Thu. Mar 26th, 2026

Celestino Reda, Belajar Tegak Berdiri Setelah Langkah yang Letih di Ibu Kota

Velestino Reda: Selalu percaya pada penyelenggaraan Tuhan

Tahun 2001 bermula seperti perjalanan iseng bagi Celestino Reda—sekadar “main” ke Jakarta, menumpang bus dari Yogyakarta bersama seorang teman.

Celestino bersama istrinya Marice Sitinjak dan Marcel dan Marco buah hati mereka.

Ia datang dengan rasa penasaran khas anak muda: melihat ibu kota, menyerap denyutnya, lalu pulang untuk bercerita. Namun Jakarta ternyata bukan sekadar tempat singgah. Ia menjelma menjadi panggilan.

Sebagai alumnus Institut Pertanian Yogyakarta, Celestino akrab dengan dunia diskusi dan tulisan. Ia pernah memimpin majalah kampus, tulisannya terbit di Suara Pembaruan dan The Jakarta Post.

Tetapi Jakarta menghadirkan bab yang sama sekali berbeda. Gedung-gedung tinggi menjulang, jalanan berdenyut tanpa henti, manusia bergerak cepat seolah mengejar sesuatu yang tak kasatmata. Di tengah itu semua, ia merasa kecil—dan bertanya lirih, “Mampukah saya bertahan di kota ini?”

Pertanyaan itu tak selesai ketika ia kembali ke Yogyakarta. Jakarta terus memanggil—bukan lagi sebagai rasa ingin tahu, melainkan tantangan. Ia pun kembali, kali ini dengan tekad sederhana: menang atau pulang.

Tanpa jaringan, tanpa kepastian, ia mengetuk pintu kesempatan. Seorang teman wartawan mempertemukannya dengan sebuah media. Wawancara singkat, keputusan cepat—ia diterima, langsung bekerja keesokan hari.

Di ruang redaksi kecil, ia belajar bertahan: bertanya, mencari, menyusuri sudut-sudut kota, menemui siapa saja yang bersedia bercerita. Dari sanalah ia mengenal Jakarta bukan sebagai beton dan kemacetan, melainkan sebagai kumpulan manusia dengan harapan dan luka.

Dia menyadari, selain menjadi saluran idealisme, ia juga memandang jalur jurnalistik sebagai etalase karya dan kemampuannya. Baginya medan jurnalistik adalah ruang merawat kata menjadi cahaya. 

Karier jurnalistiknya berkembang—dari media cetak hingga televisi, bahkan menulis skenario anak-anak.

Temukan Cinta Baru

Namun di tengah perjalanan itu, ia menemukan cinta baru: percetakan. Awalnya hanya membantu teman mencari order, tetapi suara mesin, bau tinta, dan lembar-lembar kertas yang lahir rapi memberi kepuasan yang tak ia temukan di tempat lain.

Ia pun mengambil keputusan berani: membeli mesin cetak kecil, menyewa ruang sempit di Galur, Senen, dan memulai usaha—bahkan tanpa nama.

Hari-hari awal tak mudah. Order sepi, uang menipis, sementara kebutuhan terus berjalan. Ironisnya, di tengah keterbatasan itu, ia justru mempekerjakan orang-orang sekitar yang menganggur. Bukan karena mampu, melainkan karena tak tega.

Beban itu akhirnya memuncak. Suatu siang, di bawah terik Jakarta, ia duduk diam di depan usahanya—tanpa cukup uang untuk membayar karyawan. Di titik rapuh itu, ia berdoa.

Bukan doa yang rapi, melainkan jeritan yang jujur. Ia menggenggam iman yang nyaris lepas, mencoba percaya bahwa harapan sekecil biji sesawi pun bisa bertumbuh. Di saat yang sama, dia juga “merengek” kepada Bunda Maria.

Jawaban datang sederhana. Sore itu, seorang perempuan berhenti di depan tempatnya, membawa order cetakan dalam jumlah besar. Bukan kebetulan, pikirnya. Sejak saat itu, ia belajar: berkat sering hadir dalam bentuk yang nyaris tak disadari.

Tetap Mencintai Dunia Gagasan

Perlahan, usahanya tumbuh. Mesin bertambah, karyawan bertambah, kepercayaan datang. Namun yang tak berubah adalah kesadarannya akan akar perjuangan. Ia tetap mencintai dunia gagasan, aktif mendorong generasi muda untuk berani bermimpi dan merantau.

Baginya, kota besar bukan untuk ditakuti, melainkan ditaklukkan—dengan kerja keras dan iman.

Kini, sebagai ayah dua anak, ia melihat hidup dengan jernih: bahwa pendidikan adalah jembatan, dan perjuangan hari ini adalah warisan esok. Iman pun tak lagi sekadar konsep, melainkan pengalaman—terutama saat usaha sepi dan harapan menipis.

Jika ada satu hal yang ia pegang, itu sederhana: jangan berhenti percaya.

Dari perjalanan yang nyaris tak direncanakan, Celestino Reda menemukan sesuatu yang lebih dari sekadar keberhasilan.

Di antara deru mesin dan aroma tinta, ia menemukan kesetiaan Tuhan—yang bekerja diam-diam, lewat pertemuan kecil, kesempatan sederhana, dan keberanian untuk tetap melangkah saat segalanya terasa goyah. (EDL)

Related Post