
Lima puluh tahun bukan sekadar angka. Bagi Pembaruan Karismatik Katolik (PKK) Indonesia, usia emas adalah kesempatan untuk melihat kembali perjalanan panjang karya Roh Kudus—dan bertanya, buah apa yang hendak dihadirkan bagi Gereja dan masyarakat hari ini?
Pertanyaan itu menemukan jawabannya dalam satu kata yang terus digaungkan dalam rangkaian Road to Golden Jubilee: harapan.
Sepanjang tahun, berbagai kegiatan digelar, mulai dari Kebangunan Rohani Katolik (KRK), konvensi daerah, hingga acara puncak pada 10 Oktober 2026 di Indonesia Arena, Jakarta.
Bagi Okie Imanto, Ketua Panitia Golden Jubilee PKK, perayaan ini terutama bukan tentang kemegahan acara. Ini tentang syukur atas karya Roh Kudus yang selama lima dekade menggerakkan ribuan umat awam di seluruh Nusantara.
“Gerakan karismatik ini adalah gerakan awam yang bertumbuh karena kekuatan Roh Kudus. Roh Kuduslah yang menggerakkan umat untuk melayani, berkomitmen, dan terus setia menjadi pelayan Tuhan selama puluhan tahun,” ujarnya.
Selama perjalanan itu, umat terlibat dalam pelayanan di paroki, pelayanan sosial, retret, sekolah evangelisasi, hingga pelayanan kepada kelompok kecil, lemah, miskin, terpinggirkan, tertinggal, dan difabel (KLMTD).
Bukan Pesta untuk Diri Sendiri
Usia emas mudah berubah menjadi pesta. Namun, panitia Golden Jubilee justru ingin menjaga agar perayaan tidak kehilangan rohnya.
“Jangan sampai ini menjadi keriaan semata. Jangan sampai orang melihat gerakan karismatik hanya sebagai gerakan yang bersukacita untuk dirinya sendiri. Semua acara ini demi kemuliaan Tuhan,” tegas Okie, yang juga Ketua Bidang Dana BPK PKK KAJ.
Karena itu, seluruh rangkaian Golden Jubilee tidak dirancang untuk memamerkan besarnya organisasi atau banyaknya peserta. Yang hendak dihadirkan adalah pesan yang relevan bagi Gereja dan masyarakat. Pesan itu sederhana: harapan.
Dalam berbagai diskusi dengan para pemimpin Gereja, termasuk Uskup Anton dan Kardinal Ignatius Suharyo, panitia menemukan satu kenyataan yang patut direnungkan. Kemiskinan terdalam tidak selalu berupa kekurangan materi. Ada kemiskinan rohani yang membuat seseorang kehilangan harapan.
“Di Gereja Katolik ada gerakan karismatik bagi mereka yang imannya sedang kering, yang secara rohani kosong, yang harapannya hampir pupus. Di sini mereka bisa belajar menumbuhkan harapan,” kata Okie.
Dari sanalah perhatian kepada KLMTD menjadi salah satu fokus utama Golden Jubilee.
Selama ini, banyak program sosial membantu kelompok tersebut melalui sembako, bantuan dana, dan kebutuhan materi lainnya. Namun, kebutuhan rohani sering kali belum mendapat perhatian yang sama.
“Kita tidak bisa menjamin kehidupan seseorang hanya dengan bantuan materi. Yang lebih penting adalah membuat mereka memiliki harapan, sehingga mereka bisa bangkit dan menemukan jalan hidup yang lebih baik,” ujar Koordinator Perduki Chapter Selatan 1 ini.
Membawa Mereka Mengalami Tuhan
Pada puncak Golden Jubilee di Indonesia Arena, panitia menargetkan kehadiran sekitar 12.000 umat. Dari jumlah itu, sekitar 2.000 peserta berasal dari kelompok KLMTD yang diundang secara khusus dari berbagai paroki di KAJ dan keuskupan sekitar.
Transportasi, konsumsi, dan kebutuhan mereka disiapkan agar tidak ada hambatan untuk hadir dan mengikuti seluruh rangkaian acara. Namun, yang hendak diberikan bukan sekadar fasilitas.
“Kami ingin mereka ikut merasakan Roh Kudus. Merasakan Tuhan. Merasakan bahwa mereka dicintai,” kata Okie.
Bahkan, perhatian itu tidak berhenti ketika acara selesai. Panitia menyiapkan after care berupa retret dan pembinaan rohani.
“Setelah acara puncak, rohani mereka akan terus dibangun. Harapannya mereka selalu memiliki hope, selalu memiliki harapan.”
Bagi Okie, ukuran keberhasilan Golden Jubilee bukanlah angka 12.000 peserta. Ukurannya adalah berapa banyak orang yang pulang dengan harapan baru.
“Saya yakin kalau kita berhasil menumbuhkan harapan di hati banyak orang, kita akan menyelamatkan banyak orang. Mereka bisa bangkit dan menemukan jalannya dalam Tuhan,” ujar Founder dan CEO Greenwoods Group ini.
Dari Sabang sampai Merauke
Golden Jubilee bukan hanya milik Jakarta. Sepanjang 2025 telah dan akan digelar sembilan konvensi daerah di berbagai wilayah Indonesia.
Menurut Okie, acara puncak di Indonesia Arena merupakan konvensi nasional yang kesepuluh.
Setiap konvensi membawa semangat yang sama: mensyukuri 50 tahun karya Roh Kudus di Indonesia sekaligus menyalakan kembali semangat evangelisasi.
Semangat persatuan itu juga diwujudkan melalui arak-arakan patung “Bunda Maria Menyapa Nusantara” yang dibawa dari satu daerah ke daerah lain. Di setiap tempat, umat diajak berdoa novena dan mempersatukan intensi bagi Gereja dan bangsa Indonesia.
“Gerakan ini benar-benar berkeliling Nusantara. Puncaknya nanti akan ada perarakan dan Rosario bersama sebagai ungkapan syukur seluruh umat,” jelas Okie.
Di Indonesia Arena, acara akan dimulai dengan doa Rosario yang berpotensi menjadi salah satu doa Rosario terbesar yang pernah diadakan di Indonesia.
Akan hadir pula berbagai tokoh Katolik dari kalangan atlet, artis, pengusaha, pejabat publik, hingga para pionir Gerakan Karismatik Katolik. Di antaranya Romo Yohanes Indra Kusuma dan Pastor Herbert Schneider, SJ, imam asal Amerika Serikat berusia 91 tahun yang dikenal sebagai salah satu pelopor pelayanan karismatik di kawasan Asia.
Evangelisasi yang Diam-Diam Berbuah
Bagi Okie, Golden Jubilee bukan hanya tentang satu hari perayaan. Momentum ini diharapkan membangkitkan kembali api evangelisasi di tengah Gereja Indonesia.
Evangelisasi, katanya, tidak selalu harus spektakuler. Ia justru dimulai dari kehidupan sehari-hari.
Dari keluarga yang penuh kasih. Dari pekerjaan yang dijalani dengan integritas. Dari usaha yang dikelola dengan jujur. Dari pelayanan kepada sesama.
Okie menyebutnya silent movement—gerakan sunyi yang mungkin tidak selalu terlihat, tetapi menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat.
“Kita tidak boleh menjadi Katolik yang pasif. Datang misa lalu pulang tanpa membawa apa-apa. Kita ingin mengundang Roh Kudus supaya buah-buah-Nya hadir dalam hidup kita dan berkarya di tengah masyarakat,” ujar Bachelor of Business dari RMIT University Melbourne ini.
Jika semakin banyak umat Katolik hidup dengan cara demikian, ia percaya Gereja dapat memberi kontribusi nyata bagi bangsa Indonesia melalui kehadiran yang membawa harapan.
Pada akhirnya, seluruh rangkaian Golden Jubilee kembali kepada satu kesadaran sederhana: Tuhan lebih dahulu mengasihi manusia.
Karena itu, manusia dipanggil untuk menjadi saluran kasih bagi sesama.
“Karena Tuhan lebih dulu mengasihi saya, maka saya ingin supaya hidup saya menjadi saluran berkat buat sesama. Supaya melalui diri saya dan melalui gerakan ini, kasih Tuhan bisa dirasakan oleh semakin banyak orang,” pungkas Master of Science dari The University of New South Wales, Sydney ini.
Mungkin itulah makna terdalam 50 tahun PKK.
Bukan sekadar menghitung perjalanan masa lalu, melainkan memastikan api yang telah dinyalakan Roh Kudus terus menyala—dan dari api itu semakin banyak orang menemukan harapan. (EDL)

