Sun. Mar 29th, 2026

“Am” dan  “Katolik”: Serupa tapi Tak Sama

Oleh Febry Silaban, Munsyi

Dalam Credo Protestan atau sering disebut “Pengakuan Iman Rasuli”, ada bagian yang menyatakan “aku percaya akan Roh Kudus, Gereja yang kudus dan am, …”. Kata “am” di situ memang sekilas sama artinya dengan “katolik”, yakni sama-sama umum/universal.

Namun, benarkah keduanya identik? Mari kita bedah sedikit sejarah dan maknanya agar iman kita lebih berakar.

Asal-usul Kata “Am”

Kata “am” ini berakar dari bahasa Arab, yang kemudian diserap ke dalam bahasa Melayu klasik dan bahasa Indonesia.

​Akar kata “am” berasal dari bahasa Arab ‘am (عام) yang berarti umum, menyeluruh, atau luas. Kata ini satu akar dengan kata “awam” (orang umum/biasa) dan umum itu sendiri.

​​Bagaimana kata dari bahasa Arab ini bisa masuk ke syahadat Protestan yang dibawa misionaris Belanda?

Gereja-gereja Protestan/Reformed di Belanda menggunakan kata “algemene” dalam Kredo mereka (contoh: De heilige algemene christelijke kerk). Kata ini secara harfiah berarti “umum” atau “universal”.

​Lalu, ketika misionaris Protestan Belanda menerjemahkan Alkitab dan liturgi ke dalam bahasa Melayu (lingua franca saat itu), mereka mencari padanan kata yang paling pas untuk Algemene.

Alih-alih menggunakan kata “Katolik” (yang saat itu sudah identik dengan Gereja Roma) atau menciptakan kata baru, mereka memilih kata “am” yang sudah ada dalam kosakata Melayu saat itu untuk mengekspresikan sifat “umum/universal”.

​Penggunaan istilah “am” ini terus diwariskan secara turun-temurun dalam tradisi Protestan di Indonesia hingga sekarang, sehingga bagi telinga umat Protestan, “Gereja yang Am” terdengar lebih akrab daripada “Gereja yang Katolik”.

Kata “Katolik”

Banyak umat Protestan mungkin merasa ragu mengucapkan kata “Katolik” dalam Credo-nya karena dianggap hanya merujuk pada institusi Gereja Katolik.

Namun, secara etimologis, kata “Katolik” berasal dari bahasa Yunani Katholikos.

​Yang terdiri dari dua kata: kata (menurut/sepanjang) dan holos (keseluruhan/kepenuhan).

Artinya, bukan sekadar “umum” (seperti stasiun umum atau toilet umum), tetapi berarti “sesuai dengan kepenuhan”.

​Para Bapa Gereja (yang juga diakui Protestan) memilih kata “Katholikos” untuk menegaskan bahwa Gereja memegang kepenuhan ajaran Kristus secara utuh, tidak terbagi, dan tersebar di seluruh dunia.

Jejak Credo Protestan di Luar Negeri

​Menariknya, banyak gereja Protestan di luar Indonesia (terutama yang berbahasa Inggris) tetap menggunakan kata “Catholic” dalam pengakuan iman mereka. Mereka tidak merasa kata itu “milik” umat Katolik saja, melainkan milik seluruh umat Kristen sebagai warisan sejarah.

​Sebagai contoh, berikut adalah kutipan Pengakuan Iman Rasuli dari The United Methodist Church dan Anglican Church:

“…I believe in the Holy Spirit, the holy catholic church, the communion of saints…”

​Di sini, kata “catholic” ditulis dengan huruf “c” kecil (bukan kapital “C”) untuk menunjukkan sifat gereja yang universal, bukan merujuk pada organisasi hirarkis tertentu. Jadi, bagi mereka, menjadi “Protestan” dan mengakui Gereja yang “Katolik” (universal) bukanlah sebuah kontradiksi.

Sementara itu, Gereja Lutheran di Amerika biasanya menggunakan variasi: “…the holy Christian church…”

Nuansa Teologis yang Hilang

Mempertahankan istilah asli bukan sekadar masalah bahasa, melainkan tentang menjaga integritas sejarah.

Hal ini mengingatkan kita bahwa iman yang kita ucapkan hari ini adalah iman yang sama yang dirumuskan oleh para martir dan Bapa Gereja di abad-abad awal.

​Penggunaan kata “Am” memang tidak salah secara makna (universal), tapi ia kehilangan kekayaan makna “kepenuhan” yang terkandung dalam kata “Katolik”.

Secara teologis, ada nuansa yang hilang saat dalam credo hanya menggunakan kata “Am”:

Am (umum): menekankan pada aspek jangkauan (gereja ada di mana-mana, untuk siapa saja).

– Katolik (Katholikos): menekankan pada aspek kualitas/kepenuhan. Gereja disebut Katolik bukan hanya karena ia “umum”, tapi karena di dalamnya terdapat “seluruh kebenaran” dan “seluruh sarana keselamatan” yang diberikan Kristus secara utuh.

​Singkatnya, kata “am” adalah jembatan bahasa yang dipilih misionaris Protestan Belanda untuk lebih gampang membumikan konsep universalitas gereja ke dalam budaya lokal tanpa membingungkan jemaat dengan identitas Gereja Katolik pada masa itu.

“… et unam, sanctam, catholicam et apostolicam Ecclesiam”.

Related Post