
JAKARTA—PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (Sido Muncul) kembali mengulurkan tangan. Kali ini, perusahaan menyalurkan bantuan tunai senilai Rp510 juta untuk membantu masyarakat terdampak bencana gempa bumi di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Bantuan tersebut diserahkan secara simbolis oleh Direktur Utama Sido Muncul, Dr. (H.C.) Irwan Hidayat, di Kantor Sido Muncul, Senin (7/9/2026).
Penyaluran bantuan ini bukan kali pertama Sido Muncul hadir bagi masyarakat NTT. Sebelumnya, perusahaan telah menyalurkan bantuan senilai Rp400 juta untuk korban gempa bumi yang melanda wilayah NTT pada Agustus 2026.
Dengan demikian, ketika banyak pihak mulai beranjak dari pemberitaan tentang gempa, Sido Muncul justru melihat masih ada pekerjaan kemanusiaan yang harus dilanjutkan: membantu masyarakat bangkit dari puing-puing bencana.
“Proses pemulihan itu justru kebutuhannya lebih banyak, baik untuk perbaikan rumah atau kebutuhan lainnya,” kata Irwan Hidayat.
Bagi Irwan, bantuan pada masa pemulihan tidak selalu harus hadir dalam bentuk barang. Uang tunai justru dinilai lebih mendesak sekaligus fleksibel karena dapat digunakan sesuai kebutuhan masyarakat di lapangan.
Karena itu, Irwan mengatakan Sido Muncul akan terus berusaha mengirimkan bantuan dalam bentuk uang.
Pilihan tersebut juga mempertimbangkan kondisi geografis NTT dan kebutuhan korban yang beragam. Bantuan yang disalurkan melalui sejumlah yayasan, komunitas, lembaga pelayanan, serta keuskupan diharapkan dapat memperpendek jarak antara bantuan dan mereka yang membutuhkan.
Irwan menyampaikan duka cita sekaligus keprihatinan mendalam atas bencana gempa bumi yang menimpa masyarakat NTT.
Namun, kehadiran Sido Muncul tidak berhenti pada ungkapan duka.
Sebelas lembaga dan komunitas menjadi saluran bantuan kali ini. Mereka berada di berbagai wilayah dan memiliki akses langsung kepada masyarakat yang terdampak.
Bantuan masing-masing Rp40 juta diberikan melalui Paroki Kristus Raja Pagal/JPIC OFM, Lembaga Pelayanan Sukarela Pendidikan Anak Florenz, Rumah Gendang Pa’ang Lembor, dan Biara SSps Ruteng (Yayasan Dian Yosefa).
Sementara itu, bantuan masing-masing Rp50 juta disalurkan melalui Posko Tanggap Darurat Bencana Gempa Flores Keuskupan Agung Ende, Paroki Uwa Palue Keuskupan Maumere, Keuskupan Labuan Bajo, Paroki Hati Maha Kudus Tuhan Yesus Pota Keuskupan Ruteng, Paroki St. Antonius Padua Ri’i Keuskupan Ruteng, Caritas Keuskupan Larantuka, serta Perhimpunan Dokter Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi Indonesia.
Bantuan tersebut secara simbolis diterima oleh Romo Antonius Nugroho Bimo Prakoso, OFM; Fulgensius Surianto; Agustinus Bandur, Ph.D.; Sr. Dorothea; Romo Reginald Piperno; Romo Rinto, Romo Frans Nala, Pr.; Romo Febryano Tagung; RD Tarsisius Syukur; RD Pey Hurint; serta Dr. dr. Mohammad Adib Khumaidi, Sp.OT.
Dari Pertolongan hingga Pemulihan
Gempa tidak hanya meninggalkan rumah yang roboh. Di balik bangunan yang runtuh, ada tubuh-tubuh yang terluka dan keluarga yang kehilangan tempat berteduh.
Dr. dr. Mohammad Adib Khumaidi, Sp.OT., yang juga merupakan Komisaris Independen Sido Muncul, mengatakan kondisi korban pascagempa di Flores masih membutuhkan perhatian. Sejumlah korban mengalami patah tulang dan membutuhkan penanganan secara berkelanjutan.
Bantuan, kata dia, terutama dibutuhkan untuk pertolongan primer, pemenuhan gizi, dan berbagai kebutuhan dasar lainnya.
Artinya, setelah fase darurat berlalu, persoalan belum selesai. Justru pada tahap inilah kebutuhan korban dapat berubah menjadi lebih panjang dan kompleks.
Hal itu dirasakan pula oleh Yayasan Pendidikan Dian Yosefa Ruteng.
Sekolah yang dikelola yayasan tersebut, yang menampung sekitar 300 siswa, mengalami kerusakan berat akibat gempa. Bagi para siswa, bencana bukan hanya mengubah tempat tinggal, tetapi juga mengganggu ruang untuk belajar dan menatap masa depan.
Pengurus Yayasan Pendidikan Dian Yosefa Ruteng, Sr. Dorothea, mengapresiasi bantuan yang diberikan Sido Muncul.
Ia mengatakan bantuan tersebut akan digunakan untuk membangun kembali gedung sekolah yang hancur akibat gempa.
“Bantuan dari Sido Muncul akan digunakan untuk membangun kembali gedung sekolah,” ujar Sr. Dorothea.
Di tempat lain, komunitas adat juga merasakan manfaat bantuan tersebut.
Agustinus Bandur, Ph.D., perwakilan komunitas adat di Flores, menyampaikan terima kasih atas kepedulian Sido Muncul. Bantuan tersebut dinilainya sangat membantu masyarakat yang tengah berjuang melewati masa sulit setelah gempa.
“Terima kasih, Sido Muncul,” kata Bandur.
Tangan yang Tak Berhenti Terulur
Kepedulian Sido Muncul terhadap korban bencana kali ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk terus hadir di tengah masyarakat yang mengalami musibah.
Sebelumnya, Sido Muncul juga menyalurkan bantuan tunai total Rp400 juta melalui dua lembaga. Sebanyak Rp300 juta disalurkan melalui Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, sedangkan Rp100 juta melalui Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA).
Bantuan demi bantuan itu memperlihatkan satu pola yang sama: ketika bencana datang, Sido Muncul berusaha tidak absen.
Ia hadir ketika keadaan darurat membutuhkan pertolongan. Ia kembali datang ketika korban mulai memasuki masa pemulihan. Dan ketika kebutuhan belum selesai, tangan itu kembali diulurkan.
Sebab, bagi korban bencana, pemulihan bukanlah pekerjaan sehari.
Rumah mungkin dapat dibangun kembali. Sekolah dapat didirikan lagi. Luka fisik perlahan dapat dirawat. Tetapi semuanya membutuhkan waktu, biaya, dan terutama dukungan dari mereka yang bersedia berjalan bersama.
Di tengah puing-puing Flores, bantuan Rp510 juta itu karena itu bukan sekadar angka. Ia menjadi tanda bahwa di balik sebuah perusahaan, ada kepedulian yang berusaha diterjemahkan menjadi tindakan.
Bencana mungkin merobohkan banyak hal. Tetapi kepedulian membuat manusia kembali berdiri.
Dan ketika tangan-tangan lain mungkin mulai lelah, Sido Muncul memilih untuk tetap mengulurkan tangannya. (*/tD)

