Sat. Mar 21st, 2026

Pesta Perak Cinta Kolonel Gerardus Maliti dan Gretta Yuliana: Ketika Anak Panah dari Weekombaka Melesat Tepat Sasaran di Solo

Kolonel Gerardus Maliti dan Gretta dalam Perayaan Pesta Perak Pernikahan di Pelataran Museum Satria Mandala, Jakarta. Penuh sukacita.

Tak salah jika orang mengatakan bahwa cinta adalah misteri. Ia tidak pernah berjalan lurus, tidak selalu masuk akal, dan sering kali datang dari arah yang tak disangka. Seperti angin yang tak terlihat, tetapi terasa, cinta menemukan jalannya sendiri—menembus jarak, perbedaan, bahkan keraguan.

Begitulah kisah yang terajut dalam hidup Kolonel Gerardus Maliti dan Gretta Yuliana. Tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa seorang pemuda “black sweet” dari Weekombaka, Sumba Barat Daya, akan menautkan hatinya dengan seorang gadis dari Solo—kota yang mungkin sebelumnya hanya nama di peta bagi Gerardus. Namun cinta, seperti kehendak Tuhan, tidak pernah bertanya pada peta.

Perkenalan mereka tidak dimulai dengan tatap muka. Tidak ada jabat tangan pertama, tidak ada senyum yang langsung tertangkap mata. Mereka saling mengenal dari kejauhan, membangun rasa tanpa pernah benar-benar berjumpa. Hingga suatu hari, mereka sepakat untuk bertemu—di Kapel Sin’t Carolus, sebuah tempat sederhana yang kelak menjadi saksi awal kisah besar dalam hidup mereka.

Perjalanan 25 tahun diwarnai bunga dan duri, namun bermakna.

Ada kegugupan yang tak terelakkan. Sebelum berangkat dari tempat masing-masing, Gerard menyebutkan warna baju yang ia kenakan, berharap dikenali. Namun Gretta memilih diam tentang apa yang ia pakai. Di balik diam itu, tersimpan kehati-hatian—dan mungkin sedikit siasat. Ia ingin memastikan bahwa dialah yang terlebih dahulu mengenali, memilih, dan menilai. Jika hatinya tak berkenan, ia bisa pergi tanpa jejak.

Namun rencana tinggal rencana. Ketika akhirnya mata mereka bertemu, ada sesuatu yang tak bisa dijelaskan—sebuah getar yang melampaui logika. Sosok Gerard ternyata menarik hati Gretta. Dan dalam degup jantung yang kian cepat, dua orang yang sebelumnya asing itu mulai menulis kisah mereka bersama.

Perjalanan cinta mereka tidak selalu mulus. Ada keraguan, ada ujian yang kadang terasa sangat keras., bahkan ada kehadiran orang lain yang turut mewarnai cerita. Namun sejak pertemuan pertama itu, ada keyakinan yang tumbuh dalam diri Gerard—sebuah bisikan sunyi yang mengatakan bahwa wanita di hadapannya adalah bagian dari rencana Tuhan bagi hidupnya.

Lanjut atau Bubar

Waktu berjalan, dan cinta mereka pun diuji oleh keputusan besar. Gerard kembali ke Sumba untuk meminta restu orang tua. Sebuah langkah yang tidak ringan, karena di sanalah masa depan mereka dipertaruhkan. Ia telah berjanji: jika restu diberikan, maka pernikahan akan dilangsungkan. Namun jika tidak, maka kisah ini harus berhenti di tengah jalan.

Tuhan ternyata membuka jalan. Tidak ada penolakan. Tidak ada pintu yang tertutup. Dan dari sanalah, harapan berubah menjadi kepastian.

Karin, Raja dan Kaisar menyatakan kasih atas perjalanan Papa Mama mereka.

Pada 15 Maret 2001, di sebuah gereja Katolik di Solo, mereka mengikrarkan janji suci. Bukan sekadar janji antara dua insan, tetapi juga sebuah perjanjian iman—bahwa mereka akan berjalan bersama dalam terang kasih Tuhan, apa pun yang akan mereka hadapi.

Dan benar, perjalanan itu tidak selalu mudah. Ada badai yang hampir menggoyahkan, ada masa-masa yang menegangkan, bahkan nyaris mematahkan. Namun setiap kali mereka hampir jatuh, ada tangan tak terlihat yang menegakkan kembali. Ada kasih yang lebih besar dari sekadar kekuatan manusia—kasih yang setia menopang.

Karena Kasih Tuhan

Dua puluh lima tahun berlalu. Dalam sebuah perayaan sederhana namun penuh makna di Jakarta, di hadapan sahabat-sahabat lama—sesama alumni SMA Anda Luri, Waingapu, Sumba, Gerardus mengungkapkan isi hatinya. Bukan tentang pencapaian, bukan tentang kebanggaan duniawi, melainkan tentang rasa syukur.

Bahwa mereka masih berdiri. Masih bersama. Masih saling menggenggam. Dan dengan penuh keyakinan ia berkata, “Dan kami bisa berdiri di sini karena kasih dan cinta Tuhan kami Yesus Kristus.”

Kalimat itu bukan sekadar ungkapan. Ia adalah kesaksian iman. Bahwa dalam setiap tawa dan air mata, dalam setiap jatuh dan bangkit, Tuhan tidak pernah absen. Dialah yang memulai, dan Dialah yang setia menyertai.

Tuhan yang memulai, Tuhan yang menyertai.

Kini, dua puluh lima tahun pertama telah mereka lewati. Perjalanan masih panjang. Bersama ketiga anak mereka (Karin, Raja dan Kaisar), Gerardus dan Gretta melangkah dengan keyakinan yang sama seperti dahulu—bahwa hidup ini bukan sekadar tentang dua hati yang saling mencintai, tetapi tentang iman yang terus bertumbuh di dalam kasih Tuhan.

Karena pada akhirnya, cinta sejati bukan hanya tentang menemukan satu sama lain. Melainkan tentang tetap bertahan, tetap setia, dan tetap percaya—bahwa di setiap langkah, Tuhan sedang menuntun arah.

Selamat merayakan HUT Perak pernikahan, Kolonel Gerardus Maliti dan Gretta Yuliana. Kiranya kasih yang telah menuntun sejak awal, tetap menjadi cahaya dalam setiap perjalanan yang akan datang.

Ternyata anak panah yang digerakkan oleh Tuhan tidak pernah salah sasaran. Dua puluh lima tahun kedua menanti. (EDL)

Related Post