Tue. Sep 8th, 2026

Secangkir Jamu Sido Muncul di Tengah Srawung Angkringan

Ilustrasi

SURAKARTA – Selama 12 tahun, Hariani Yuliana menggantungkan hidupnya dari sebuah angkringan di kawasan Alun-alun Surakarta, Jawa Tengah. Setiap hari, gerobak sederhana itu menjadi tempatnya mencari penghasilan sekaligus ruang untuk bertemu banyak orang.

Dari balik gerobak, Hariani menyaksikan bagaimana angkringan menjadi bagian dari keseharian warga. Orang datang untuk makan, minum, atau sekadar duduk melepas penat setelah bekerja. Obrolan ringan mengalir di antara nasi kucing, gorengan, sate usus, teh, dan kopi.

Kini, Hariani ingin menambahkan satu lagi pilihan bagi mereka yang datang: jamu.

Keinginan itu semakin kuat setelah ia mengikuti pelatihan Gerakan 1.000 Angkringan Sido Muncul di Hotel Novotel, Solo, Kamis (3/9/2026). Pelatihan yang digelar PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk tersebut diikuti 100 pelaku angkringan di Surakarta.

Bagi Hariani, jamu bukan sekadar minuman tambahan untuk dijual. Ada kekayaan rempah Indonesia yang menurutnya perlu terus dikenalkan, terutama kepada generasi muda.

“Sudah lama kami mau memperkenalkan kekayaan rempah-rempah Indonesia. Dengan adanya program ini, saya setuju banget karena kita bisa memajukan angkringan kita,” ujarnya.

Upaya konkret Sido Muncul mendekatkan kembali jamu ke kehidupan masyarakat melalui pedagang angkringan.

Di tangan para pedagang seperti Hariani, Sido Muncul melihat angkringan sebagai pintu masuk untuk membawa kembali tradisi minum jamu ke tengah masyarakat.

Tempat nongkrong yang selama ini identik dengan kopi, teh, dan wedang itu diharapkan dapat menjadi ruang baru bagi jamu untuk bertemu dengan anak muda.

Direktur Marketing Sido Muncul Maria Reviani Hidayat mengatakan, gerakan tersebut merupakan bagian dari upaya perusahaan mendekatkan jamu kepada masyarakat sekaligus melestarikan budaya minum jamu yang mulai ditinggalkan.

“Kami lihat budaya minum jamu ini semakin hilang. Jadi, kami ingin melestarikan, ini loh budaya Indonesia,” katanya.

Menurut Maria, kebiasaan masyarakat Surakarta yang gemar nongkrong di angkringan menjadi peluang untuk mengenalkan jamu dengan cara yang lebih dekat dan santai.

“Saat masyarakat pulang kerja atau duduk di angkringan, kami ingin memperkenalkan, ini loh ada jamu. Jadi, selain minum kopi, teh, wedang, sekarang juga ada jamu,” ujarnya.

Namun, membawa jamu ke angkringan tidak cukup hanya dengan menambahkan minuman pada daftar menu. Cara meracik, kebersihan, penyajian, hingga penampilan tempat ikut menentukan apakah jamu bisa diterima oleh konsumen masa kini.

Karena itu, para pedagang mendapat pembekalan mengenai manfaat jamu, bahan-bahan herbal, teknik meracik dan menyajikan jamu, serta standar kebersihan dan sanitasi.

Saryanto, S.Farm., Apt., dari Unit Pelayanan Fungsional Pelayanan Kesehatan Tradisional RSUP Dr. Sardjito Tawangmangu, Yogyakarta, mengatakan jamu berpotensi menjadi bagian dari gaya hidup sehat anak muda.

“Jamu itu aman dan kaya manfaat untuk menjaga kebugaran harian anak muda. Namun, kuncinya ada pada higienitas dan kepastian takaran,” katanya.

Menurut Saryanto, wajah angkringan pun perlu berbenah. Kebersihan tempat, peralatan, penampilan pedagang, hingga cara menampilkan produk dapat mengubah kesan angkringan yang selama ini kerap dianggap kumuh atau sekadar tempat makan pinggir jalan.

Pedagang juga didorong mengenakan celemek, menyediakan tempat cuci tangan, tempat sampah, tisu, serta menjaga kebersihan diri. Pelatihan media sosial turut diberikan agar para pedagang memiliki kemampuan baru untuk mempromosikan dagangan mereka.

Bagi Wempy, pedagang angkringan BTC Solo asal Nusukan, pengetahuan tersebut membuka peluang untuk menambah produk sekaligus penghasilan.

“Dengan adanya jamu ini, kami menambah perbendaharaan ilmu dan produk dan yang pasti menambah keuntungan,” katanya.

Pelatihan di Surakarta merupakan pelaksanaan kedua Gerakan 1.000 Angkringan Sido Muncul. Sebelumnya, program serupa digelar di Yogyakarta pada 2025 dengan melibatkan 100 pedagang angkringan.

Program ini selanjutnya akan berlanjut ke Semarang dan Surabaya, sebagai bagian dari rangkaian perayaan 75 tahun Sido Muncul pada November 2026.

Bagi Hariani, semua itu pada akhirnya kembali kepada gerobak tempat ia menggantungkan hidup. Di sanalah ia berharap jamu tidak sekadar menjadi minuman baru, tetapi juga membuka peluang usaha sekaligus memperkenalkan kembali kekayaan rempah Indonesia.

Mungkin kelak, ketika orang datang ke angkringannya untuk melepas penat, mereka tidak hanya bertanya, “Ada kopi?” Melainkan juga, “Jamu apa yang ada malam ini?” (tD)

Related Post