan isi hatinya dan menceritakan semua pengalamannya. Pernah sekali ia datang tanpa sepatu, padahal pagi itu udara sangat dingin. Bunda Maria menunjuk ke sebuah ubin yang terlepas. Herman membalik ubin itu dan mendapati sejumlah uang yang cukup untuk membeli sepatu. Setelah itu, setiap kali Herman memerlukan sesuatu, di tempat itulah selalu tersedia yang diperlukannya.

Ketika Herman berumur 12 tahun, Bunda Maria memintanya agar masuk biara. Herman merasa heran karena ia masih terlalu kecil. Namun ia patuh pada permintaan Bunda Maria. Ia lalu melamar pada Biara Premonstratensian (Biara Norbertine) di Steinfeld. Dan ternyata ia diterima juga sebagai postulan dan kemudian novis.  Atas permintaan Bunda Maria, pada saat ia ditahbiskan menjadi imam ia menambah namanya menjadi “Herman Yosef”.

Sebagai seorang imam dan biarawan, Herman Joseph menjalani pola hidup asketis yang keras sesuai dengan peraturan biara Nobertine. Setiap pagi Ia rajin melatih dirinya dengan berbagai latihan rohani. Cintanya kepada Bunda Maria dan Kanak-kanak Yesus serta rasa hormatnya pada Sakramen MahaKudus semakin meluap. Setiap pagi saat merayakan Ekaristi, matanya selalu basah dengan linangan air mata.

BACA JUGA:  dr. Euginia Natalia Bato, Dokter Merangkap Supir Ambulans

Setiap kali ia mengalami kekacauan batin, Bunda Maria datang menghiburnya. Kepadanya Bunda Maria selalu berkata, “Tidak ada yang lebih berkenan kepada Allah daripada melayani saudara-saudara karena cinta kepada Allah.”

Herman Joseph memperoleh karunia penglihatan dan sering mengalami ekstase pada waktu mempersembahkan Kurban Misa. Namun ia tetap rendah hati dan menjalani hidup sebagai seorang biarawan yang biasa-biasa saja. Karena kesuciaan hidup dan kesederhanaannya, Herman Yosef sangat dicintai oleh banyak orang  teristimewa rekan-rekannya sebiara.

Selain sebagai seorang mistik, Herman Joseph juga dikenal sebagai seorang penyair dan pencipta lagu rohani. Banyak syair dan lagu yang dikarangnya untuk meluhurkan Sakramen Maha Kudus dan menghormati Bunda Maria.

Pada tahun-tahun terakhir dalam hidupnya, Herman Joseph ditugaskan untuk menjadi pembimbing spiritual bagi para biarawati Cistercian di Kota Hoven, dekat Zulpich. Di tempat inilah Herman Yoseph tutup usia pada tahun 1241 dalam usia 90 tahun. Jenazahnya mula-mula dikuburkan di biara tersebut, lalu dipindahkan ke kota Steinfeld sampai hari ini.

Proses kanonisasi Beato Herman Yosef dimulai sejak tahun 1626, atas permintaan Uskup Agung Ferdinand dari Cologne dan Kaisar Ferdinand II, tapi proses ini tidak berlanjut. Walau demikian, perayaan untuk menghormati kekudusan Herman Joseph terus dirayakan pada setiap tanggal 7 April oleh biara Nobertine. Nama Herman Joseph juga telah tercantum dalam “Martyrologium Romanum” sebagai orang kudus walaupun ia belum secara resmi dimaklumkan kudus.  Statusnya sebagai seorang kudus baru secara resmi dikukuhkan oleh gereja setelah ia dibeatifikasi oleh Paus Pius XII pada tahun 1958.

Ia lahir di Cologna pada tahun 1150. Walau ayahnya masih berdarah bangsawan, namun keluarga mereka hidup dalam kemisikinan. Ayahnya bernama Lothair, masih keturunan dari para bangsawan Kota Meer (sekarang Meerbusch), dan ibunya adalah Santa Hildegund yang pestanya dirayakan 6 Februari. Pola hidupnya yang saleh diwarisi dari kedua orangtuanya. (tD/katakombe.com/EDL)

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here