Mon. Sep 28th, 2026

Peluncuran Buku “Menulis Feature Memikat”: Jurnalisme Harus Bermuara pada Martabat Manusia

Karyan jurnalistik harus membela martabat manusia.

JAKARTA — Pada bagian akhir Prosa Kebudayaannya yang berjudul Rumah Sumba Rumah Intelektual dalam acara ”Peluncuran Program Rumah Besar Sumba” pada Sabtu (26/9/2026), di Lantai 10 Gedung Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), Jalan Salemba Raya, Jakarta Pusat, Emanuel Dapa Loka membawa serta buku terbarunya berjudul Menulis Feature Memikat – Merekam Denyut Nadi Manusia.

”Sebagai salah satu bentuk konkret ajakan untuk menjadikan Rumah Besar Sumba sebagai Rumah Intelektual yang melahirkan gagasan dan kreativitas, hari ini saya membawa karya kecil terbaru saya berupa buku berjudul Menulis Feature Memikat – Merekam Denyut Nadi Manusia,” kata alumnus Universitas Mercu Buana, Jakarta itu.

Pernyataan tersebut menandai peluncuran buku yang diterbitkan oleh Penerbit Altheras dan mendapat dukungan dari CSR BCA itu.

Menurut penulis biografi tersebut, feature bukan sekadar keterampilan teknis jurnalistik. Feature merupakan cara memandang manusia dan kehidupan secara lebih utuh. “Feature harus berangkat dari manusia dan bermuara pada manusia,” ujarnya.

Awalnya Kagum dan Gelisah

Emanuel mengatakan, buku tersebut lahir dari dua hal yang tampaknya sederhana, tetapi sangat menentukan perjalanan seorang penulis: kekaguman dan kegelisahan.

Ia mengaku kagum pada tulisan-tulisan feature yang mengalir jernih, memikat pembaca tanpa terasa menggurui, serta mampu menyentuh kesadaran melalui fakta-fakta yang kuat.

Namun, kekaguman itu sekaligus melahirkan kegelisahan. “Saya gelisah karena tulisan semacam itu tidak lahir begitu saja. Ia membutuhkan kepekaan, ketekunan, dan kesediaan untuk menyelami kehidupan lebih dalam daripada sekadar permukaan peristiwa,” kata alumnus SMA Katolik Anda Luri, Waingapu, Sumba Timur, NTT itu.

Emanuel menjelaskan, feature bukan cerpen yang bertumpu pada imajinasi. Feature berpijak pada kenyataan.

Tantangannya adalah bagaimana membuat fakta menjadi hidup, bernapas, dan menggugah pembaca.

Karena itu jelasnya, feature sering disebut sebagai jurnalisme yang bercerita. Ia tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga mengajak pembaca masuk ke dalam pengalaman manusia yang nyata.

Jeda di Tengah Banjir Informasi

Di tengah zaman yang bergerak cepat, berita datang silih berganti dalam hitungan detik. Orang dibiasakan untuk segera tahu. Namun, belum tentu memiliki kesempatan untuk benar-benar memahami.

Di sinilah, menurut Emanuel, feature menemukan relevansinya. Feature menghadirkan jeda. Ia mengajak pembaca memperlambat langkah, melihat proses, merasakan denyut kehidupan, lalu menemukan makna di balik sebuah peristiwa.

Penulis percaya, kemampuan menulis feature tidak tumbuh secara instan. Para penulis seperti Gunawan Mohammad, Rosihan Anwar, dan Sindhunata, menurut dia, lahir melalui perjalanan panjang.

Mereka membaca, mengamati, mendengar, merasakan, lalu terus menulis. Kemudian kembali membaca, mengamati, mendengar, merasakan, dan menulis lagi. “Karena itu, buku ini lebih memilih menjadi teman latihan daripada sekadar buku ajar,” katanya.

Melalui buku tersebut, pembaca diajak memahami bagaimana sebuah feature dirancang, dibangun, dan dihidupkan.

Tujuannya bukan sekadar menghasilkan tulisan yang enak dibaca. Lebih dari itu, tulisan diharapkan mampu menggerakkan pembaca—membangkitkan empati, kesadaran, bahkan tindakan.

“Semoga buku ini menjadi langkah kecil yang berguna bagi siapa pun yang ingin belajar menulis dengan hati, dengan kedalaman, dan dengan keberpihakan pada yang kecil, lemah, dan tak berdaya. Di sinilah, jurnalisme harus berpihak,” kata Emanuel Dapa Loka di sela-sela acara. (tD)

Related Post