Fri. Aug 28th, 2026
Romo Carolus baru saja menerima penghargaan Special Achievement Svarna Bhumi Award.

Penghargaan untuk Romo Carolus kembali datang melalui Special Achievement Svarna Bhumi Award. Proficiat!

Pagi selalu datang dengan cara yang sama di Kampung Laut, Cilacap. Matahari naik dari balik cakrawala, menyentuh hamparan sawah yang menghijau. Perahu-perahu bergerak di antara perairan dan pulau-pulau kecil. Di kejauhan, petani mulai bekerja. Kehidupan tampak biasa saja. Padahal, tidak selalu demikian.

Puluhan tahun silam, kawasan delta Sungai Citanduy di sekitar Segara Anakan itu lebih dikenal sebagai rawa, lumpur, hutan mangrove, dan permukiman terpencil yang seolah jauh dari perhatian. Hidup di sana tidak mudah. Penyakit datang bersama buruknya sanitasi. Akses jalan dan pendidikan terbatas. Kemiskinan seperti menjadi bagian dari keseharian.

Lalu datang seorang imam dari Dublin, Irlandia. Namanya Charles Patrick Edward Burrows, OMI. Warga lebih mengenalnya sebagai Romo Carolus. Ia datang ke Kampung Laut pada 1973 dengan menumpang speedboat. Apa yang ditemuinya membuatnya terhenyak.

“Kampung Laut tahun 1973 adalah neraka.” Hutan mangrove mengelilingi permukiman. Banyak warga menderita sakit mata. Sebagian bahkan mengalami infeksi parah hingga nanah keluar dari mata mereka.

Romo Carolus tidak datang dengan proyek besar. Ia memulai dari sesuatu yang sangat sederhana: memberi salep kepada mereka yang sakit.

Dari sana, pengabdiannya bergerak ke mana-mana. Sanitasi diperbaiki. Jembatan dibangun. Pendidikan diperhatikan. Jalan dibuka. Air bersih disediakan. Bersama masyarakat, kawasan sedimentasi lumpur perlahan ditata menjadi lahan pertanian.

Rawa yang dahulu dianggap tidak produktif mulai berubah. Sekitar 1.500 hektare sawah kemudian terbentuk di kawasan Kampung Laut.

Tetapi bagi Romo Carolus, sawah bukan sekadar angka dalam laporan pembangunan. Sawah berarti makanan di atas meja. Sawah berarti penghasilan. Sawah berarti biaya sekolah anak. Sawah berarti kesempatan bagi keluarga untuk berdiri di atas kaki sendiri.

Yang berubah, karena itu, bukan hanya tanah. Yang berubah adalah kemungkinan hidup manusia.

Pengemis yang Mengetuk Pintu

Menariknya, Romo Carolus tidak pernah menempatkan dirinya sebagai tokoh utama dari perubahan tersebut. Ketika orang memuji pengabdiannya, ia justru mengatakan, “Saya hanya tugas mengemis.”

Kalimat itu terdengar sederhana. Bahkan seperti gurauan. Namun, di baliknya terdapat filosofi hidup yang dalam.

Ia memang “mengemis”. Mengetuk pintu para donatur. Meminta bantuan. Mencari orang yang bersedia peduli. Menghubungkan orang yang memiliki kemampuan dengan masyarakat yang membutuhkan.

Apa yang didapatnya tidak dikumpulkan untuk dirinya sendiri. Ia mengumpulkan agar orang lain bisa berdiri.

Melalui Yayasan Sosial Bina Sejahtera (YSBS), kepedulian itu kemudian berkembang menjadi berbagai karya nyata. Lima TK, dua SD, delapan SMP, tiga SMA, dan satu akademi maritim dibangun. Jalan, jembatan, tanggul, serta fasilitas air bersih juga dikembangkan.

Bagi Romo Carolus, pembangunan bukan sekadar mendirikan bangunan. Sebuah jembatan membuat anak bisa pergi ke sekolah. Jalan memungkinkan hasil pertanian dibawa ke pasar. Air bersih membuat keluarga hidup lebih sehat. Sekolah membuka pintu masa depan. “Pendidikan membebaskan orang dari kemiskinan dan kebodohan,” katanya.

Karena itu, ia tidak sekadar membangun fasilitas. Ia berusaha memindahkan batas yang selama bertahun-tahun mengurung kehidupan masyarakat.

Kiai Carolus

Ada paradoks menarik dalam perjalanan hidupnya. Romo Carolus adalah seorang pastor Katolik. Tetapi ia hidup dan bekerja di tengah masyarakat Kampung Laut yang mayoritas Muslim. Kehadirannya bahkan pernah dicurigai sebagai bagian dari upaya kristenisasi.

Ia tidak membalas tuduhan itu dengan perdebatan panjang. Ia bekerja. Ia membantu orang sakit. Ia ikut memikirkan pendidikan. Ia berjalan bersama masyarakat. Ia mendengar keluhan mereka.

Lambat laun, muncul sebuah panggilan yang mungkin tidak pernah ia bayangkan: Kiai Carolus. Sapaan itu lebih dari sekadar nama panggilan.

Ia menunjukkan bahwa dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering menemukan persaudaraan bukan karena kesamaan identitas, melainkan karena kepedulian terhadap sesama.

Di hadapan kemiskinan, orang tidak pertama-tama bertanya siapa agamanya. Yang dirasakan adalah siapa yang hadir. Yang diingat adalah siapa yang membantu ketika mereka membutuhkan.

Romo Carolus menjadikan kemanusiaan sebagai jembatan.

Bahkan untuk Mereka yang Menunggu Mati

Pengabdiannya tidak berhenti di Kampung Laut. Nusakambangan menjadi bagian lain dari perjalanan hidupnya. Seminggu sekali, ia mempersembahkan Ekaristi di lembaga pemasyarakatan di pulau itu, termasuk mendampingi para terpidana yang menunggu eksekusi hukuman mati. Ia dikenal menolak hukuman mati dan memperjuangkan pendampingan keagamaan bagi mereka.

Pada Januari 2015, ia menyoroti kasus Marco Archer Cardoso Moreira, warga Brasil yang dieksekusi pada 18 Januari 2015. Menurut kesaksian Romo Carolus, Marco diseret keluar dari sel dalam keadaan menangis dan meminta pertolongan.

Bagi Romo Carolus, bahkan seseorang yang telah dijatuhi hukuman mati tidak kehilangan martabatnya sebagai manusia. Di sana tampak wajah lain dari apa yang ia hayati sebagai “Teologi Cinta”: cinta tidak berhenti ketika seseorang dianggap tidak layak dicintai.

Setengah Abad Mengetuk Pintu

Romo Carolus menjadi warga negara Indonesia pada 1983. Lebih dari setengah abad hidupnya kemudian dihabiskan bersama masyarakat Indonesia, khususnya Cilacap.

Pada 26 Mei 2012, ia menerima Maarif Award atas karya kemanusiaannya di Kampung Laut. Pada 2026, penghargaan kembali datang melalui Special Achievement Svarna Bhumi Award, sebagai apresiasi atas kiprahnya dalam ketahanan pangan, pengembangan pertanian, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat, terutama di wilayah terpencil.

Namun penghargaan tampaknya bukan sesuatu yang membuatnya merasa sebagai pahlawan.

Bupati Cilacap Tatto Suwarto Pamudji pernah menggambarkan cara kerjanya dengan kalimat yang kuat: “Romo tidak berkarya dengan tinta, tapi tetesan keringat. Ia turun dan mendengar langsung keluhan masyarakat.”

Dan Romo Carolus sendiri tetap pada kalimatnya: “Bukan Carolus yang kerja. Yang lain yang kerja. Saya hanya tugas mengemis. Barangkali justru di situlah kebesarannya.

Ia tidak mengklaim sawah sebagai miliknya. Tidak menganggap sekolah, jalan, jembatan, atau air bersih sebagai monumen pribadi. Ia tahu perubahan tidak pernah lahir dari satu orang.

Ada petani. Ada guru. Ada pekerja. Ada masyarakat. Ada donatur. Ada orang-orang yang memberikan waktu, tenaga, pikiran, dan uang.

Ia hanya mengetuk pintu mereka. Dan terus mengetuk.

Kini, ukuran keberhasilan Romo Carolus mungkin buukan jumlah penghargaan yang terpajang atau banyaknya bangunan yang berdiri. Ukuran itu jauh lebih sederhana. Ada makanan di meja. Ada pekerjaan. Ada sekolah. Ada air bersih. Ada jalan. Dan ada masa depan.

Lebih dari itu, ada kegembiraan. “Agar masyarakat di sana bisa bangun pagi dan menyanyi.”

Kalimat itu mungkin merupakan ringkasan paling indah dari perjalanan hidupnya.

Sebab kesejahteraan bukan hanya soal keluar dari kemiskinan. Kesejahteraan adalah ketika manusia kembali memiliki martabat, kesempatan, rasa aman, dan alasan untuk tersenyum.

Maka kisah Romo Carolus sesungguhnya bukan hanya kisah tentang seorang pastor yang datang dari Dublin. Bukan pula sekadar kisah tentang rawa yang berubah menjadi saawah.

Romo Carolus adalah kisah tentang seseorang yang percaya bahwa tidak ada tempat yang terlalu terpencil untuk diperhatikan, tidak ada kemiskinan yang terlalu berat untuk diperjuangkan, dan tiidak ada perbedaan yang terlalu besar untuk dijembatani.

Ia menyebut dirinya pengemis. Tetapi selama puluhan tahun, “pengemis” itu justru berhasil mengumpulkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada uang: kepercayaan.

Dari kepercayaan lahir gotong royong. Dari gotong royong lahir perubahan. Dan dari perubahan, manusia menemukan kembali harapan.

Pada suatu pagi di Kampung Laut, mungkin seorang petani membuka pintu rumahnya. Di hadapannya terbentang sawah hijau. Ia menarik napas panjang. Lalu tersenyum. Mungkin bahkan menyanyi.

Sebab tanah yang dahulu hanya menyimpan lumpur kini menyimpan kehidupan. Dan jejak sang “pengemis” itu masih ada di sana—bukan pada namanya, melainkan pada orang-orang yang kini mampu berdiri dengan kaki mereka sendiri. (dbs)*

Related Post