
JAKARTA – Di bawah langit cerah Jakarta pada 21 April 2026, lonceng iman berdentang penuh syukur. Umat Keuskupan Agung Jakarta, khususnya dari Gereja Katedral Jakarta, merayakan tonggak bersejarah: 125 tahun berdirinya rumah ibadah yang tak sekadar menjadi bangunan, tetapi juga saksi hidup perjalanan iman lintas generasi.
Berdiri anggun dalam balutan arsitektur Neo Gotik, Katedral Jakarta menyimpan kisah dedikasi lintas zaman. Dirancang oleh Pastor Antonius Dijkmans, SJ dan dibangun oleh Marius Hulswit, gereja ini pertama kali ditandai melalui peletakan batu pada 16 Januari 1899 oleh Carolus Wenneker.
Dua tahun kemudian, tepat 21 April 1901, bangunan ini diresmikan oleh Edmundus Sybrandus Luypen, menandai awal perjalanan panjang iman umat Katolik di Batavia—kini Jakarta.
Di bawah perlindungan Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, atau Maria Assumpta, Katedral Jakarta tumbuh menjadi pusat spiritual sekaligus warisan budaya.
Perayaan peresmiannya dahulu bahkan diiringi oleh Paduan Suara Santa Sesilia, sebuah tradisi musik gerejawi yang telah mengakar sejak abad ke-19.
Perayaan 125 tahun ini mencapai puncaknya dalam Misa Syukur yang dipimpin oleh Ignatius Suharyo, didampingi para imam seperti Romo Macarius Maharsono Probho, SJ, Romo Yusup Edi Mulyono, SJ, dan Romo Yohanes Deodatus, SJ.
Liturgi yang khidmat itu kemudian dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng—simbol syukur khas Nusantara—yang menyatukan iman dan budaya dalam satu perayaan.
Semangat pelestarian juga menjadi sorotan utama. Pembukaan pameran fotografi bertema “Upaya Pelestarian yang Berkelanjutan” menghadirkan wajah Katedral Jakarta dalam realitas kekiniannya—jujur, apa adanya, sekaligus mengajak publik untuk peduli. Apalagi sejak 2018, gereja ini telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional oleh pemerintah Indonesia.
Rangkaian perayaan berlanjut dengan seminar arsitektur bertajuk Heritage Walk and Talk “Gereja Katedral Jakarta”, yang akan digelar pada 1 Mei 2026.
Menggandeng Ikatan Arsitek Indonesia Cabang Jakarta, acara ini mengangkat Katedral sebagai studi kasus pelestarian warisan yang bertanggung jawab.
Para peserta akan diajak menyusuri keindahan detail Neo Gotik—dari tata ruang, simbolisme, hingga elemen interior—dipandu langsung oleh tim Museum Katedral dan para ahli seperti Gregorius Yori Antar Awal, Dr. Johannes Wibowo, serta perwakilan dari Pusat Data Arsitektur.
Namun perayaan ini bukan hanya tentang masa lalu—melainkan juga arah masa depan. Hal itu tercermin dalam konsep Logo 125 Tahun Katedral Jakarta yang sarat makna teologis dan ekologis.
Berakar pada ayat Injil Yohanes 15:5, logo ini menegaskan relasi mendalam antara Tuhan sebagai pokok anggur dan manusia sebagai ranting yang hidup dari-Nya.
Visual angka “1” yang dihiasi tiga daun hijau melambangkan keutuhan ciptaan sekaligus misteri Tritunggal.
Sementara bentuk tangan yang terinspirasi dari karya Michelangelo, The Creation of Adam, menggambarkan relasi intim antara manusia dan Sang Pencipta—Tuhan yang membimbing, manusia yang merespons dengan tanggung jawab.
Perpaduan warna biru dan hijau mengalir harmonis, merepresentasikan langit, air, dan bumi—serta nilai kesetiaan, kesabaran, dan ketulusan.
Seluruh elemen ini berpuncak pada sebuah pesan sederhana namun mendalam: “Merawat Ciptaan, Menumbuhkan Iman” – Sebuah ajakan reflektif bahwa merawat bumi bukan sekadar tugas ekologis, melainkan bagian dari perjalanan iman itu sendiri. (tD)

