Mon. Oct 5th, 2026
Melalui nada dan suara, mereka mengajak kita berbagi.

JAKARTA – Ada perjalanan yang membawa manusia semakin jauh. Mengejar impian, melewati tantangan, menikmati keberhasilan, bahkan sesekali kehilangan arah. Namun, di tengah perjalanan panjang itu, selalu ada kerinduan yang tinggal di dalam hati: pulang.

Kerinduan itulah yang terasa dalam konser Jejak Pulang yang dipersembahkan Saint Paul Choir (SPC) untuk merayakan 17 tahun perjalanan pelayanan sekaligus mendukung pembangunan Gereja Santo Paulus Depok.

Digelar di auditorium Sekolah Bunda Mulia Kalideres, Jakarta Barat, konser tersebut bukan sekadar pertunjukan musik. Ia menjadi ruang perjumpaan antara musik, iman, persaudaraan, kenangan, dan kepedulian.

Sejak awal, penonton diajak mengikuti sebuah perjalanan batin. Lagu-lagu disusun bukan semata-mata berdasarkan keindahan harmoni, melainkan berdasarkan pesan yang hendak disampaikan: berkat, damai, persaudaraan, belas kasih, doa, dan kerja.

Perjalanan itu pada akhirnya bermuara pada satu kata: pulang.

Bagi Ketua Panitia Konser Jejak Pulang, Maria Puji Astuti, pulang bukan sekadar kembali ke sebuah tempat.

Pulang adalah perjalanan kembali kepada sumber kasih, iman, dan harapan.

“Konser Jejak Pulang lahir dari kerinduan kami sebagai kelompok paduan suara untuk merayakan perjalanan pelayanan kami di Paroki Santo Paulus Depok yang telah berjalan selama 17 tahun, sekaligus mengajak umat dan masyarakat untuk merefleksikan perjalanan hidup masing-masing,” katanya.

Selama 17 tahun, Saint Paul Choir telah melewati banyak pengalaman. Mereka melayani dalam perayaan Ekaristi, menyelenggarakan konser, terlibat dalam kegiatan sosial, dan menghadapi berbagai tantangan bersama.

Namun, bagi Maria, ada sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar perjalanan sebuah kelompok paduan suara: persaudaraan. Saint Paul Choir tumbuh menjadi sebuah keluarga.

Anak-anak yang dahulu datang sebagai anggota kecil kini telah tumbuh menjadi remaja dan dewasa. Sebagian dari mereka bahkan kembali melayani bersama generasi yang lebih muda.

“Melihat anak-anak yang dulu bergabung sebagai anggota kecil kini tumbuh menjadi pelayan yang dewasa, bahkan menjadi teladan bagi generasi berikutnya, adalah hadiah yang sangat berharga,” ujar Maria.

Di situlah musik menemukan maknanya yang lebih dalam.

Musik tidak hanya menjadi bunyi yang memenuhi ruang. Ia menjadi medium untuk mempertemukan generasi, merawat persaudaraan, dan mewariskan nilai iman serta pelayanan.

Tema Jejak Pulang juga memiliki hubungan erat dengan spiritualitas Santo Fransiskus Asisi. Konser tersebut bertepatan dengan peringatan 800 tahun wafatnya tokoh spiritual yang dikenal melalui kesederhanaan, kedamaian, persaudaraan, kerendahan hati, belas kasih, dan kecintaan terhadap seluruh ciptaan.

Pastor Paroki Santo Paulus Depok, RP Daniel Klau Nahak, OFM, mengajak hadirin melihat kehidupan sebagai sebuah perjalanan.

Manusia bisa pergi jauh. Mengejar banyak hal. Mengalami keberhasilan dan kegagalan. Merasakan sukacita sekaligus kehilangan arah.

Tetapi selalu ada kerinduan untuk kembali.

Dalam iman, pulang berarti kembali kepada Tuhan dan kasih-Nya.

Pesan itu kemudian diterjemahkan ke dalam rangkaian musik. Babak pertama menghadirkan tema Berkat melalui The Lord Bless You and Keep You, Berkat Damai Sejahtera, dan Aku Diberkati.

Perjalanan berlanjut pada tema Damai melalui Pacem dan Prayer of St. Francis. Kemudian Persaudaraan dan Belas Kasih hadir melalui Kasih Pasti Lemah Lembut, Brother Sun and Sister Moon, serta Canticle of the Sun.

Bagian Doa dan Kerja dihadirkan melalui Pekerja Kristus yang Mulia dan Jangan Lelah.

Semua kemudian bermuara pada lagu tema Jejak Pulang, yang dibawakan bersama seluruh penampil. Lagu Karya yang Mulia menjadi persembahan encore.

Ada anak-anak. Ada remaja. Ada orang dewasa. Ada mereka yang telah lama berjalan bersama. Ada pula generasi baru yang sedang belajar menemukan jalannya.

Kehadiran mereka menunjukkan bahwa Saint Paul Choir bukan hanya komunitas musik. Ia adalah ruang pertumbuhan.

Bahkan mereka yang telah berpulang tetap diberi tempat dalam perjalanan itu melalui tayangan Member to Remember, sebuah penghormatan bagi anggota Saint Paul Choir yang pernah hadir, berkarya, dan meninggalkan kenangan.

Konser juga menghadirkan kostum bernuansa era 1200-an, masa kehidupan Santo Fransiskus Asisi. Detail tersebut memperkuat suasana dan membawa penonton masuk ke dalam konteks spiritualitas yang menjadi salah satu napas pertunjukan. Namun, ada sesuatu yang lebih besar di balik panggung.

Konser tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya mendukung pembangunan Gereja Santo Paulus Depok.

Gereja bukan sekadar bangunan. Ia adalah rumah bersama. Tempat umat bertumbuh dalam iman, membangun persaudaraan, melayani, dan mewariskan nilai kepada generasi berikutnya.

Dari konser itu terkumpul Rp22.930.117 dan 10 ringgit Malaysia. Jumlah itu mungkin terlihat sebagai angka. Tetapi di baliknya ada kepedulian, doa, talenta, waktu, dan gotong royong.

Ada orang yang bernyanyi. Ada yang memainkan alat musik. Ada yang menyiapkan panggung. Ada panitia yang bekerja. Ada sponsor dan donatur. Ada penonton yang datang dan memberikan dukungan. Semuanya menjadi bagian dari satu perjalanan.

Ketika lampu panggung akhirnya padam, musik pun berhenti. Tetapi pesan Jejak Pulang tidak ikut selesai.

Ia tinggal dalam kesadaran bahwa perjalanan hidup tidak selalu lurus. Ada keberhasilan. Ada kegagalan. Ada kehilangan arah.

Namun, selalu ada jalan kembali. Dan pulang yang paling bermakna bukan sekadar menemukan tempat untuk beristirahat.

Pulang adalah kembali kepada kasih. Pulang adalah kembali kepada Tuhan. Dan perjalanan pulang yang paling indah adalah perjalanan yang meninggalkan jejak kasih bagi sesama. (tD)

Related Post