
JAKARTA – Matahari tepat berada di atas Palmerah ketika jarum jam menunjukkan pukul 12.00 WIB, 3 Oktober 2026. Di tengah terik siang, para wartawan Katolik berkumpul di Kapela Susteran FMM, Palmerah, Jakarta, untuk merayakan Misa Jumat Pertama.
Namun, perayaan Ekaristi siang itu tidak hanya menjadi ruang untuk berdoa dan meneguhkan iman. Dalam Misa yang dipersembahkan oleh Romo Heribertus Ferry Monatolas, CP, doa secara khusus dipanjatkan bagi para wartawan yang hilang ketika menjalankan tugas jurnalistik di sekitar perairan Anak Krakatau.
Dalam suasana hening, perhatian diarahkan kepada mereka yang hingga kini belum diketahui keberadaannya.
Di balik tugas jurnalistik yang kerap terlihat sebagai pekerjaan mengejar informasi dan menyampaikan berita, ada manusia yang pergi mencari fakta, meninggalkan keluarga, dan mempertaruhkan keselamatan demi menghadirkan informasi kepada publik.
Pesan itulah yang kemudian mengemuka dalam homili Romo Heribertus.
Mengambil inspirasi dari peringatan Malaikat Pelindung, ia mengatakan bahwa malaikat diutus Allah untuk menjaga umat-Nya dan menuntun manusia menuju Allah sendiri.
“Malaikat dikirim Allah untuk menjaga umat-Nya menuju Allah sendiri,” ujar Romo Heribertus.
Menurut dia, gambaran mengenai malaikat yang berjalan di depan manusia memiliki kemiripan dengan tugas seorang wartawan. Wartawan, katanya, merupakan penjaga sekaligus pembawa kebenaran.
“Wartawan adalah penjaga dan pembawa kebenaran. Sebagai pewarta kabar baik dan sabda kebenaran kepada umat manusia,” katanya.
Ia menegaskan, pusat dari perjalanan manusia bukanlah malaikat, melainkan Tuhan. Malaikat hanya menjaga agar manusia tetap berjalan sesuai dengan kehendak Allah.
Demikian pula dengan wartawan. Mereka adalah orang-orang yang berada dalam perjalanan untuk mencari kebenaran dan kemudian menyampaikannya kepada masyarakat.
“Mencari fakta, mendengarkan suara, benar atau tidak, harus jujur menyampaikannya,” tutur Romo Heribertus.
Di tengah derasnya hoaks
Tugas mencari dan menyampaikan kebenaran, lanjutnya, menjadi semakin penting di tengah perkembangan teknologi informasi. Saat ini, berita palsu atau hoaks semakin mudah beredar. Bahkan, suara dan wajah seseorang dapat diubah dengan teknologi.
Kemajuan teknologi, menurut dia, patut disyukuri. Namun, manusia tidak boleh kehilangan kendali atas teknologi yang diciptakannya sendiri.
“Ini kemajuan yang boleh kita banggakan, tapi jangan sampai kita dikuasai. Tapi kitalah yang harus menguasai karena berasal dari kecerdasan yang datang dari Allah,” katanya.
Karena itu, tugas wartawan tidak berhenti pada menyampaikan apa yang terjadi. Lebih jauh, wartawan dipanggil untuk membantu masyarakat melihat apa yang benar.
“Kita bukan sekadar memberitakan apa yang terjadi, tapi membantu orang melihat yang benar. Karena itu kita dipanggil menjadi pembawa kebenaran, bukan pembunuh kebenaran itu,” ujar Romo Heribertus.
Ia juga mengajak para wartawan untuk menjalankan tugas dengan kerendahan hati, ketulusan, dan keberanian.
Injil, menurutnya, mengajak setiap pewarta kebenaran untuk bersikap rendah hati dan tulus di hadapan Tuhan serta tidak takut dalam menjalankan tugas.
Sebab, menjadi wartawan tidak selalu berarti berada dalam situasi aman, nyaman, dan mudah. Ada kalanya tugas jurnalistik membawa seseorang ke tempat-tempat berisiko, bahkan mempertaruhkan nyawa.
“Jadi wartawan tidak selalu aman, nyaman dan mudah. Nyawa bisa terancam. Namun kita percaya Tuhan bersama kita,” katanya.
Memberi Suara kepada Mereka yang Tak Terdengar
Romo Heribertus kemudian mengingatkan satu tugas penting jurnalistik: memberikan ruang kepada mereka yang suaranya sering kali tidak terdengar.
“Suarakan mereka yang tidak memiliki suara, tidak punya akses kepada kekuasaan,” katanya.
Ia meminta wartawan tidak hanya mendatangi orang-orang yang memiliki panggung dan akses terhadap publik.
“Jangan sampai kita hanya datang kepada mereka yang punya panggung. Berikan juga tempat bagi mereka yang tak memiliki suara itu,” lanjutnya.
Dalam perspektif iman, tugas tersebut berkaitan erat dengan penghormatan terhadap martabat setiap manusia. Malaikat Pelindung mengingatkan bahwa setiap manusia memiliki martabat dan harapan yang sama untuk didengarkan.
Pada peringatan Malaikat Pelindung itu pula, Romo Heribertus mengajak para wartawan melihat manusia di balik setiap peristiwa.
“Di balik setiap peristiwa ada manusia, luka, harapan, keluarga,” ujarnya.
Karena itu, menjadi wartawan bukan berarti mengambil alih peran malaikat. Wartawan justru dipanggil untuk menjadi perpanjangan tangan dalam menghadirkan perlindungan, memperjuangkan martabat manusia, dan memberikan suara kepada mereka yang tidak terdengar.
“Kita bukan mau jadi malaikat, tapi perpanjangan tangan malaikat untuk membela martabat manusia, memberi suara.”
Di Kapela Susteran FMM siang itu, doa bagi para wartawan yang hilang di sekitar perairan Anak Krakatau menjadi bagian dari permenungan tersebut. Di tengah ketidakpastian, doa menjadi ungkapan solidaritas dari sesama wartawan dan komunitas iman.
Hari itu, ketika Gereja memperingati Malaikat Pelindung yang diyakini menyertai perjalanan setiap manusia, para wartawan kembali diingatkan bahwa perjalanan mencari dan menyampaikan kebenaran bukanlah tugas yang selalu mudah.
Ada risiko, ada ketidakpastian, dan ada manusia-manusia yang menanti kabar dari orang yang mereka cintai.
Namun, sebagaimana pesan yang disampaikan dalam perayaan Ekaristi itu, tugas mewartakan kebenaran tetap dijalankan dengan keberanian, kejujuran, kerendahan hati, dan keyakinan bahwa manusia tidak berjalan sendirian. (EDL)

