
JAKARTA — Saint Paul Choir (SPC) menandai 17 tahun perjalanan pelayanan dengan menggelar konser Jejak Pulang di auditorium Sekolah Bunda Mulia Kalideres, Jakarta Barat. Konser tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya penggalangan dana untuk pembangunan Gereja Santo Paulus Depok.
Konser tidak hanya menghadirkan paduan suara, tetapi juga mempertemukan anak-anak, remaja, orang dewasa, serta berbagai kelompok penampil dalam satu panggung.
Bagi Saint Paul Choir, kebersamaan lintas generasi itu merupakan bagian penting dari perjalanan 17 tahun mereka.
Ketua Panitia Konser Jejak Pulang, Maria Puji Astuti, mengatakan konser tersebut lahir dari kerinduan untuk merayakan perjalanan pelayanan Saint Paul Choir di Paroki Santo Paulus Depok.
“Konser Jejak Pulang lahir dari kerinduan kami sebagai kelompok paduan suara untuk merayakan perjalanan pelayanan kami di Paroki Santo Paulus Depok yang telah berjalan selama 17 tahun, sekaligus mengajak umat dan masyarakat untuk merefleksikan perjalanan hidup masing-masing,” ujarnya.
Selama 17 tahun, Saint Paul Choir terlibat dalam pelayanan rutin perayaan Ekaristi, penyelenggaraan konser, kegiatan sosial, serta berbagai kegiatan lainnya.
Dalam perjalanan itu, hubungan antaranggota berkembang menjadi sebuah persaudaraan. Anak-anak yang dahulu bergabung sebagai anggota paduan suara kini tumbuh menjadi remaja dan dewasa. Sebagian di antaranya kembali melayani bersama generasi yang lebih muda.
“Melihat anak-anak yang dulu bergabung sebagai anggota kecil kini tumbuh menjadi pelayan yang dewasa, bahkan menjadi teladan bagi generasi berikutnya, adalah hadiah yang sangat berharga,” kata Maria.
Konser Jejak Pulang sekaligus menjadi momentum untuk menghidupkan kembali nilai-nilai yang diwariskan Santo Fransiskus Asisi. Konser tersebut digelar bertepatan dengan peringatan 800 tahun wafatnya Santo Fransiskus.
Spiritualitas kesederhanaan, kedamaian, persaudaraan, kerendahan hati, belas kasih, serta kecintaan terhadap seluruh ciptaan menjadi bagian dari pesan yang hendak disampaikan melalui konser.
Pastor Paroki Santo Paulus Depok, RP Daniel Klau Nahak, OFM, mengatakan kehidupan manusia merupakan sebuah perjalanan. Dalam perjalanan itu manusia dapat mengalami keberhasilan dan kegagalan, sukacita maupun kehilangan arah.
Namun, pada akhirnya manusia memiliki kerinduan untuk pulang. Dalam konteks iman, pulang berarti kembali kepada Tuhan dan kasih-Nya.
Pesan tersebut diterjemahkan melalui repertoar konser. Tema Berkat dibawakan melalui The Lord Bless You and Keep You, Berkat Damai Sejahtera, dan Aku Diberkati.
Tema Damai hadir melalui Pacem dan Prayer of St. Francis. Tema Persaudaraan dan Belas Kasih disampaikan melalui Kasih Pasti Lemah Lembut, Brother Sun and Sister Moon, serta Canticle of the Sun.
Sementara itu, tema Doa dan Kerja dihadirkan melalui Pekerja Kristus yang Mulia dan Jangan Lelah.
Konser ditutup dengan lagu Jejak Pulang yang dibawakan seluruh penampil, kemudian dilanjutkan dengan Karya yang Mulia sebagai encore.
Selain musik, konser juga menghadirkan tayangan Member to Remember. Tayangan tersebut menjadi penghormatan bagi anggota Saint Paul Choir yang telah berpulang.
Nuansa era kehidupan Santo Fransiskus Asisi juga dihadirkan melalui kostum bernuansa 1200-an.
Di balik pertunjukan, konser membawa misi lain yang tidak kalah penting, yakni membantu pembangunan Gereja Santo Paulus Depok.
Bagi umat, gereja bukan sekadar bangunan fisik. Gereja merupakan rumah bersama untuk bertumbuh dalam iman, membangun persaudaraan, menjalankan pelayanan, serta mewariskan nilai kehidupan kepada generasi berikutnya.
Dukungan terhadap pembangunan gereja itu diwujudkan melalui penggalangan dana dalam konser.
Pastor Daniel mengingatkan bahwa setiap dukungan, sekecil apa pun, merupakan bagian dari sebuah kisah besar. Apa yang diperjuangkan umat saat ini pada akhirnya akan dinikmati generasi berikutnya.
Konser juga mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk sponsor dan Sekolah Bunda Mulia Kalideres yang menyediakan auditorium.
Koordinator Pendidikan Sekolah Bunda Mulia, Marietta Metty, menyampaikan rasa syukur karena lingkungan sekolahnya dapat menjadi bagian dari kegiatan yang memadukan keindahan musik dengan misi spiritual dan kemanusiaan.
Menurut Marietta, auditorium sekolah tidak hanya menjadi ruang pertunjukan, tetapi juga ruang yang mempertemukan banyak hati, pikiran, tenaga, dan doa.
Dukungan terhadap konser juga datang dari penonton. Wibisono dan istrinya, umat Paroki Santo Matias Cinere, mengaku menikmati pertunjukan. Mereka hadir karena menyukai musik, terlebih cucu mereka ikut tampil memainkan biola.
Dr. Linawati, umat Gereja Santo Paulus Depok, mengapresiasi kualitas paduan suara dan kostum yang ditampilkan. Ia juga mengaku bangga melihat talenta umat, khususnya dari Wilayah Stefanus.
Penonton lainnya, Ferdy S. Nggao, menyebut konser tersebut luar biasa. Fransisca juga menyampaikan apresiasi kepada Maria Puji Astuti dan seluruh panitia.
Sementara itu, Agatha Atin menilai hasil pertunjukan sepadan dengan proses persiapannya. Para anggota Saint Paul Choir menjalani latihan hingga tiga kali dalam seminggu.
Di balik penampilan yang berlangsung di atas panggung, terdapat disiplin, pengorbanan waktu, kerja keras, dan komitmen banyak orang.
Bagi Maria, konser Jejak Pulang diharapkan tidak berhenti sebagai pertunjukan yang selesai ketika lampu panggung dipadamkan.
Ia berharap penonton membawa pulang kehangatan, harapan, serta kesadaran bahwa dalam perjalanan hidup yang panjang dan penuh tantangan selalu ada tempat untuk kembali.
Saint Paul Choir juga berharap dapat terus menjadi komunitas yang bertumbuh dalam iman, pelayanan, dan persaudaraan.
Terutama, semakin banyak generasi muda diharapkan menemukan ruang untuk berkembang melalui pelayanan musik gereja.
Tujuh belas tahun perjalanan Saint Paul Choir akhirnya bukan hanya tentang usia sebuah kelompok paduan suara.
Ia adalah perjalanan orang-orang yang memilih berjalan bersama, merawat persaudaraan, mengembangkan talenta, dan mempersembahkannya untuk sesuatu yang lebih besar daripada diri sendiri.
Musik menjadi jalan. Iman menjadi arah. Dan pembangunan gereja menjadi salah satu wujud nyata dari perjalanan bersama itu. (tD/FDN)

