Puisi-puisi Melki Deni 

80

/1/ Tamara

Ia lihat anak-anak kecil isap jari tangan dan derai air mata sisa dari tiang listrik, sebab daun mulai berjatuhan.

Ia lihat gerombolan orang-orang tua serta anjing-anjingnya ketika awan masih merah pucat memperlihatkan bianglala di barat.

Mereka bercerita; derita, Covid-19, dan obituari yang tidak sempat terbaca.

Kematian tanpa peperangan yang sengit; luka, ucapkan perpisahan dan saling menatap air mata yang mendidih mengalir ke cela-cela bumi.

Dua minggu Italia ini menjadi lahan kuburan;

Buram,

Lebam,

Seram.

Kalimat-kalimat berjalan pelan. Media berita berkeliaran.

Dan barangkali tapak mereka tidak tercatat pada kitab, sejarah, dan peta.

Mungkin kita musnah oleh sajak kematian. Atau tangisan kita yang tidak mau mati dilahap pada angka dan lembar itu.

Hari ini ia benar-benar mati, sebab kemarin pada lubang kuburan ada ribuan mayat dibakar; hangus menjadi abu. Kemudian abu menjadi pupuk yang menyuburkan benih virus bernama baru di bumi ini. 200 tahun kemudian memusnahkan jutaan anak-anak manusia. Esok pada lembar yang fana kita hanya menjadi sumber sejarah; fiksi dan mitos.

Kekasihku, Tamara, tulislah tentang hal-hal yang tidak tertangkap berita seperti sediakala.

Asap-asap mayat yang dibakar mengitari kota, lepas dari waktu.

Dalam bayang-bayang dan merenung,

Kaubaca surat yang sempat kubalas,

Kaubalas surat yang tak sempat kubaca.

/2/ Di Rumah Kita

Di rumah kita profesi-profesi berhimpun seperti di bioskop.

Di dinding potret lama kita dipotret ulang dua kali;

android dan canon bekerja dalam diam.

Di luar Covid-19 menyerang siapa-siapa yang liar

seperti zombi-zombi dalam film buatan China.

Kemarin ribuan orang dilahap dari liar; gemetar dan menghitung detik-detik yang masih sisa. Tiongkok diserbu alzheimer dan Hantavirus;  seorang tua gugur. Tikus menang hari ini.

BACA JUGA:  Pada Mata Air Meriba

Bahkan kutu tahi kecil itu berkali-kali menang telak dalam sejarah manusia, nenek bercerita setelah tonton obituari di Amerika Serikat, Spanyol, talia, China, Iran, Jerman, dan lain-lain. Indonesia kita,  370 an orang tewas tanpa pamit dengan keluarga hari ini. Kita diam.

Pada 1330 kutu Yersinia pestis membunuh 75 juta sampai 200 juta orang dari Asia, Afrika Utara dan Eropa. Hanya butuh dua tahun kutu menyisir bersih moyang kita di Samudra Atlantik.

Pada 1520 Fransisco de Egula, budak Afrika membawa smallpox. Smallpox mengubah Cempoallon (Amerika) menjadi lahan kuburan tiba-tiba. Lima bulan kemudian smallpox tiba di Aztec, Tenochtitlan. Selama dua bulan, smallpox memusnahkan sepertiga penduduk Azrec, termasuk Kaisar Cuitláhuac.

Pada 1778 tipus dan cacar menyisakan 70.000 orang di Hawaii setelah TBC dan sifilis mereda. Lalu, 1918 Flu Spanyol membantai 50 juta sampai 100 juta orang selama setahun dari semua negara; Perang Dunia Pertama hanya memusnahkan 40 an juta orang selama empat tahun. Parade obituari di setiap negara dijalankan secara huru-hara. 1967, cacar masih melahap 2 juta orang dari 15 juta yang terjangkit. Januari 2016, Ebola berhasil merenggut 11.000 an jiwa dari 30.000 orang yang terjangkit di Afrika Barat. Afrika Barat dan dunia berduka dan mendaraskan elegi. Sejak 1980 sampai 2016, AIDS memakan lebih dari 30 juta orang di Afrika dan New York. Teixobactin baru ditemukan pada tahun 2015 pasca ratusan juta orang gugur tanpa berperang. Nenek berbicara serak, gagap dan jeda.

Matahari ternyata sudah pergi. Kita menghitung sisa-sisa kecil di meja.

Ruang tamu jadi meja pers.

Seperti berita sejarah.

Setiap kali kutu dan tikus (mungkin kita)  melahap kita tidak pada saatnya.

BACA JUGA:  Puisi-puisi Pendeta Weinata Sairin tentang Hujan, Korupsi dan Korona

Prosesi kematian kita rutin tiap kali; di luar terkaan. Di luar doa.

Tiap kali kematian datang, siapa yang bisa menunda?

Dan kata-kata doa jadi lupa.

Tapi mereka menangis?

Setelah mati, kita lupa jalan pulang menuju hidup.

Di rumah kita; Lupa,

Kembali.

/3/ Kota-Kota Membisu; Kita Asing?

Embun berderai; seperti sebuah bunyi napas berhenti tujuh kali tiap dini hari.

Pada baris pertama, sejak awalnya kata dalam diam; bumi masih somnambulis¬—mumet. Perahu kertas ini berlayar menuju cela pikiran yang tiap kali merawang.

Barangkali ada sebuah ritus pemulihan menuju lubang kepala mereka, tempat logistikon dan epithuma pada perut ke bawah bersepakat seperti Covid-19 dan maut; di mana batas tak jelas lagi. Siapa yang menciptakan maut dan Covid-19? Dari mana mereka berasal? Dari teknologi? Dari luar bumi?

Barangkali ada “makhluk dan virus” di luar ciptaan pada awal kata. Sedangkan kalian tidak tahu siapa kami dan tidak mengenal nama kami. Kami memang tidak untuk dikenal dan tidak untuk siapa-siapa kami dilemparkan dari luar bumi. Kota-kota membisu; anak-anak jalanan berhenti berkeliaran. Barangkali kita menjadi asing setelah keruntuhan ini; berbeda dan asing.

Aku asing? Kita asing?

Barangkali ada sejumlah lembaran baru yang bersedia merekam perjalanan kita pada abad ke-21 ini. Mungkin ada ritus pemulihan setelah yang tolol, dongkol, gagap teknologi dan yang asing menjadi korban persembahan bagi dewa teknologi yang mahamulia, yang tiada kenal batas waktu melahap makhluk yang sontolyo; kita.

Mereka berbunyi?

Hologram bersembunyi,

Kita sepi;

Sirene, penjemput kita berbunyi tiap kali sepi.

Melky Deni, foto: dokpri

Melki Deni, mahasiswa dan penyair lepas pada koran lokal dan koran nasional.  Puisi-puisinya telah diterbitkan di sejumlah Antologi Puisi bersama penyair lain. Sedang mempersiapkan penerbitan buku antologi puisi pertama. 

 

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here