Bina Bangsa School, Kebon Jeruk:  Sudah Lama Siapkan Sistem untuk “Belajar Dari Rumah”

276
Richard, Kepala Sekolah "Secondary School"

Menyiapkan sistem belajar untuk menghadapi situasi darurat di kala banjir, ternyata bermanfaat saat situasi darurat akibat Covid-19

Bina Bangsa School di Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Foto: Dokumen Sekolah

Akibat merebaknya Covid-19, demi keselamatan jiwa masyarakat, Pemerintah memberlakukan “jaga jarak”. Jaga jarak pun berlaku di dunia pendidikan sehingga kemudian muncul kebijakan belajar online. Pada pendidikan dan peserta didik dihubungkan dengan perangkat digital dengan nyawa bernama internet.

Menjalani kebijakan darurat di masa darurat ini menyebabkan banyak guru maupun murid tergagap-gagap. Mereka tidak siap, lalu menganggap pembelajaran ini semacam beban yang mau tidak mau harus dijalani. Para siswa mengeluh karena tugas yang beruntun dari setiap guru, sementara para guru juga mengeku klenger memeriksa pekerjaan para siswa.

Bagaimana pengalaman sekolah yang ternyata sudah menyiapkan diri jauh sebelum “masa darurat” ini?

Berikut sharing Richard, Kepala Sekolah Bina Bangsa Secondary School Jakarta yang juga adalah alumni dari Monash University, Australia kepada tempusdei.id:

Di sekolah kami, Bina Bangsa School, kami kebetulan sudah mempersiapkan murid-murid kami untuk menggunakan perangkat Ipad dalam pembelajaran sehari-hari, mulai dari tahun lalu. Penggunaan perangkat ini dimulai dengan pertimbangan untuk memperkaya pembelajaran siswa dengan teknologi dan variasi pengajaran. Kami juga mempersiapkan perangkat lunak dan portal untuk siswa agar dapat mengumpulkan tugas dari rumah.

Lalu, kami berpikir untuk mempersiapkan siswa belajar dari rumah untuk menanggulangi keadaan emergency seperti banjir, seperti yang terjadi di awal tahun, atau ketika mereka sakit di rumah. Intinya kami ingin siswa tetap dapat belajar, walaupun mereka di rumah.

Dengan pemikiran bahwa “learning never stops” atau belajar tidak boleh berhenti, kami merencanakan agar dengan perangkat keras dan lunak yang sudah dikuasai dan biasa dipakai, siswa dapat belajar “dimana saja”. Tentunya kami melakukan eksplorasi dan studi banding, trial and error juga.

BACA JUGA:  Agustinus Bora Dairo, Sekolah Sambil jadi Pengaspal Jalan dan Penggali WC, Yakin Akan Sukses

Persiapkan Guru dan Perangkat

Bina Bangsa School Kebon Jeruk, Jakarta

Ketika kami memulai untuk memasukkan teknologi ke dalam kelas dan pembelajaran, kami mempersiapkan beberapa hal: Pertama, kesiapan guru dengan memberikan training/pelatihan. Kedua, perangkat lunak dan keras yang dipakai. Setelah mencoba berbagai macam perangkat, kami memutuskan untuk menggunakan ipad. Salah satu alasannya adalah agar para siswa menggunakan perangkat yang sama dan kami dapat menjaga akses siswa dengan sistem Mobile Device Management (MDM) terhadap Ipad.

Untuk kesiapan siswa dan orang tua, kami melakukan pembicaraan dengan orang tua murid, lalu memberikan training juga kepada mereka mengenai bagaimana “control’ terhadap siswa dan membatasi penggunaan ipad tersebut.

Persiapan perangkat lunak yang dipakai mengembangkan Academic Information System dari sekolah sendiri. Karena secara sistem sudah berjalan dan siswa sudah menggunakan teknologi di dalam pembelajaran, hal ini memudahkan ketika mereka harus belajar dari rumah.

Kami pernah melakukan uji coba system tersebut dua kali pada hari Sabtu, untuk memastikan siswa dapat belajar dari rumah. Interaksi dapat berjalan dengan baik di bulan Januari akhir.

Untuk Situasi Banjir

Persiapan kami waktu itu bukan untuk Covid-19 tetapi agar siswa dapat belajar dari rumah bila banjir kembali melanda. Ujicoba dua kali itu dilakukan juga untuk melihat apakah jaringan dan sistem kami mampu menampung seluruh siswa dan guru ketika harus belajar di luar sekolah.

Masalah terbesar dari system tersebut adalah “keterbiasaan”. Guru dan murid tidak terbiasa dengan belajar dan mengajar melalui perangkat teknologi, karena sudah biasa bertemu langsung di dalam kelas. Masalah terbesar kedua adalah bagaimana guru tetap dapat memberikan pengajaran yang sama baiknya seperti di dalam kelas.

Dengan melihat masalah yang ada, kami akhirnya melakukan kristalisasi konsep HBL kami dengan 4 pilar penting (seperti terlihat dalam gambar): Live interaction – interaksi langsung, self directed learning – belajar mandiri, consultation – konsultasi dengan guru langsung, remedial – kelas pengulangan atau pengayaan.

BACA JUGA:  Kisah di Balik Lagu "Betapa Indahnya", yang Indah dan Terkenal Itu

Kami melihat bahwa siswa tetap perlu interaksi dengan guru, kami siapkan waktu 30 menit untuk interaksi kelas menggunakan google meet atau zoom.

Sejauh ini dengan konsep yang ada, siswa dapat belajar dengan baik dan mengumpulkan hasil pekerjaan rumah mereka. Bahkan kami dapat melakukan tes atau ujian.

Oh ya, setiap pagi hari sebelum jam 8. Jam 7.45 kami akan melakukan presensi murid, dan “saat teduh” pagi pribadi dengan bahan refleksi yang kami siapkan. Hal ini penting agar siswa selalu ingat untuk berdoa dan bersandar pada Tuhan, sebelum memulai pekerjaan atau tugas mereka.

Beban dan Penyesuaian

Tentang beban guru dan siswa, kami usahakan agar tidak bertambah atau berkurang. Memang pada 1-2 minggu awal, ada pembiasaan dan penyesuaian. Contohnya, kami harus menelpon siswa yang belum “online”.

Guru pun harus menyesuaikan diri untuk menilai siswa jarak jauh, memberikan masukan ketika siswa mengumpulkan tugas melalui perangkat digital dan “soft copy”. Untuk guru, tentunya bekerja di rumah dan di sekolah sama beratnya, tetapi saya yakin guru kami melakukan pekerjaan mereka dengan baik karena cinta akan siswa-siswa dan ingin mereka berhasil.

Keunggulan metode belajar ini adalah pertama, murid sudah mempersiapkan diri dengan membaca bahan yang dikirim oleh guru sebelumnya.

Siswa memiliki waktu “belajar mandiri”, sehingga tidak melulu berhadapan dengan Ipad atau perangkat keras lainnya. Mereka dapat belajar sesuai dengan kemampuannya. Apabila diperlukan, mereka dapat bertanya dan konsultasi terhadap guru, pada jam yang disediakan.

Pembelajaran ini menurut kami cukup sustainable di jangka panjang. Sehingga apabila HBL atau belajar dari rumah harus diperpanjang sampai akhir semester, kami tidak akan kelelahan atau “kehabisan bensin”.

BACA JUGA:  Rosario Merah Putih, Bangkitkan Semangat 100 Persen Indonesia, 100 Persen Katolik

Oh ya, kami memulai penggunaan perangkat2 tsb juga dengan pemikiran bahwa siswa kami harus siap menghadapi dunia teknologi, kita namakan  Smart School Program. (tD)

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here