
Ada momen-momen kecil yang terasa sederhana, namun diam-diam menyentuh sesuatu yang lebih dalam. Seperti ketika Mark Wahlberg dan Jonathan Roumie berdiri berdampingan di Rabu Abu, membagikan senyum yang sama hangatnya, dengan tanda salib yang nyaris serupa di dahi mereka.
Di tengah hiruk-pikuk dunia digital, di mana segala sesuatu bergerak cepat dan sering kali dangkal, dua wajah yang kita kenal itu seolah mengajak kita berhenti sejenak. Bukan untuk membandingkan siapa yang “paling cocok” mengenakan abu, melainkan untuk mengingat makna di baliknya: kita rapuh, kita fana, dan kita membutuhkan rahmat.
Mereka berkumpul untuk mengucapkan “Selamat Rabu Abu” dan mengingatkan, “tetap berdoa,” sembari melanjutkan tantangan doa 40 Hari bersama aplikasi Hallow—sebuah ajakan sederhana yang juga menggandeng banyak hati lain, termasuk sesama aktor seperti Chris Pratt.
Di balik popularitas dan sorotan kamera, ada kerinduan yang sama seperti kita: berjalan lebih dekat dengan Tuhan selama masa Prapaskah.
Kemiripan mereka mungkin membuat kita tersenyum—apakah penggaris benar-benar dipakai untuk menggambar salib yang begitu presisi? Namun justru di situlah keindahannya. Salib yang sama, abu yang sama, doa yang sama—semuanya menghapus sekat perbedaan. Di hadapan Tuhan, kita semua “kembar sehari”: sama-sama mencari, sama-sama berharap, sama-sama belajar setia.
Kiranya senyum mereka bukan sekadar konten yang lewat di linimasa, melainkan pengingat lembut bahwa Prapaskah adalah undangan. Undangan untuk memperlambat langkah, memperdalam doa, dan membiarkan hati dibentuk ulang—agar saat Paskah tiba, kita tidak hanya merayakannya, tetapi sungguh diperbarui olehnya. (Aleteia)

