Mon. Sep 28th, 2026
Para penari Sumba mengiringi semangat bersama membangun Rumah Besar Sumba dengan tiga tarian warisan leluhur: Tarian Harama, Tarian Woleka dan Tarian Kabokang.

JAKARTA – Sumba seperti dibawa ke Jakarta. Bukan dengan pesawat. Bukan pula dengan kapal. Ia datang melalui bunyi gong.

Sejak pukul 17.00 WIB, irama Gong Woleka menggema di salah satu ruangan Lantai 10 Gedung Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), Salemba, Jakarta Pusat.

Fredy Datom dan kawan-kawan menabuh gong dengan penuh semangat. Suasana pun berubah. Riuh. Hangat. Sukacita. Memang, Gong Woleka adalah irama kegembiraan.

Begitu irama itu berhenti, gong Sumba Timur menyusul. Penabuhan tambur dikomandani Rambu Adri. Para penari berdiri mengelilingi penabuh. Kaki dan tubuh mereka bergerak mengikuti irama. Seperti kuda-kuda Sumba yang hendak memasuki arena pacuan.

Malam itu, lantai 10 Gedung LAI seakan bukan lagi Jakarta. Ia menjadi ruang kecil tempat orang-orang Sumba berkumpul. Mereka datang dari berbagai penjuru Jabodetabek dan Bandung.

Mereka datang membawa satu hal yang sama: kerinduan kepada tanah leluhur. Ketika lampu kemudian dipadamkan, suasana berubah hening.

Tarian Harama dengan kelincahan para penarinya menyemangati dan menggetarkan hati.

Dari sisi kanan panggung, Pendeta Rostiana Zogara melantunkan Oli Gailarumarada, lagu dari Sumba Tengah yang pernah populer pada era 1980-an. Ingatan pun seperti dibawa pulang. Ke sabana. Ke kampung. Ke tanah yang mungkin jauh secara jarak, tetapi tetap dekat dalam ingatan.

Pembawa acara John Langgar Bili memperkuat suasana itu melalui narasi-narasi pendek tentang Sumba. Tentang sabana yang luas. Tentang tanah kelahiran yang selalu mempunyai cara untuk memanggil anak-anaknya kembali.

Dan dari suasana penuh kerinduan itulah sebuah mimpi besar mulai dinyatakan. Rumah Besar Sumba di Jakarta.

Ketua Umum Ikatan Keluarga Besar Sumba (IKBS), Herman Malo Dona, secara resmi meluncurkan Program Rumah Besar Sumba.

Rumah ini dirancang sebagai rumah bersama bagi masyarakat Sumba di tanah rantau.

Namun, rumah itu belum ada. Tanahnya belum dibeli. Bangunannya belum berdiri. Dan uangnya pun belum tersedia.

Ketua Umum Pembangunan RBS, Mayjen (Purn.) Jan Pieter Ate, menyebut kebutuhan dana pembangunan sekitar Rp5 miliar.

Rumah tersebut direncanakan berdiri di atas lahan seluas sekitar 2.000 meter persegi di wilayah Jabodetabek. “Sekarang kita belum punya uang untuk membeli tanah, apalagi membangun,” kata Jan.

Tetapi malam itu bukan tentang ketiadaan. Malam itu adalah tentang keberanian untuk memulai.

Panitia mengajak warga IKBS membangun rumah tersebut sedikit demi sedikit. Salah satu simbolnya adalah katimbu, celengan tradisional yang dibagikan kepada warga.

Dari sana, gerakan pengumpulan dana dimulai. Ke depan, panitia juga akan menggelar Malam Dana, pementasan seni, pengajuan proposal kepada berbagai pihak, dan berbagai bentuk penggalangan dana lainnya.

Sebuah rumah besar memang membutuhkan batu dan semen. Tetapi Rumah Besar Sumba membutuhkan sesuatu yang lebih besar: gotong royong.

Semangat itulah yang ditegaskan dalam ibadah ekumene yang dipimpin Pendeta Rostiana Zogara.

Dalam renungan, Romo John Kota Sando, Pr, mengajak seluruh warga untuk saling mendukung dan bekerja keras.

“Berdiri atau tidaknya rumah ini, sangat tergantung dari setiap kita,” katanya.

Pesan itu kemudian diterjemahkan melalui seni. Panitia peluncuran yang dipimpin Ganna Beilli menghadirkan kolaborasi tiga tarian: Harama dari Sumba Timur, Woleka dari Sumba Barat, dan Kabokang dari Sumba Timur.

Kolaborasi koreografer Celestino Reda itu diberi nama Tarian Kabela. Tiga tarian bertemu pada satu tanggung. Tiga warna budaya bergerak dalam satu panggung.

Seperti orang-orang Sumba yang hidup di tanah rantau, tetapi tetap mencari ruang untuk bertemu sebagai satu keluarga.

Pada malam yang sama, wartawan dan penulis biografi Emanuel Dapa Loka membawakan Prosa Kebudayaan berjudul “Rumah Sumba, Rumah Intelektual.”

Ia mengingatkan, Rumah Besar Sumba tidak boleh berhenti sebagai bangunan fisik. Sebab, dalam pemaknaan masyarakat Sumba, rumah bukan hanya tempat berteduh. Rumah adalah tempat berkumpul. Tempat membawa kabar. Tempat membicarakan persoalan. Tempat menimbang kata. Dan tempat mengambil keputusan bagi kehidupan bersama.

Karena itu, menurutnya, Rumah Besar Sumba harus menjadi tempat pikiran tentang Sumba dipertemukan dan diperdebatkan untuk melahirkan karya.

“Marilah kita membangun Rumah Sumba bukan hanya dengan semen dan batu. Bangunlah ia dengan pikiran. Bangunlah ia dengan persaudaraan. Bangunlah ia dengan keberanian untuk bermimpi. Dan bangunlah ia dengan kerja nyata,” serunya.

Ia melanjutkan: “Agar setiap orang Sumba yang datang ke rumah ini tidak hanya menemukan tempat untuk berteduh, tetapi menemukan tempat untuk berpikir, berdialog, berkarya, dan pulang membawa gagasan baru bagi tanah leluhur.”

Malam itu, sebuah rumah memang belum berdiri. Belum ada dinding. Belum ada pintu. Belum ada atap. Tetapi sesuatu yang lebih penting telah dimulai.

Sebuah tekad. Tekad orang-orang Sumba di tanah rantau untuk memiliki sebuah rumah bersama.

Rumah yang kelak bukan hanya menjadi tempat berkumpul, tetapi juga tempat kebudayaan dirawat, gagasan dipertemukan, dan karya dilahirkan.

Sebab, rumah yang sesungguhnya bukan hanya bangunan yang berdiri di atas tanah. Rumah adalah tempat hati merasa pulang.

Dan malam itu, di lantai 10 Gedung LAI, orang-orang Sumba sedang mulai membangun rumah itu. Dari hati mereka. Dari persaudaraan mereka. Dari katimbu-katimbu kecil yang mulai diisi. Dan dari mimpi besar yang baru saja ditabuh bersama bunyi gong.

Peluncuran tersebut juga ditandai dengan pemutaran film pendek karya Marco Reda serta peluncuran rumahbesarsumba.com, website yang dikembangkan Marcel Reda. Rambu Tamar tampil membacakan puisinya Sumbaku Rumahku.

Melalui website tersebut, masyarakat dapat mengikuti informasi, perkembangan, serta proses penggalangan dana pembangunan Rumah Besar Sumba. (tD)

Related Post